Bared18's Weblog

perawat bersatulah


KAMAR BERSALIN dan
RAWAT GABUNG

Keberhasilan kehamilan, persalinan, menyusui dan nifas dipengaruhi oleh berbagai faktor
– fisik (gizi, aktifitas, dsb)
– penyakit tertentu (infeksi, penyakit endokrin / metabolik, dsb)
– lingkungan sosial (sikap dan tingkah laku masyarakat, dsb)
– ekonomi (promosi susu formula yang berlebihan, dsb)
– politik (kebijakan pemerintah, dsb)
– emosional (sikap ibu terhadap kehamilan, persalinan dan menyusui).

Rumah sakit merupakan sebuah lembaga di mana orang sakit (termasuk ibu hamil) membutuhkan perawatan baik fisik maupun emosional untuk kembali sehat seperti semula. Pemeriksaan antenatal selama kehamilan tentu dapat dilakukan di klinik / ruang periksa. Namun kamar bersalin dan kamar perawatan ibu dan anak memerlukan perhatian / pemahaman khusus para penyelenggara pelayanan kesehatan, supaya dapat memberikan pelayanan yang baik dan optimal sesuai kebutuhan ibu dan bayinya.

KAMAR BERSALIN
Sesuai program pemerintah, peningkatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya dapat dicapai antara lain dengan peningkatan penggunaan ASI, maka posisi rumah sakit dengan kamar bersalinnya menjadi sangat vital, karena di sinilah pertama kali ibu mengadakan kontak dengan bayinya sesaat setelah dilahirkan. Kalau selama dalam kandungan semua kebutuhan nutrisi janin didapatkan melalui tali pusat, maka di kamar bersalin bayi membutuhkan kontak kembali dengan ibunya, baik untuk kepentingan nutrisi maupun untuk kepentingan lainnya.

Dalam protokol kebidanan, ibu masih harus dirawat di kamar bersalin dua jam setelah melahirkan untuk deteksi dini terjadinya perdarahan post partum yang sangat mengancam jiwa. Pertanyaan yang timbul, ke mana bayi harus diletakkan selama ibu dalam pengawasan intensif untuk menghindari bahaya perdarahan ? Kalau dahulu bayi segera dirawat di kamar bayi, maka sekarang jawabnya adalah bayi diletakkan di samping ibu atau dalam sebuah boks dekat dengan ibu. Dari sinilah sebenarnya rawat gabung mulai dikerjakan.

Struktur dan fungsi kamar bersalin

Kamar bersalin ideal terdiri atas kamar persiapan, kamar bersalin yang sebenarnya dan kamar observasi pasca persalinan (kamar pulih). Di samping itu dapat pula dipisahkan antara kamar untuk kasus septik dan aseptik, kamar tindakan dan non tindakan dan kamar isolasi. Dalam hubungan dengan pengelolaan laktasi, maka adanya tiga ruang yakni kamar persiapan, kamar persalinan dan kamar observasi menduduki peran yang penting.

1. Kamar persiapan
Apabila sebuah rumah sakit telah berfungsi penuh sebagai RS Sayang Bayi, maka hampir semua ibu yang masuk kamar bersalin sudah mendapat penyuluhan manajemen laktasi sejak mereka berada di poliklinik asuhan antenatal. Mereka sudah memperoleh nasihat tentang keunggulan ASI, kerugian susu formula, gizi ibu hamil yang menjamin lancarnya produksi ASI, beberapa cara perawatan payudara dan bagaimana caranya menyusui yang benar. Ibu bersalin yang seperti ini tidak menjadi masalah lagi.

Ada
kalanya, kadang cukup banyak, ibu datang langsung ke kamar bersalin tanpa pernah melakukan asuhan antenatal di rumah sakit tersebut. Kalaupun mereka melakukan asuhan antenatal di tempat lain, mungkin petugas di
sana
juga belum memahami benar pentingnya manajemen laktasi. Ibu yang akan bersalin ini perlu mendapat penyuluhan tentang manajemen laktasi.

Untuk kepentingan ini perlu disiapkan sebuah ruang, di mana ibu hamil yang datang untuk bersalin dapat memperoleh informasi yang jelas tentang penatalaksanaan ASI. Di dalam ruang persiapan ini perlu dipasang beberapa gambar, poster, brosur dan sebagainya, untuk membantu memberi konseling tentang ASI. Di dalam kamar bersalin tidak boleh sama sekali terlihat botol susu, dot atau kempengan, apalagi reklame susu formula yang semuanya akan mengakibatkan gagalnya ibu menyusui. Dalam melakukan rangkaian tugas ini petugas tidak boleh overacting misalnya jangan melakukan konseling pada ibu yang sedang kesakitan. Berilah konseling hanya kepada ibu yang masih kooperatif, yaitu ibu yang belum dalam persalinan atau masih dalam fase laten.

2. Kamar persalinan

Kamar persalinan yang sebenarnya adalah kamar untuk ibu yang sudah dalam kala 1 fase aktif atau kala 2 persalinan. Pada saat ini seorang ibu hamil berada dalam kondisi yang paling tidak menyenangkan, karena berada dalam puncak rasa sakitnya. Tidak banyak yang dapat dilakukan oleh petugas dalam hal konseling manajemen laktasi, karena sulit bagi ibu untuk diajak berkomunikasi, kecuali tentang hal-hal yang menyangkut proses persalinan. Meskipun demikian, gambar atau poster tentang cara menyusui yang baik dan benar, serta menyusui segera sesudah lahir, dapat dipasang di ruangan ini.

Dalam waktu 30 menit setelah lahir, bayi harus segera disusukan. Beberapa pendapat mengatakan bahwa rangsangan putting susu akan mempercepat lahirnya plasenta melalui pelepasan oksitosin, yang dapat mengurangi risiko perdarahan postpartum. Rangsangan putting susu memacu refleks prolaktin dan oksitosin, dua refleks penting yang dibutuhkan dalam proses menyusui. Meskipun ASI belum keluar, kontak fisik bayi dengan ibu tetap harus dikerjakan karena memberikan rasa kepuasan psikologis yang dibutuhkan ibu agar proses menyusui berjalan lancar.

Penyusuan dini dikerjakan pada bayi normal, yaitu bayi lahir dengan nilai Apgar 5 menit di atas 7 dan refleks mengisap baik. Bayi lahir dengan asfiksia dan bayi dengan cacat

bawaan sebaiknya tidak segera disusukan kepada ibunya.

Bila ibu mendapat pembiusan umum, misalnya untuk persalinan dengan sectio cesarea, penyusuan dilakukan segera setelah ibu sadar penuh, misalnya 4-6 jam setelah operasi. Pada keadaan ini efek pembiusan pada ibu dan bayi telah berkurang, sehingga refleks mengisap bayi telah timbul kembali. Penyusuan pasca operasi memerlukan pertolongan petugas untuk membantu ibu memegang bayi, membetulkan posisi ibu, dan sebagainya. Bayi yang lahir dengan tindakan vakum atau forcep, sering disertai dengan trauma kepala, sehingga tidak jarang juga mengalami asfiksia. Meskipun demikian penyusuan dapat segera dimulai dengan bantuan petugas.

3. Kamar pulih

Selama dua jam ibu dalam observasi kala 4, ibu ditempatkan dalam suatu kamar pulih. Bayi diletakkan di samping ibu atau dalam sebuah boks yang dapat dilihat ibu. Sebaiknya diusahakan agar di kamar pulih ibu tidak terganggu oleh kegaduhan yang biasanya terjadi di kamar persalinan. Rasa tenteram ibu merupakan modal keberhasilan menyusui selanjutnya

RAWAT GABUNG

Banyak rumahsakit, puskesmas, klinik dan rumah bersalin yang belum merawat bayi baru lahir berdekatan dengan ibunya. Berbagai alasan diajukan antara lain karena rasa kasihan karena ibu masih capai setelah melahirkan, ibu memerlukan istirahat, atau ibu belum mampu merawat bayinya sendiri.

Ada
pula kekuatiran bahwa pada jam kunjungan, bayi mudah tertular penyakit yang mungkin dibawa oleh para pengunjung. Alasan lain adalah rumahsakit / klinik ingin memberikan pelayanan sebaik-baiknya sehingga ibu bisa beristirahat selama berada di rumah sakit. Namun setelah menyadari akan keuntungannya, sistem rawat gabung sekarang menjadi kebijakan pemerintah.

Pengertian dan tujuan

Rawat gabung adalah satu cara perawatan di mana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya.

Tujuan rawat gabung adalah :

1. Agar ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin, kapan saja dibutuhkan.

2. Agar ibu dapat melihat dan memahami cara perawatan bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh petugas.

3. Agar ibu mempunyai pengalaman dalam merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di rumah sakit dan yang lebih penting lagi, ibu memperoleh bekal ketrampilan merawat bayi serta menjalankannya setelah pulang dari rumah sakit.

4. Dalam perawatan gabung, suami dan keluarga dapat dilibatkan secara aktif untuk mendukung dan membantu ibu dalam menyusui dan merawat bayinya secara baik dan benar.

5. Ibu mendapatkan kehangatan emosional karena ibu dapat selalu kontak dengan buah hati yang sangat dicintainya, demikian pula sebaliknya bayi dengan ibunya.

SASARAN DAN SYARAT

Pada prinsipnya kegiatan Peningkatan Penggunaan ASI (PP-ASI) dimulai sejak ibu hamil pertama kali memeriksakan diri di poliklinik asuhan antenatal. Idealnya di poliklinik ini tersedia sebuah klinik laktasi, yang terdiri atas dua ruangan yaitu klinik laktasi asuhan antenatal dan postnatal.

Kegiatan rawat gabung dimulai sejak ibu bersalin di kamar bersalin dan di bangsal perawatan pasca persalinan. Meskipun demikian penyuluhan tentang manfaat dan pentingnya rawat gabung sudah dimulai sejak ibu pertama kali memeriksakan kehamilannya di poliklinik asuhan antenatal.

Tidak semua bayi atau ibu dapat segera dirawat gabung. Bayi dan ibu yang dapat dirawat gabung harus memenuhi syarat / kriteria sebagai berikut :
Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong.
Bila lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi cukup sehat, refleks mengisap baik, tidak ada tanda infeksi dsb.
Bayi yang lahir dengan sectio cesarea dengan anestesia umum, rawat gabung dilakukan segera setelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk), misalnya 4-6 jam setelah operasi selesai. Bayi tetap disusukan meskipun mungkin ibu masih mendapat infus.
Bayi tidak asfiksia setelah

lima
menit pertama (nilai Apgar minimal 7).
Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.

6. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih.

7. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum.

8. Bayi dan ibu sehat.

Jika tidak memenuhi kriteria di atas, maka rawat gabung ibu dan bayi TIDAK perlu, atau bahkan tidak boleh dikerjakan, misalnya pada :
Bayi yang sangat prematur.

2. Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram.

3. Bayi dengan sepsis.

4. Bayi dengan gangguan napas.

5. Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya : hidrosefalus, meningokel, anensefali, atresia ani, labio/palato/gnatoschizis, omfalokel, dsb.);

6. Ibu dengan infeksi berat, misalnya KP terbuka, sepsis, dsb.

Kriteria-kriteria masih ditentukan juga oleh beberapa aspek pertimbangan klinis, misalnya bayi dengan berat badan 2000-2500 gram meskipun keadaan lain-lainnya dalam batas normal, perawatan gabungnya harus dengan pengawasan yang sangat ketat.
Sebaiknya keputusan apakah bayi akan dirawat gabung atau dirawat pisah ditentukan oleh dokter anak bersama dengan dokter kebidanan.

Manfaat rawat gabung

Manfaat dan keuntungan rawat gabung ditinjau dari berbagai aspek sesuai dengan tujuannya, adalah sebagai berikut :
Aspek fisik.

Bila ibu dekat dengan bayinya, maka ibu dapat dengan mudah menjangkau bayinya untuk melakukan perawatan sendiri dan menyusui setiap saat, kapan saja bayinya menginginkan (nir-jadwal). Dengan perawatan sendiri dan menyusui sedini mungkin, akan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi silang dari pasien lain atau petugas kesehatan. Dengan menyusui dini maka ASI jolong atau kolostrum dapat memberikan kekebalan / antibodi yang sangat berharga bagi bayi. Karena ibu setiap saat dapat melihat bayinya, maka ibu dengan mudah dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada bayinya yang mungkin berhubungan dengan kesehatannya.

2. Aspek fisiologis.

Bila ibu dekat dengan bayinya, maka bayi akan segera disusui dan frekuensinya lebih sering. Proses ini merupakan proses fisiologis yang alami, di mana bayi mendapat nutrisi alami yang paling sesuai dan baik. Untuk ibu, dengan menyusui maka akan timbul refleks oksitosin yang akan membantu proses fisiologis involusi rahim. Di samping itu akan timbul refleks prolaktin yang akan memacu proses produksi ASI. Efek menyusui dalam usaha menjarangkan kelahiran telah banyak dipelajari di banyak negara berkembang. Secara umum seorang ibu akan terlindung dari kesuburan sepanjang ia masih menyusui dan belum haid, khususnya bila frekuensi menyusui lebih sering dan sama sekali tidak menggunakan pengganti ASI (menyusui secara eksklusif). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa daya proteksi menyusui eksklusif terhadap usaha KB tidak kalah dengan alat KB yang lain.

3.Aspek psikologis

Dengan rawat gabung maka antara ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant-mother bonding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Dengan pemberian ASI kapan saja bayi membutuhkan, akan memberikan kepuasan pada ibu bahwa ia dapat berfungsi sebagaimana seorang ibu memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayinya, di samping merasa dirinya sangat dibutuhkan oleh bayinya dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini akan memperlancar produksi ASI karena seperti telah diketahui, refleks let-down bersifat psikosomatis. Sebaliknya bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, merupakan dasar bagi terbentuknya rasa percaya pada diri anak. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila suaminya berkunjung, akan terasa adanya suatu ikatan kesatuan keluarga.

4. Aspek edukatif.

Dengan rawat gabung, ibu (terutama yang baru mempunyai anak pertama) akan mempunyai pengalam yang berguna, sehingga mampu menyusui serta merawat bayinya bila pulang dari rumah sakit. Selama di rumah sakit ibu akan melihat, belajar dan mendapat bimbingan bagaimana cara menyusui secara benar, bagaimana cara merawat payudara, merawat tali pusat, memandikan bayi dsb. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi modal bagi ibu untuk merawat bayi dan dirinya sendiri setelah pulang dari rumah sakit. Di samping pendidikan bagi ibu, dapat juga dipakai sebagai sarana pendidikan bagi keluarga, terutama suami, dengan cara mengajarkan suami dalam membantu istri untuk proses di atas. Suami akan termotivasi untuk memberi dorongan moral bagi istrinya agar mau menyusui bayinya. Jangan sampai terjadi seorang suami melarang istrinya menyusui bayinya karena suami takut payudara istrinya akan menjadi jelek. Bentuk payudara akan berubah karena usia adalah hal alami, meskipun dengan menggunakan kutang penyangga yang baik, ditambah dengan nutrisi yang baik, dan latihan otot-otot dada serta menerapkan posisi yang benar, ketakutan mengendornya payudara dapat dikurangi.

5. Aspek ekonomi

Dengan rawat gabung maka pemberian ASI dapat dilakukan sedini mungkin. Bagi rumah bersalin terutama rumah sakit pemerintah, hal tersebut merupakan suatu penghematan anggaran pengeluaran untuk pembelian susu formula, botol susu, dot serta peralatan lain yang dibutuhkan. Beban perawat menjadi lebih ringan karena ibu berperan besar dalam merawat bayinya sendiri, sehingga waktu terluang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain. Lama perawatan ibu menjadi lebih pendek karena involusi rahim terjadi lebih cepat dan memungkinkan tempat tidur digunakan untuk penderita lain. Demikian pula infeksi nosokomial dapat dicegah atau dikurangi, berarti penghematan biaya bagi rumahsakit maupun keluarga ibu. Bagi ibu juga penghematan oleh karena lama perawatan menjadi singkat.

6. Aspek medis

Dengan pelaksanaan rawat gabung maka akan menurunkan terjadinya infeksi nosokomial pada bayi serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan rawat gabung
Keberhasilan rawat gabung yang mendukung peningkatan penggunaan ASI dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain sosial-budaya, ekonomi, tatalaksana rumahsakit, sikap petugas, pengetahuan ibu, lingkungan keluarga, adanya kelompok pendukung peningkatan penggunaan ASI (KP-ASI) dan peraturan tentang peningkatan ASI atau pemasaran susu formula.
1. Peranan sosial budaya

Kemajuan teknologi, perkembangan industri, urbanisasi dan pengaruh kebudayaan Barat menyebabkan pergeseran nilai sosial budaya masyarakat. Memberi susu formula dianggap modern karena memberi ibu kedudukan yang sama dengan dengan ibu-ibu golongan atas. Ketakutan akan mengendornya payudara menyebabkan ibu enggan menyusui bayinya.

Bagi ibu yang sibuk dengan urusan di luar rumah, sebagai wanita karir atau isteri seorang pejabat yang selalu dituntun mendampingi kegiatan suami, hal ini dapat menghambat usaha peningkatan penggunaan ASI. Sebagian ibu tersebut pada umumnya berasal dari golongan menengah-atas cenderung untuk memilih susu formula daripada menyusui bayinya. Jika tidak mungkin membagi waktu, seyogyanya hanya ibu yang sudah tidak menyusui saja yang boleh dibebani tugas sampingan di luar rumah. Dalam hal ini peranan suami atau instansi di mana suami bekerja sebaiknya memahami betul peranan ASI bagi perkembangan bayi.

Iklan menarik melalui media

massa
serta pemasaran susu formula dapat mempengaruhi ibu untuk enggan memberikan ASI nya. Apalagi iklan yang menyesatkan seolah-olah dengan teknologi yang supercanggih dapat membuat susu formula sebaik dan semutu susu ibu, atau bahkan lebih baik daripada susu ibu. Adanya kandungan suatu nutrien yang lebih tinggi dalam susu formula dibanding dalam ASI bukan jaminan bahwa susu tersebut sebaik susu ibu apalagi lebih baik. Komposisi nutrien yang seimbang dan adanya zat antibodi spesifik dalam ASI menjamin ASI tetap lebih unggul dibanding susu formula.

2. Faktor ekonomi.

Seperti disebutkan di atas, beberapa wanita memilih bekerja di luar rumah. Bagi wanita karir, hal ini dilakukan bukan karena tuntutan ekonomi, melainkan karena status, prestise, atau memang dirinya dibutuhkan. Pada sebagian kasus lain, ibu bekerja di luar rumah semata karena tekanan ekonomi, di mana penghasilan suami dirasa belum dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Gaji pegawai negeri yang relatif rendah dapat dipakai sebagai alasan utama istri ikut membantu mencari nafkah dengan bekerja di luar rumah. Memang tidak ada yang perlu disalahkan dalam masalah ini.

Dengan bekerja di luar rumah, ibu tidak dapat berhubungan penuh dengan bayinya. Akhirnya ibu cenderung memberikan susu formula dengan botol. Bila bayi telah mengenal dot/botol maka ia akan cenderung memilih botol. Dengan demikian frekuensi penyusuan akan berkurang dan menyebabkan produksi menurun. Keadaan ini selanjutnya mendorong ibu untuk menghentikan pemberian ASI, tidak jarang terjadi sewaktu masa cutinya belum habis. Ibu perlu didukung untuk memberi ASI penuh pada bayinya dan tetap berusaha untuk menyusui ketika ibu telah kembali bekerja.
Motivasi untuk tetap memberikan ASI meskipun ibu harus berpisah dengan bayinya adalah faktor utama dalam keberhasilan ibu untuk mempertahankan penyusuannya. Pendirian tempat penitipan bayi dekat / di tempat ibu bekerja merupakan hal yang sangat penting.

3. Peranan tatalaksana rumahsakit / rumah bersalin.

Peranan tatalaksana atau kebijakan rumah sakit / rumah bersalin sangat penting mengingat kini banyak ibu yang lebih menginginkan melahirkan di pelayanan kesehatan yang lebih baik. Tatalaksana rumah sakit yang tidak menunjang keberhasilan menyusui harus dihindari, seperti :

– bayi dipuasakan beberapa hari, padahal refleks isap bayi paling kuat adalah pada jam-jam pertama sesudah lahir. Rangsangan payudara dini akan mempercepat timbulnya refleks prolaktin dan mempercepat produksi ASI.

– memberikan makanan pre-lakteal, yang membuat hilangnya rasa haus sehingga bayi enggan menetek.

– memisahkan bayi dari ibunya. Tidak adanya sarana rawat gabung menyebabkan ibu tidak dapat menyusui bayinya nir-jadwal.

– menimbang bayi sebelum dan sesudah menyusui, dan jika pertambahan berat badan tidak sesuai dengan harapan maka bayi diberi susu formula. Hal ini dapat menimbulkan rasa kuatir pada ibu yang memperngaruhi produksi ASI.

– penggunaan obat-obatan selama proses persalinan, seperti obat penenang, atau preparat ergot, yang dapat menghambat permulaan laktasi. Rasa sakit akibat episiotomi atau robekan jalan lahir dapat mengganggu pemberian ASI.

– Pemberian sampel susu formula harus dihilangkan karena akan membuat ibu salah sangka dan menganggap bahwa susu formula sama baik bahkan lebih baik daripada ASI.

Dalam hal ini perlu kiranya dibentuk klinik laktasi yang berfungsi sebagai tempat ibu berkonsultasi bila mengalami kesulitan dalam menyusui. Tidak kalah pentingnya ialah sikap dan pengetahuan petugas kesehatan, karena walaupun tatalaksana rumah sakit sudah baik bila sikap dan pengetahuan petugas masih belum optimal maka hasilnya tidak akan memuaskan.

4. Faktor-faktor dalam diri ibu sendiri

Beberapa keadaan ibu yang mempengaruhi laktasi adalah :

– keadaan gizi ibu

Kebutuhan tambahan kalori dan nutrien diperlukan sejak hamil. Sebagian kalori ditimbun untuk persiapan produksi ASI. Seorang ibu hamil dan menyusui perlu mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup dan seimbang agar kuantitas dan kualitas ASI terpenuhi. Dengan demikian diharapkan bayi dapat tumbuh kembang secara optimal selama 4 bulan pertama hanya dengan ASI (menyusui secara eksklusif).

– pengalaman / sikap ibu terhadap menyusui

Ibu yang berhasil menyusui anak sebelumnya, dengan pengetahuan dan pengalaman cara pemberian ASI secara baik dan benar akan menunjang laktasi berikutnya. Sebaliknya, kegagalan menyusui di masa lalu akan mempengaruhi pula sikap seorang ibu terhadap penyusuan sekarang. Dalam hal ini perlu ditumbuhkan motivasi dalam dirinya secara sukarela dan penuh rasa percaya diri mampu menyusui bayinya. Pengalaman masa kanak-kanak, pengetahuan tentang ASI, nasihat, penyuluhan, bacaan, pandangan dan nilai yang berlaku di masyarakat akan membentuk sikap ibu yang positif terhadap masalah menyusui.

– keadaan emosi

Gangguan emosional, kecemasan, stress fisik dan psikis akan mempengaruhi produksii ASI. Seorang ibu yang masih harus menyelesaikan kuliah, ujian, dsb., tidak jarang mengalami ASI nya tidak dapat keluar. Sebaliknya, suasana rumah dan keluarga yang tenang, bahagia, penuh dukungan dari anggota keluarga yang lain (terutama suami), akan membantu menunjang keberhasilan menyusui. Demikian pula lingkungan kerja akan berpengaruh ke arah positif, atau sebaliknya.

– keadaan payudara

Besar kecil dan bentuk payudara TIDAK mempengaruhi produksi ASI. Tidak ada jaminan bahwa payudara besar akan menghasilkan lebih banyak ASI atau payudara kecil menghasilkan lebih sedikit. Produksi ASI lebih banyak ditentukan oleh faktor nutrisi, frekuensi pengisapan putting dan faktor emosi. Sehubungan dengan payudara, yang penting mendapat perhatian adalah keadaan putting. Putting harus disiapkan agar lentur dan menjulur, sehingga mudah ditangkap oleh mulut bayi. Dengan putting yang baik, putting tidak mudah lecet, refleks mengisap menjadi lebih baik, dan produksi ASI menjadi lebih baik juga.

– peran masyarakat dan pemerintah

Keberhasilan laktasi merupakan proses belajar-mengajar. Diperlukan kelompok dalam masyarakat di luar petugas kesehatann yang secara sukarela memberikan bimbingan untuk peningkatan penggunaan ASI. Kelompok ini dapat diberi nama Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI), yang dapat memanfaatkan kegiatan posyandu dengan membuat semacam pojok ASI.
Kebijakan-kebijakan pemerintah RI sehubungan penggunaan ASI

1. Inpres no.14 / 1975

Menko Kesra selaku koordinator pelaksana menetapkan bahwa salah satu program dalam usaha perbaikan gizi adalah peningkatan penggunaan ASI.
Permenkes no.240 / 1985

Melarang produsen susu formula untuk mencantumkan kalimat-kalimat promosi produknya yang memberikan kesan bahwa produk tersebut setara atau lebih baik mutunya daripada ASI.
Permenkes no.76 / 1975

Mengharuskan produsen susu kental manis (SKM) untuk mencantumkan pada label produknya bahwa SKM tidak cocok untuk bayi, dengan warna tulisan merah dan cukup mencolok.
Melarang promosi susu formula yang dimaksudkan sebagai ASI di semua sarana pelayanan kesehatan.
Menganjurkan menyusui secara eksklusif sampai bayi berumur 4-6 bulan dan menganjurkan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun.
Melaksanakan rawat gabung di tempat persalinan milik pemerintah maupun swasta.
Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam hal PP-ASI sehingga petugas tersebut terampil dalam melaksanakan penyuluhan pada masyarakat luas.
Pencanangan Peningkatan Penggunaan ASI oleh Bapak Presiden secara nasional pada peringatan Hari Ibu ke-62 (22 Desember 1990).
Upaya penerapan 10 langkah untuk berhasilnya menyusui di semua rumah sakit, rumah bersalin dan puskesmas dengan tempat tidur.

Pelaksanaan rawat gabung dan kegiatan penunjangnya

Dalam rawat gabung bayi ditempatkan bersama ibunya dalam suatu ruangan sedemikian rupa sehingga ibu dapat melihat dan menjangkaunya kapan saja bayi atau ibu membutuhkannya. Bayi dapat diletakkan di tempat tidur bersama ibunya, atau dalam boks di samping tempat tidur ibu. Modifikasi lain dengan membuat sebuah boks yang ditempatkan di atas tempat tidur di sebelah ujung kaki ibu. Yang penting ibu harus bisa melihat dan mengawasi bayinya, apakah ia menangis karena lapar, kencing, digigit nyamuk dsb. Tangis bayi merupakan rangsangan sendiri bagi ibu untuk membantu produksi ASI.

Perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi dan dapat mengenali keadaan-keadaan abnormal, kemudian melaporkannya kepada dokter. Bayi kuning sering merupakan masalah bagi ibu meskipun sebenarnya keadaan ini seringkali masih dalam batas fisiologis.

Dokter (terutama dokter anak dan kebidanan) mengadakan kunjungan sekurang-kurangnya sekali dalam sehari. Dokter harus memperhatikan keadaan ibu maupun bayi, terutama yang berhubungan dengan masalah menyusui. Perlu diperhatikan apakah ASI sudah keluar, adakah pembengkakan payudara, bagaimana putingnya, adakah rasa sakit yang mengganggu saat menyusui, dsb. Demikian pula dengan bayinya, apakah sudah dapat mengisap, kuat atau tidak, rewel atau tidak, apakah muntah, mencret dsb.

Ibu menyusui sewaktu-waktu sesuai dengan keinginan bayi. Tidak dikenal lagi penjadwalan dalam memberikan ASI kepada bayi.

Perawat harus membantu ibu untuk merawat payudara, menyusui, menyendawakan dan merawat bayi secara benar. Bila bayi sakit / perlu diobservasi lebih lanjut, bayi dipindah ke ruang rawat bayi baru lahir (neonatologi). Bayi akan memperoleh perawatan lebih intensif, meskipun bukan berarti ASI tidak diberikan. ASI tetap diberikan dengan cara ibu berkunjung, atau ASI diperas dan diberikan dengan sendok.

Bila ibu dan bayi sudah diperbolehkan pulang, diberikan penyuluhan lagi tentang cara merawat bayi, payudara dan cara meneteki yang benar sehingga ibu di rumah terampil melakukan rawat gabung serta cara mempertahankan meneteki sekalipun ibu harus berpisah dengan bayinya. Harus ditekankan bahwa bayi tidak boleh diberi dot / kempengan. Selanjutnya perawat mengumpulkan data ibu dan bayi dalam sebuah lembar catatan medik yang sudah disiapkan.

Praktek rawat gabung

A. Cara memandikan bayi

– siapkan alat-alat

– cuci tangan sebelum dan sesudah memandikan bayi.

– bayi diletakkan telentang di atas tempat tidur / meja dengan alas perlak dan handuk.

– muka dan telinga dibersihkan dengan kain (waslap) basah kemudian dikeringkan dengan handuk.

– seluruh tubuh bayi disabun dengan menggunakan waslap yang telah diolesi sabun (leher, dada, perut, lipatan ketiak, kedua tangan / lengan, kedua kaki / tungkai, bagian belakang bayi).

– bayi dibersihkan dengan menggunakan kain lap (waslap) basah dalam ember mandi bayi.
– bayi diangkat dan dikeringkan dengan handuk.

– tali pusat ditutup dengan kain kasa yang telah direndam dalam alkohol 70%.

– dada, perut dan punggung diolesi minyak telon, tempat lipatan seperti pangkal paha, ketiak dan leher diberi bedak supaya tidak mudah lecet, dan diberi pakaian.

B. Cara menyusui
– cuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
– ibu duduk atau berbaring santai.
– payudara dipijat / massage supaya lemas.
– tekan areola antara ibu jari dan telunjuk sehingga keluar beberapa tetes ASI. Oleskan ASI tersebut pada putting susu dan areola sekitarnya sebelum menyusui.
– bayi diletakkan di pangkuan bila ibu duduk, dan di sebelah ibu bila ibu tiduran.
– ibu harus memegang payudara dengan posisi ibu jari di atas dan keempat jari lainnya di bagian bawah payudara.
– sebagian besar areola payudara harus berada di dalam mulut bayi.
– setiap payudara harus disusui sampai kosong, kurang lebih 10-15 menit.
– bayi menyusu pada dua payudara bergantian, setelah payudara pertama terasa kosong.
– bila akan melepaskan mulut bayi dari putting susu, masukkan jari kelingking antara mulut bayi dan payudara.
– sesudah selesai menyusui, oleskan ASI pada putting susu dan areola sekitarnya serta biarkan kering oleh udara.
– bayi digendong di bahu ibu atau dipangku tengkurap agar dapat bersendawa.
– periksa keadaan payudara, mungkin ada perlukaan / pecah-pecah atau terbendung.
– bayi menyusu setiap kali membutuhkan, sebagian dengan posisi berubah-ubah.
– pakailah bahan penyerap ASI di balik kutang, di luar waktu menyusui.

C. Cara merawat tali pusat
– siapkan alat-alat.
– cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat.
– tali pusat dibersihkan dengan kain kasa yang dibasahi alkohol 70%.
– setelah bersih, tali pusat dikompres alkohol / povidon iodine 10% (betadine) lalu dibungkus dengan kain kasa steril kering.
– setelah tali pusat terlepas / puput, pusar tetap dikompres dengan alkohol / povidon iodine 10% sampai kering.

boy antoni putra 19 juli 2008

July 18, 2008 |

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 TINJAUAN TEORITIS 2.1.1 Karakteristik Orang tua Karakteristik adalah kemampuan untuk memadukan nilai-nilai yang menjadi filosofi atau pandangan yang utuh, memperhatikan komitmen yang teguh dan responden yang konsisten terhadap nilai-nilai itu dengan menggenerasikan pengalaman tertentu menjadi satu sistem nilai (Notoadmodjo, 2003). Karakteristik adalah satu aspek kepribadian yang menggambarkan suatu susanan bathin manusia yang nampak pada kelakuan dan perbuatan (Purwanto, 2000) Badan Pusat Statistik Nasional (2007) membagi karakteristik untuk keluarga (rumah tangga) ditinjau berdasarkan survey khusus konsumsi yaitu: nama, pendidikan KK, lapangan usaha/pekerjaan, pendapatan KK. 2.1.1.1 Umur orang tua Perlakuan salah pada anak juga dipengaruhi oleh usia dari orang tua anak tersebut. Dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa semakin matang usia orang tua dalam berkeluarga semakin sedikit terjadinya resiko prilaku kekerasan pada anak, dan semakin kecil / muda usia orang tua dalam berkeluarga semakin besar terjadi resiko prilaku kekerasan pada anak. Huraerah, (2006) mengatakan, salah satu faktor orang tua penyebab perilaku kekerasan adalah belum mencapai kematangan fisik, emosi maupun sosial, terutama mereka yang mempunyai anak sebelum usia 20 tahun. 2.1.1.2 Tingkat pendidikan Pendidikan adalah bimbingan yangtelah diberikan seseorang kepada perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi, seperti hal-hal yang dapat menunjang kesehatan hidup. Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. Hal ini berdampak semakin banyak ilmu yang diketahuinya semakin kurang pula terjadinya perilaku kekerasan pada anak, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diketahuinya. 2.1.1.3 Ekonomi Beberapa ahli beranggapan bahwa faktor sosio ekonomi merupakan penyebab utama terjadinya penganiayaan pada anak. Anggapan ini didasari oleh data yang menunjukkan bahwa terjadinya prilaku kekerasan pada anak sering terjadi pada keluarga dengan ekonomi rendah. Namun hal ini juga didukung oleh faktor-faktor lain, karena tidak semua prilaku kekerasan terjadi pada keluarga yang ekonomi rendah, prilaku kekerasan juga terjadi pada golongan ekonomi tinggi. 2.1.1.4 Lingkungan Pengaruh lingkungan pada individu meliputi 2 sasaran, yaitu : 2.1.1.4.1 Lingkungan membuat Individu Sebagai Makhluk Sosial Dalam kehidupan bermasyarakat tidak terlepas dari hubungan bermasyarakat. Keluarga hidup selalu membutuhkan orang lain, hal ini disebut sebagai “Makhluk Sosial”, karena itu keluarga yang bertempat tinggal dilingkungan yang rawan terjadinya tindakan kekerasan akan berdampak pada keluarga tersebut secara tidak disadari. Hal ini sulit dipisahkan karena kondisi keluarga dan lingkungan akan mempengaruhi orang tua dalam bersikap. Namun sebaliknya hal ini dapat dicegah dengan adanya antipasi oleh orang tua dari indikasi negatif lingkungan tersebut. 2.1.1.4.2 Lingkungan membuat Wajah dan Budaya Bagi Individu Adanya pengaruh lingkungan terhadap prilaku manusia, yang menjadikan manusia sebagai makhluk sosial yang selalu bergaul / berinteraksi dengan lainnya. Peran lingkungan pada individu adalah sebagai berikut A. Lingkungan sebagai alat individu untuk kepentingan individu, alat untuk melangsungkan kehidupan individu dan alat untuk kepentingan dalam pergaulan sosial. B. Lingkungan sebagai tatanan bagi individu Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan prilaku individu karena lingkungan itu dapatmerupakan kawan atau lawan / tantangn bagi individu tersebut. C. Lingkungan sebagai sesuatu yang harus diikuti Sifat manusia senantiasa ingin mengetahui sesuatu dan mencoba sesuatu dalam batas-batas kemampuannya, lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan daya tarik kepada individu untuk mengikutinya. D. Lingkungan sebagai objek penyesuaian diri bagi individu Lingkungan mempengaruhi individu, sehingga ia berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan tersebut. 2.1.2 Konsep Perilaku Perilaku adalah aksi, sesuatu yang dilakukan orang. Perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon) seseorang, (Notoadmodjo, 1998). Perilaku merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang merupakan hasil akhir jalinan dan dimana terjadi saling mempengaruhi antara berbagai macam kemampuan jiwa yang jarang berdiri sendiri. Perilaku merupakan konsep yang tidak sederhana, sesuatu yang komplek yakni suatu pengorganisasian proses psikologis oleh seseorang yang memberikan predisposisi untukmelakukan responsi menurut cara tertentu terhadap suatu objek (Notoadmodjo, 2005) 2.1.2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua yakni faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern mencakup : pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi yang berfungsi mengolah rangsangan dari luar. Faktor ekstern meliputi : lingkungan sekitarnya baik fisik maupun non fisik seperti iklim, manusia, sosial dan ekonomi. Perilaku manusia berasal dari dorongan yangada didalam diri manusia, sedangkan dorongan itu untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Perilaku mempunyai arti yangkongkrit dapat dikenal jiwa seseorang, perilaku timbul karena dorongan dalam rangka pemenuhan kebutuhan (Purwanto, 1999). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat pentinguntuk terbentuknya tindakan seseorang, karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku didasari oleh pengetahun. Rogert (1974) mengungkapkan bahwa sebelum mengadopsi perilakubaru didalam diri individu tersebut terjadi proses berurutan yaitu : a. Awarnes (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu stimulus (objek). b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. c. Evaluation (menimbang) terhadap baik atau tidaknya stimulus terhadap dirinya. d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki stimulus. e. Adaption, dimana subjek telah berprilaku baru dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap stimulus. Yang termasuk perilaku ; A. Pengetahuan 1. Pengertian Adalah hasil “tahu” dan ini terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu(Notoadmodjo, 1997). 2. Tingkat Pengetahuan Pengetahuan terdiri dari tiga domain kognitif, domain afektif dan domain psikomotor (Susan and Bastabel,2002). B. Sikap 1. Pengertian Sikap atau tanggapan merupakan suatu kesilapan reaksi atau respon yangmasih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak belum merupakan suatu tidnakan atau aktifitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku (Notoadmodjo, 1997). 2. Tingkatan Sikap a. Menerima (receving) Menerima diartikan bahwa orang mau menerima dan memperhatikan stimulus yang diberikan. b. Merespon Memberikan jawaban, mengerjakan yang diberikan adalah indikasi dari sikap c. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain mengerjakan atau mediskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah. d. Bertanggung jawab Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih dengan segala resiko. C. Tindakan 1. Pengertian Tindakan merupaka respon lebih lanjut seseorang terhadap stimulus / objek. 2. Tingkatan Tindakan a. Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil. b. Respon (Respons) Melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar. c. Mekanisme (Mecanisme) Apabila telah melakukan dengan benar, otomatis menjadi kebiasaan. d. Adaptasi (Adaptation) Merupakan suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. 2.1.2.2 Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayan kesehatan, makanan serta lingkungan (Notoadmodjo,2003). Batasan ini mempunyai dua unsur pokok, yakni respons dan stimulus atau peragsang. Respons atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi dan sikap), maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau practice). Sedangkan stimulus atau rangsangan disini terdiri empat unsur pokok yakni: sakit dan penyakit, sistem pelayan kesehatan dan lingkungan. 1. Perilaku terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia berespon, baik secara pasif (mengetahui, berikap dan mempersepsi penyakit dan sakit pada dirinya dan luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukansehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit, yakni : a. Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion behavior). b. Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior). c. Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeking behavior). d. Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior). 2. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan, adalah respons seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. Perilaku ini menyangkut respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat-obatannya yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan penggunaan fasilitas, petugas dan obat-obatan. 3. Perilaku terhadap makanan (nutrion behavior), yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bago kehidupan. Perilaku ini meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya (zat gizi), pengelolaan makanan, dan sebagainya sehubungan dengan kebutuhan tubuh kita. 4. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environment health behavior) adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri. Menurut lawrence W. Green, perilaku kesehatan dipengaruhi tiga faktor, yakni : faktor predisposisi, yang berwujud dalam pengetahuan, pendidikan, tingkat ekonomi keluarga, umur dan pekerjaan. Faktor pendukung yang berwujud dalam lingkungan fisik (tersedia/tidaknya fasilitas kesehatan) dan sikap perilaku dari petugas kesehatan dan petugas lainnya (Notoadmodjo, 1997). 2.1.3 Prilaku kekerasan 2.1.3.1 Defenisi Perlakuan salah pada anak adalah segala perlakuan terhadap anak yang akibat-akibatnya mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial, maupun mental (Patilima, 2003). Perlakuan salah tersebut dilakukan oleh orang dewasa – orang tua, guru, aparat dan lain-lain. Child abuse adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya juga penyalahgunaan seksual. Child abuse adalah perlakuan yang dilakukan terhadap anak-anak sampai usia 14-15 tahun perlakuan yang salah ini dapat menimbulkan tekanan emosi seperti ditelantarkan, dimarahi atau ditakut-takuti (Soedjiningsih, 1995). Anak terlantar adalah anak-anak yang karena suatu sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasarnya dengan wajar, baik rohani, jasmani, maupun sosial. Seorang anak dikatakan terlantar bukan dia tidak memiliki salah satu orang tua atau keduanya (Media Indonesia, 2005). Penderaan anak atau penganiayaan anak atau kekerasan pada anak atau perlakuan salah terhadap anak merupakan terjemahan bebas dari child abuse, yaitu perbuatan semena-mena orang yang seharusnya menjadi pelindung (guard) pada seorang anak (individu berusia kurang dari 18 tahun) secara fisik, seksual dan emosi (Sugiarno, 2007), menurut Gelles, 2004 dalam (Huraerah, 2006) dalam Encyclopedia Article from Encarta, mengartikan child abuse sebagai “intentional acts that result in physical or emotional harm to children. The term child abuse cover a wide range of behavior, from actual physical assault by parents or other adult caretakers to neglect at at a chlid’s basic needs” (kekerasan tehadap anak adalah perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional. Istilah chil abuse meliputi berbagai macam tingkah laku, dari tindakan ancaman fisik secara lansung oleh orang tua atau orang dewasa lainnya sampai kepada penelantaran kebutuhan-kebutuhan dasar anak). 2.1.3.2 Klasifikasi Perilaku Kekerasan Perilaku kekerasan di klasifikasikan menjadi empat yaitu : 1. Penganiayaan Fisik (Phisical abuse) 2. Pengabaian / penelantaran (child neglect) 3. Penganiayaan seksual (sexual abuse) 4. Penganiayaan emosional (emotional abuse) 2.1.3.2.1 Penganiayaan Fisik (Phisical abuse) A. Konsep penganiayaan fisik Kerangka kerja keperawatan tentang anak teraniaya dan terlantar merupakan fenomena multi faktor yang nelibatkan orang tua, keluarga, budaya, anak dan stress dalam rentang mulai dari perilaku normal dan penuh kasih sayang sampai tindak penganiayaan dan penelantaran (Miror, 1981). Penganiayaan anak mencakup spektrum tindakan kasar atau tindakan pengawasan, dan kekurangan tindakan, atau tindakan melalaikan yang berakibat morbiditas atau mortalitas. Penyiksaan fisik dapat didefenisikan secara sempit sebagai luka yang disengaja pada anak oleh pengasuh yang berakibat memar, luka bakar, patah tulang, luka robek, luka tusuk dankerusakan organ. Defenisi yang lebih luas termasuk akibat emosional jangka pendek dan jangka panjang, yang dapat lebih melemahkan daripada pengaruh fisiknya (Nelson, 2000). B. Tanda-tanda yang dapat ditemukan Penyiksaan fisik dicurigai bila luka tidak terjelaskan, tidak dapat dijelaskan atau tidak masuk akal. Jika luka tidak cocok dengan riwayat yang diberikan atau perkembangan anak, penyiksa yang dicurigai harus dilaporkan. Nelson (2000), menjelaskan bahwa manifestasi klinik dengan anak penganiayaan fisik yaitu : 1. Memar Manifestasi klinik yang paling sering ditemui dan mungkin terdapat pada setiap permukaan tubuh. Disamping memar akibat pukulan atau ditampar, anak dapat juga dengan sengaja dibakar, dilukai atau ditusuk. Bentuk jejas dapat memberi kesan objek yang digunakan seperti sabuk, tangan, dan alat-alat yang meninggalkan bekas. Memar dapatberubah warna menurut waktu, warna memar dapat memperkirakan waktu luka terjadi. 2. Fraktur Fraktur paling sering akibat luka renggutan atau tarikan yang mencederai metafisis. Tanda klasik pada penyiksaan anak adalah fraktur retak dimana sudut metafisis tulang panjang terpecah samapi epifisis dan periosteum. 3. Rambut (alopesia) Rambut yang ditarik menyebabkan alopesia, dimana rambut putus tidak sama panjang. Bayi yang tersia-sia, dibiarkan berbaring dengan lama mempunyai kemungkinan kehilangan rambut pada bagian belakang kepala. 4. Keadaan yang memberi kesan penyiksaan Keadaan ini merupakan suatu keadaan yang tidak dilaporkan, merupakan 25% kasus penyiksaan fisik yang dievaluasi di Rumah Sakit Anak. Ptekie muka dan bahu karena berusaha muntah, batuk dan nangis yang kuat, berbagai keadaan lain seperti bercak mongolian, hemangioma kapiler, nevi pigmentosa, dan keadaan kongenital, alergi, infeksi kulit, luka bakar juga memar dikulit. 5. Luka bakar Sekitar 10% kasus penyiksaan fisik mencakup luka bakar. Bentuk dan gambaran luka bakar disesuaikan dengan ukuran luas luka bakar tersebut. Keadaan beratnya luka dapat memperhitungkan objek yang menyebabkan terjadinya luka. 6. Trauma kepala Kematian tersering pada penyiksaan fisik adalah cedera kepala. Kepala, muka atau isi kranium terjejas pada 29% laporan penyiksaan anak dirumah sakit. Lebih dari 95% luka intra kranial yang serius menyebabkan kematian. Trauma kepala dapat terlihat dari hasil pemeriksaan CT-Scan kepala dan adanya tanda fraktur tulang kepala. 7. Jejas intra abdomen. Penyebab kematian akibat penyiksaan fisik yang lazim kedua adalah dipukul berulang-ulang. Terutama pada bagian abdomen menyebabkan anakmuntah berulang kali, kembung perut, tidak ada suaru usus (bising) dan nyeri setempat atau syok. 2.1.3.2.2 Pengabaian / penelantaran (child neglect) A. Konsep Pengabaian / Penelantaran Penelantaran anak atau kelalaian, yaitu kegiatan atau behavior yang langsung dapat menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik anak dan perkembangan psikologisnya (Asnah Sitohang, 2004). B. Tanda-tanda yang dapat ditemukan Penelantaran dan pengabaian anak dapat berupa : 1. Pemeliharaan yang kurang memadai. Menyebabkan gagal tumbuh, anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan. 2. Pengawasan yang kurang memadai. Menyebabkan anak mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan kejiwaan. 3. Kelalaian dalammendapatkan pengobatan. Kegagalan dalam merawat anak dengan baik. 4. Kelalaian dalam pendidikan. Meliputi kegagalan dalam mendidik anak, kurang mampu berinteraksi dengan lingkungannya, gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga terpaksa putus sekolah. 2.1.3.2.3 Penganiayaan seksual (sexual abuse) A. Konsep penganiayaan seksual Paksaan pada seseorang anak untuk mengajak berperilaku / mengadakan kegiatan seksual yang nyata, sehingga menggambarkan kegiatan seperti : aktivias seksual (oral genital, genital, anal dan sodomi) termasuk Incest (Asnah Sitohang, 2004). Seksual abuse adalah setiap aktivitas pada anak, dimana umur belum mencukupi menurut izin hukum, yang digunakan untuk sumber kepuasan seksual orang dewasa atau anak yang sangat lebih tua (Nelson, 2000). Penyalahgunaan seksual dapat berupa pegang-pegang ke hubungan seksual. Permainanan seksual dapat didefenisikan sebagai memandang atau menyentuh genitalia, pantat, dada oleh orang dewasa / tua dengan maksud pelecehan seksual. B. Tanda-tanda yang dapat ditemukan Kemungkinan adanya pelecehan seksual, ketika anak : 1. Sulit berjalan atau duduk. 2. Tiba-tiba menolak berganti pakaian untuk senam atau berpartisipasi pada aktivitas fisik. 3. Menunjukkan pengetahuan atau tingkah laku seksual yang aneh, canggih atau tidak biasa. 4. Hamil atau mengalami penyakit menular seksual, khususnya jika dibawah usia 14 tahun. Nelson, (2000) menerangkan gejala fisik akibat sexual abuse adalah : 1. Nyeri vagina,penis atau rektum, erithema, sekret atau perdarahan. 2. Disuria kronik, enuresis, konstipasi atau gerakan usus yang tidak disengaja. 3. Pubertas prematur pada wanita. Sedangkan gejala perilaku non spesifik akibat sexual abuse yaitu : Rasa takut pada suatu individu atau tempat, mimpi buruk atau gangguan tidur, regresi, agresi, perilaku pendiam atau stres pasca trauma, harga diri rendah, depresi kinerja sekolah jelek, melarikan diri, pengrusakan diri, penyalanggunaan obat, gangguan makan ,dan dismenorhea. 2.1.3.2.4 Penganiayaan emosional (emotional abuse) A. Konsep penganiayaan emosional. Perlakuan kejam kepada anak melalui lisan / verbal yaitu dengan mengungkapkan kata-kata kasar, menyinggung perasaan anak dimana anak akan mengingat semua kekerasan verbal itu jika kekerasan verbal tersebut berlangsung dalam satu periode (Rakhmat, 2003). Penganiayaan secara verbal sering diikuti dengan penganiayaan fisik anak. Secara terus menerus menyalahkan, mengecilkan arti atau menyamaratakan anak, tidak memperhatikan anak dan menolak tawaran untuk dibantu menyelesaikan permasalah anaknya disekolah atau secara nyata menolak anak. B. Tanda-tanda yang dapat ditemukan 1. Menunjukkan tingkah laku yang ekstrim, seperti terlalu banyak protes atau menuntut, sangat pasif atau agrsif. 2. Bertingkah laku seperti orang dewasa (misalnya mengajari / menceramahi anak lain), atau seperti anak kecil (misalnya sering membenturkan kepala) 3. Mengalami kemunduran perkembangan fisik. 4. Mencoba bunuh diri. 5. Mengatakan bahwa hubungannya dengan orang tua kurang dekat. 2.1.3.3 Faktor Penyebab Rakhmat (2003) menerangkan bahwa kekerasan yang terjadi pada anak disebabkan oleh beberapa Faktor Sosial yakni : 2.1.3.3.1 Norma Sosial Tidak adanya kontrolsosial pada tindakan kekerasan pada anak-anak. Orang tua yang mencambuk anaknya tidak dipersoalkan oleh tentangganya, selama anak itu tidak meniggal dunia (lebih tepat lagi, selama tidak diporkan ke polisi). Sebagai orang tua ia melihat anaknya sebagai hak milik dia yang dapat diperlakukan sekehendak hatinya. Tidak ada aturan hukum yang melindungi anak dari perlakuan buruk orang tua atau wali atau orang dewasa. 2.1.3.3.2 Nilai Sosial Hubungan anak dengan orang dewasa berlaku seperti hirarkhi sosial di masyarakat. Atasan tidak boleh dibantah. Aparat harus dipatuhi, guru harus ditiru dan orang tua tentusaja wajib ditaati dengan sendirinya. Dalam hirarkhi sosial anak-anak berada pada daerah paling bawah. Orang dewasa melihat anak-anak sebagai “bakal manusia” dan bukan sebagai manusia yang hak asasinya tidak boleh dolanggar. 2.1.3.3.3 Ketimpangan Sosial Dalam hal ini kita akan menjumpai pelaku dan korban perilaku kekerasan (child abuse) kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Kemiskinan, yang tentu saja masalah sosial lainnya yang diakibatkan karena struktur ekonomi dan politik yang menindas, telah melahirkan subkultur kekerasan. Sugiarno (2007) menjelaskan banyak teori bekaitan dengan kekerasan pada anak, diantaranya teori yang berkaitan dengan stres didalam keluarga (family stress). Stres dalam keluarga tersebut berasal dari : 1. Stres berasal dari anak (child produced stress) Anak dengan gangguan fisik, mental, atau perilaku yang berbeda, anak usia balita, serta anak dengan penyakit menahun. 2. Stres berasal dari orang tua (parental produced stress) Orang tua dengan gangguan jiwa, orang tua korban kekerasan pada masa lalu, orang tua terlampau perfek dengan harapan pada anak terlalu tinggi dan orang tua dengan disiplin yang tinggi. 3. Stres berasal dari situasi tertentu (situational produced stress) Terkena PHK, pengangguran, pindah lingkungan dan keluarga yang sering bertengkar. Menurut Suharto, 1997 dalam (Huraerah, 2006), kekerasan terhadap anak umumnya disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri, maupun faktor eksternal yang berasal dari kondisi keluarga dan masyarakat, seperti : 1. Anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku, autisme, anak terlalu lugu, memiliki tempramen lemah, ketidak tahuan anak akan hak-haknya, anak terlalu bergantung pada orang dewasa. 2. Kemiskinan keluarga, orang tua menganggur, penghasilan tidak cukup dan banyak anak. 3. Keluarga tunggal atau keluarga pecah (broken home), misalnya perceraian, ketiadaan ibu untuk jangka panjang atau keluarga tanpa ayah dan ibu tidak mampu memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi. 4. Keluarga yang belum matang secara psikologis, ketidaktahuan mendidik anak, harapan orangtua yang tidak tealistis, anak yang tidak diinginkan(unwanted child), anak yang lahir diluar nikah. 5. Penyakit parah atau gangguan mental pada salah satu atau kedua orang tua, misalnya tidak mampu merawat dan mengasuh anak karena gangguan emosional dan depresi. 6. Sejarah penelantaran anak. Orangtua yang semasa kecilnya mengalami perlakuan salah cendrung memperlakukan salah anak-anaknya. 7. Kondisi lingkungan sosial yang buruk, pemukiman kumuh, tergusurnya tempat bermain anak, sikap acuh tak acuh terhadap tindakan eksploitasi, pandangan terhadap nilai anak yang terlalu rendah, meningkatnya faham ekonomi upah, lemahnya pernangkat hukum, tidak adanya mekanisme kontrol sosial yang stabil. Sementara itu, Rusmil (2004) dalam Huraerah, (2006) menjelaskan bahwa penyebab atau resiko terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor, yaitu: faktor orangtua/keluarga, faktor lingkungan sosial/komunitas, dan faktor anak sendiri. 1. Faktor orangtua/keluarga. Faktor orangtua memegang peranan penting terjadinya kekerasan dan penelantaran pada anak. Faktor-faktor yang menyebabkan orangtua melakukan kekerasan pada anak antaranya: a. Praktik-praktik budaya yang merugikan anak: – Kepatuhan anak kepada orangtua. – Hubungan asimetris. b. Dibesarkan dengan penganiayaan. c. Gangguan mental. d. Belum mencapai kematangan fisik, emosi maupun sosial, terutama mereka yang mempunyai anak sebelum anak berusia 20 tahun. e. Pecandu minuman keras dan obat. 2. Faktor lingkungan sosial/komunitas. Kondisi lingkungan sosial juga dapat menjadi pencetus terjadinya kekerasan pada anak. Faktor lingkungan sosial yang dapat menyebabkan kekerasan dan penelantaran pada anak diantaranya: a. Kemiskinan dalam masyarakat dan tekanan nilai materialistis. b. Kondisi sosial-ekonomi yang rendah. c. Adanya nilai dalam masyarakat bahwa anak adalah milik orangtua sendiri. d. Status wanita yang dipandang rendah. e. Sistem keluarga patriakhal. f. Nilai masyarakat yang telalu individualistis. 3. Faktor anak itu sendiri. a. Penderita gangguan perkembangan, menderita penyakit kronis disebabkan ketergantungan anak kepada lingkungannya. b. Perilaku menyimpang pada anak. 2.1.3.4 Efek kekerasan terhadap anak Rusmil (2004) dalam (Huraerah, 2006) mengemukakan bahwa anak-anak yang menderita kekerasan, eksploitasi, pelecehan, dan penelantaran menghadapi resiko: A. Usia yang lebih pendek. B. Kesehatan fisik dan mental yang buruk. C. Masalah pendidikan (termasuk dropt-out dari sekolah). D. Kemampuan yang terbatas sebagai orangtua kelak. E. Menjadi gelandangan. Sementara itu, YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) dalam Suharto 1997, dalam (Huraerah, 2006), menyimpulkan bahwa kekerasan dapat menyebabkan anak kehilangan hal-hal yang paling mendasar dalam kehidupannya dan pada gilirannya berdampak sangat serius pada kehidupan anak di kemudian hari, antara lain: A. Cacat tubuh permanen. B. Kegagalan belajar. C. Gangguan emosional bahkan dapat menjurus pada ganggua kepribadian. D. Konsep diri yang buruk dan ketidakmampuan untuk mempercayai atau mencitai orang lain. E. Pasif dan menarik diri dari lingkungan, takut membina hubungan baru dengan orang lain. F. Agresif dan kadang-kadang melakukan tindakan kriminal. G. Menjadi penganiaya ketika dewasa. H. Menggunakan obat-obatan dan alkohol. I. Kamatian. Sedangkan Gelles, 2004 dalam (Huraerah, 2006) menjelaskan konsekuensi dari tindakan kekerasan dam penelatanaran anak dapat menimbulkan kerusakan dan akibat yang lebih luas(far reaching). Luka-luka fisik, seperti: memar (bruises), goresan-goresan (scrapes), dan luka bakar (burns) hingga kerusakan otak (brain damage), cacat permanen (permanent disabilites), dan kematia (death). Efek psikologis pada anak korban kekerasan dan penganiayaan bisa seumur hidup, seperti: rasa harga diri rendah (a lowered sense of self-worth), ketidakmampuan berhubungan dengan teman sebaya (an inability to relate to peers), masa perhatian tereduksi (reduced attention span), dan gangguan belajar (learning disorders). Dalam beberapa kasus, kekerasan dapat mengakibatkan gangguan-gangguan kejiwaan (psychiatric disorders), seperti: depresi(depression), kecemasan berlebihan (excessive anxiety), atau gangguan identitas disosoatif (dissociative identity disorders), dan juga bertambahnya resiko bunuh diri (suicide). Gambaran yang lebih jelas tentang efek tindakan kekerasan pada anak, juga diungkapkan oleh Moor dalam Fertini, 1992 (dalam Huraerah, 2006), bahwa efek tindakan kekerasan secara umum dapat di klasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada yang menjadi negatif dan agresif serta mudah frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada yang tidak mempunyai kepribadian sendiri, apa yang dilakukan sepanjang hidupnya hanyalah membuhi keinginan orangtuanya (parental extensioon), mereka tidak mampu menghargai dirinya sendri (chronically low self-esteem); ada pula yang sulit menjalin relasi dengan individu lain dan yang tampak paling parah adalah timbulnya rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya (self-hate) karena merasa hanya dirinyalah yang selalu bersalah sehingga menyebabkan penyiksaan terhadap dirinya, dan rasa benci terhadap dirinya sendiri ini menimbulkan tindakan untuk menyakiti dirinya sendiri seperti bunuh diri dan sebagainya. Selain akibat psikologis tersebut, Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh yang kurang normal, juga rusaknya sistem syaraf dan sebagainya. 2.1.3.5 Faktor Pendukung Perkembangan Anak 2.1.3.5.1 Peran Orang Tua Peran aktif orang tua sangat diperlukan terutama pada saat anak berada dibawah usia lima tahun (balita) dimana anak mutlak bergantung pada lingkungannya. Peran aktif orang tua yang dimaksud adalah usaha langsung terhadap anak, dan peran lain yang penting adalah menciptakan rumah sebagai lingkungan sosial yang pertama dialami anak. Dalam usah mendidik anak harus diperhatikan pula adanya peran aktif dari segi anak itu sendiri. Anak harus diperlakukan sebagai pribadi anak yang aktif yang perlu dirangsang untuk menghadapi dan mengatasi masalah dengan interaksi dan komunikasi antara orang tua. Peranan orang tua sangat penting untuk menjalankan fungsinya sebagai “top manajer”. Hendaknya memperhatikan situasi dan kondisiyang memungkinkan, artinya sikap dan perbuatan yang dilakukan sebagai tauladan atau contoh yang harus dipertimbangkan dengan baik (Suherman, 2000). 2.1.3.5.2 Sikap Orang Tua A. Sikap Otoriter a. Orang tua menentukan segala sesuatu. b. Anak tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. c. Keinginan atau cita-cita anak tidakmendapat perhatian. d. Sikap orang tua berdasarkan prinsip hukuman dan ganjaran. Akibat yang terjadi pada anak : a. Kurang berkembang rasa sosial. b. Tidak timbul kreatifitasdan keberaniannya untuk mengambil keputusan. c. Timbul sifat menyendiri. B. Sikap Liberal Orang tua mempunyai anggapan bahwa anak dianggap sebagai orang dewasa kecil dapat mengambil tindakan dan jeputusan sendiri menurut kehendaknya tanpa bimbingan. Akibat yang terjadi pada anak : a. Tidak mengenal tata tertib atau sopan santun. b. Sering mengalami rasa kecewa. c. Lebih mementingkan diri sendiri (egois) d. Hubungan dengan orang tua kurang harmonis. e. Sering menentang norma yangberlaku dimasyarakat tempat tinggal. C. Sikap Demokratis Memperlakukan anak sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak dan mempertimbangkan keinginan anak. Akibat yang terjadi pada anak: a. Berprilaku dan bertanggung jawab yang besar. b. Dapat menerima perintah dan dapat diperintah secarawajar c. Dapat menerima kritikan secara terbuka d. Dapat menghargai pekerjaan dan jerih payah orang lain. 2.1.3.6 Tumbuh Kembang Anak Usia 6 – 12 Tahun 2.1.3.6.1 Defenisi Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamik sepanjang kehidupan manusia, perubahan yang terjadi pada satu fase menjadi dasar perkembangan pada fase berikutnya, perkembangan dan dan pertumbuhan yang mencolok terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja (Achiryani, 1999). Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda namun saling berkaitan yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Tumbuh diuraikan sebagai peningkatan dalam ukuran tinggi dan berat badan atau tiap bagian tubuh, pertumbuhan dapat diukur secara kuantitatif dengan mengguanakan satuan kilogram atau senti meter. Sedangkan perkembangan adalah peningkatan fungsi dan keterampilan yang bersifat kompleks. Perubahan terjadi secara kulitatif yaitu perubahan psikososial, kognitif dan moral (Achiryani, 1999) 2.1.3.6.2 Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak A. Genetik Merupakan modal dasar dalam mencapai hasil proses tumbuh kembang melalui interuksi genetik. B. Lingkungan Merupakan hal yang sangat menentukan. Lingkungan ini merupakan lingkungan bio-psiko-sosial yang mempengaruhi individu setiap hari mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya. Lingkungan anak pada waktu masih dalam kandungan dipengaruhi oleh gizi ibu,mekanis, toksis, imunitas dan lain-lain. Sedangkan lingkungan setelah anak lahir, ada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya faktor psikologis: stimulasi, motivasi belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar, cinta kasih serta kualitas interaksi anak dengan orang tua. 2.1.3.6.3 Tahap tumbuh kembang anak pada anak usia 6-12 tahun Tahap ini merupakan periode usia yang kadang-kadang disebut sebagai masa anak-anak pertengahan atau masa laten, mempunya tantangan baru. Kekuatan kognitif untuk memikirkan banyak faktor secara stimultan memberikan kemampuan pada anak usia ini untuk mengevaluasi diri sendiri dan merasakan evaluasi dari teman-temannya. Sebagai akibatnya, penghargaan diri menjadi masalah sentral (Nelson, 2000). A. Perkembangan fisik Pertumbuhan selama periode ini rata-rata 3-3.5 kg dan 6 cm pertahun. Kekuatan otot, koordinasi dan daya tahan tubuh meningkat secara terus menerus. Organ-organ seksual secara fisik belum matang, namun minat pada jenis kelamin yang berbeda dan tingkah laku seksual tetap aktif dan meningkat secara progresig sampai pubertas. B. Perkembangan kognitif dan bahasa Pemikiran anak usia sekolah secara kualitas berbeda dari anak yang usianya lebih muda 1-2 tahun. Pada tempat kognisi yang berdaya tarik, egosentris, dan terikat persepsi, anak usia sekolah semakin mempraktekkan aturan-aturan yang berdasarkan pada fenomena yang dapat diamati. Kegiatan intelektual meluas di luar kelas,mulai pada tingkat ketiga atau keempat, anak semakin suka pada permainan strategi dan permainan kata yang melatih pegembangan penguasaan kognitif dan bahasa. C. Perkembangan emosi dan sosial Perkembangan emosi dan sosial berlanjut pada tiga konteks: rumah, sekolah dan lingkungan sekitarnya. Dari ketiga ini, rumah tetap yang paling mempengaruhi. Hubungan dengan orang tua berlanjut untuk memberikan keamanan dasar yang dengannya dapat memberikan keberanian anak untuk dapat keluar. Pada usia ini sangat berpengaruh bila anak merasa berbeda dan kurang populer dalam kelompoknya. Ejekan dan cemoohan dari teman dapat tergabung kedalam citra diri anak. Bahaya dari lingkungan sekitar dapat berupa lingkungan jalan yang ramai, pengertak dan orang asing yang membebani kecerdikan dan pengetahuan umum mereka. Seperti media masa yang menayangkan penganiayaan, kekerasan dan perilaku materalisme dapat meningkatkan ketidak berdayaan anka-anak pada dunia yang lebih luas 2.2 PENELITIAN TERKAIT Gambaran temuan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI, 2004 ), yang cukup menonjol adalah Pertama, bentuk perlakuan salah pada anak korban perempuan, untuk perlakuan salah secara seksual total 2.099 kasus, yang diperkosa 48,6%, dicabuli 16,4%, digauli 5,2% dan dijual 2,2%. Pada anak laki-laki, perlakuan salah secara fisik 575 kasus diantaranya mengalami penganiayaan 16,1%, penculikan 12,1%, pembunuhan 7% dan penghukuman 3,8% serta bentuk lain dibacok, disandra dan ditodong. Kedua, Usia Korban. Usia korban anak perempuan yang banyak mengalami perlakuan salah secara seksual dialami oleh anak uisa 6-12 tahun 24,5%, secara fisik, usia 0-5 tahun 6,2% dan penelantaran, usia 0-5 tahun 4,7%. Pada anak laki-laki yang mengalami perlakuan salah secara seksual, usia 6-12 tahun 17,9% dan penelantaran usia 0-5 tahun 12,2%. Ketiga, Hubungan Pelaku Dengan Korban. Pelaku perlakuan salah secara seksual adalah, orang lain 70%, ayah 10,3%, guru 5,1%. Perlakuan salah secara fisik adalah, orang lain 76%, ibu 9,8% dan guru 5,2%. Pada kasus perlakuan salah secara seksual, pelakunya adalah ibu korban, karena terlibat langsung dalam proses perdagangan anak kepada para mucikari dan hidung belang. Keempat, Tempat Kejadian Perkara. Tempat kejadian perkara untuk kasus perlakuan salah dan penelantaran 40,4% terjadi dirumah, dan selebihnya ditempat lain, diantaranya hotel, hutan dan lain-lain. Sekolah menjadi pusat pendidikan dan sumber ilmu pengetahun juga merupakan tempat subur terjadinya perlakuan salah pada anak yakni 6,3%, dan tempat umu atau tempat bermain 12,9%. Temuan ini menunjukkan sangkaan selama ini bahwa perlakuan salah pada anak hanya terjadi irumah, perlu di defenisikan kembali, karena fakta memperlihatkan perlakuan salah juga terjadi di sekolah, tempat umum, tempat kerja dan tempat lainnya (Patilima, 2003) 2.3 KERANGKA KONSEP Menurut Suharto, 1997 dalam (Huraerah, 2006), kekerasan terhadap anak umumnya disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri, maupun faktor eksternal yang berasal dari kondisi keluarga dan masyarakat. Sementara itu, Rusmil (2004) dalam Huraerah, (2006) menjelaskan bahwa penyebab atau resiko terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor, yaitu: faktor orangtua/keluarga, faktor lingkungan sosial/komunitas, dan faktor anak sendiri. Karena keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, maka penelitian ini terbatas pada faktor orang tua berdasarkan karakteristiknya yaitu umur, pendidikan, pekerjaan dan lingkungan. Sesuai dengan tujuan penelitian, maka yang menjadi perhatian dalam penelitian dapat digambarkan dalam kerangka konsep dibawah ini : Variabel Independen Variabel Dependen 2.4 HIPOTESIS Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut Hipotesa mayor : Ho : Tidak ada hubungan antara karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, lingkungan) orang tua dengan perilaku kekerasan pada anak. Ha : Ada hubungan antara karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, lingkungan) orang tua dengan perilaku kekerasan pada anak. Hipotesa Minor : Ho: Tidak adanya hubungan karakteristik umur orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ho: Tidak adanya hubungan karakteristik pendidikan orangtua dengan perilaku kekerasan fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ho: Tidak adanya hubungan karakteristik pekerjaan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ho: Tidak adanya hubungan karakteristik lingkungan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ha: Adanya hubungan karakteristik umur orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ha: Adanya hubungan karakteristik pendidikan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ha: Adanya hubungan karakteristik pekerjaan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ha: Adanya hubungan karakteristik lingkungan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. 2.5 DEFENISI OPERASIONAL No Variabel Defenisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur 1 Independen Karakteristik orang tua Umur Hal – hal yang ada dalam diri orang tua yang berpengaruh dalam bersikap dan berperilaku Lamanya hidup yang dihitungsejak mulai lahir sampai usia saat penelitian Angket Kuisioner yang berisi daftar pertanyaan Ordinal – Muda : 20-35 tahun – Tua > 35 tahun 2 Pendidikan Latar belakang pendidikan formal saat diteliti Angket Kuisioner yang berisi daftar pertanyaan Ordinal – Tinggi : perguruan tinggi dan SMA – Rendah : SD dan SMP 3 Pekerjaan Suatu bentuk kegiatan yang menyangkut dalam hal keuangan Angket Kuisioner yang berisi daftar pertanyaan Ordinal – Tinggi >Rp 500.000 – 1.000.000 – Rendah 50% 6 Perilaku secara penelantaran Perilaku yang dilakukan orang tua terhadap anak dengan cara pengabaian / penelantaran karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Panduan observasi dan angket Wawancara secara langsung Ordinal – Perilaku normal : ≤50% – Perilaku tidak normal : >50% 7 Perilaku secara seksual Perilaku yang dilakukan orang tua terhadap anak secara seksual karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Panduan observasi dan angket Wawancara secara langsung Ordinal – Perilaku normal : ≤50% – Perilaku tidak normal : >50% 8 Perilaku Emosional Perilaku yang dilakukan orang tua terhadap anak secara emosional disertai verbal karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Panduan observasi dan angket Wawancara secara langsung Ordinal – Perilaku normal : ≤50% – Perilaku tidak normal : >50%
boy antoni putra askep rupa-rupa
ok punya nihCEDERA KEPALA PADA ANAK BOY ANTONI PUTRA Bukittinggi 16 juni08 PENDAHULUAN Cedera kepala pada anak merupakan penyebab kematian dan cacat yang tinggi. Kurang lebih 25% cedera yang dapat meneybabkan kematian pada anak disebabkan oleh cedera kepala (Huttlenlocher, 1987; Evans, 1987). Di Inggris jumlah anak yang masuk ke rumah sakit karena cedera kepala meningkat 6 kali dalam 20 tahun yang terakhir (Menkes, 1985). Menurut Blaskey setiap tahun terdapat 200.000 anak yang dirawat karena cedera kepala dan diperkirakan 15.000 anak memerlukan perawatan jangka panjang. Pada anak dengan cedera kepala yang berat ± 50% mempunyai gejala sesa neurologik dan ± 2%-5% meninggalkan cacat yang berat. Oleh karena angka kejadian cedera kepala pada anak cukup tinggi, maka perlu diagnosis dini, perawatan, pengobatan serta mengamati perjalanan penyakit merupakan kunci dalam menanggulangi cedera kepala. PENYEBAB CEDERA KEPALA Jenis cedera yang dapat meneybabkan kerusakan kepala dan jaringan otak sangat bervariasi dari tekanan yang paling ringan sampai kecelakaan lalu lintas. Pada anak kurang dari 4 tahun cedera kepala sering disebabkam oleh jatuh dari meja, kursi, tangga, tempat tidur dan lain-lain. Sedangkan pada anak yang lebih besar sering disebabkan oleh mengendarai sepeda atau karena kecelakaan lalu lintas (McLaurin RL and Towbin R, 1990). PATOFISOLOGI Kulit kepala, rambut, tulang tengkorak dan tulang muka melindungi otak dari cedera. Bila cedera dengan tekanan sedang dapat terjadi fraktur linear, tetapi bila dengan kekuatan yang tinggi dapat menyebabkan suatu fraktur depresi. Otak dan tengkorak memberi respon yang berbeda terhadap kekuatan akselerasi dan deselerasi yang disebabkan oleh pukulan. Pergerakan otak pada permukaan tengkorak bagian dalam yang ireguler dan tajam (seperti permukaan orbita, pada fossa frontalis, sphenoid ridge, falx dantentorium) dapat menyebabkan terjadinya leserasi dan kontusio pada otak, vena serebral yang berhubungan dengan sinus venosus dapat robek sehingga darah akan masuk ke ruang subdural. Fraktur juga dapat menyebabkan putusnya arteri meningeal dan sinus venosus yang besar menyebabkan perdarahan pada ruang epidural. Setelah cedera otak, cerebral blood flow dapat menurun oleh karena vaso spasme, sedangkan pada daerah yang lain dapat terjadi dilatasi arteriol akibat hilangnya mekanisme pengaturan yang otomatis. Akibat daripada vasodilatasi pembuluh darah disertai dengan edem serebri dan adanya hematoma dapat meninggikan tekanan intrakranial (Russel & Patterson, 1975). 2002 digitized by USU digital library 2 KLASIFIKASI Akibat cedera kepala dapat terjadi beberapa bentuk kelainan seperti: 1. Kulit kepala a. Luka tertutup b. Luka terbuka 2. Fraktur tulang tengkorak, yang terdiri atas: a. Fracture linear b. Fracture diastetik c. Fracture basis d. Fracture depresi e. Fracture gabungan f. Growing fracture 3. Cedera otak a. Concussion b. Contusio c. Laserasi 4. Intrakranial hematoma a. Ekstradural hematoma b. Subdural hematoma c. Subdural hygroma d. Intraserebral hematoma (Gilroy JB, 1982; Menkes JH, 1980) DIAGNOSA CEDERA KEPALA 1. Anamnesa Anamnesa yang terperinci mengenai cedera perlu dilakukan sehingga dapat diketahui lokalisasi dan cara terjadinya cedera kepala 2. Pemeriksaan umum Beberapa hal yang perlu di observasi, adalah: Fungsi vital Tekanan darah yang meninggi disertai dengan bradikardi dan pernapasan yang tidak teratur (trias Cushing) menandakan adanya tekanan tinggi intrakranial. Nadi yang cepat disertai hipotensi dan pernapasan yang ireguler mungkin disebabkan gangguan fungsi batang otak misalnya pada fracture oksipital. Mata Perlu diperiksa besar danreaksi dari pupil. Perdarahan retina sering terlihat pada perdarahan subarakhnoid atau perdarahan subdural Kepala Diperiksa apakah terdapat luka, hematoma, fracture. Bila terdapat nyeri atau kekakuan pada leher atau perdarahan subarakhnoid Tekinga dan hidung Diperiksa apakah terdapat perdarahan atau keluar cairan serebrospinal dari hidung/telinga. Perdarahan telinga disertai akimosis di daerah mastoid (Battle’s sign) mungkin akibat fracture basis kranil Abdomen Abdomen juga harus diperiksa terhadap kemungkinan adanya perdarahan intra abdominal. 2002 digitized by USU digital library 3 3. Pemeriksaan neurologik Derajat kesadaran merupakan indikator beratnya kerusakan otak. Derajat kesadaran harus dinyatakan dalam bentuk respons mata, verbal dan motorik. Pada anak dipergunakan dalam Children Coma Scale. (Raimondi AJ, 1986) Respons mata: score maksimal 4 Gerakan mata pursuit Score 4 Otot ekstra intak, pupil reaktif Score 3 Fixed pupil atau gangguan otot ekstra okuler Score 2 Fixed pupil dan paralise otot ekstra okuler Score 1 Respons verbal: score maksimal 3 Menagis Score 3 Napas spontan Score 2 Apnoe Score 1 Respon motorik: score maksimal 4 Fleksi dan ekstensi Score 4 Dengan rangsangan nyeri terjadi gerakan withdrawn Score 3 Hipertonik Score 2 Flaksid Score 1 Menurut North B and Reilly P., jumlah score yang normal : Bayi baru lahir sampai umur 6 bulan , jumlah score 9 Umur 6 bulan sampai 12 bulan, jumlah score 11 Umur 12 bulan sampai umur 2 tahun, jumlah score 12 Umur 2 tahun sampai umur 5 tahun, jumlah score 13 Umur 5 tahun atau lebih, jumlah score 14 Selanjutnya diperiksa saraf otak lainnya (bentuk pupil, refleks cahaya, refleks kornea, refleks okulosefalik), refleks fisiologis serta refleks patologis. 4. Pemeriksaan penunjang Foto kepala Foto kepala dibuat apabila didapat riwayat kehilangan kesadaran, pernah kraniotomi, pemeriksaan klinik didapat cekungan tengkorak, keluar darah atau cairan palpebra/kedua mata, terdapat korpus alienum dalam luka, dalam keadaan stupor atau koma, terdapat gejala neurologik fokal Fungsi lumbal Pada pasen dengan sk,cairan serebrospinal menunjukkan warnasantokrom. Pada komsio serebri dan hematoma epidural cairan serebrospinal berwarna jernih sedangkan pada kontusio serebri cairan serebrospinal bercampur darah EKG EKG abnormal sering ditemukan segera setelah terjadi trauma dan cendrung membaik setelah terjadi penyembuhan. Angiografi Pemeriksaan ini cukup berbahaya dan hanya dilakukan pada pasen yang mengalami perburukan secara progresif atau adanya tanda fokal seperti hemiparese dengan kecurigaan adanya hematoma. Bila ada kelainan didalam otak akan tampak adanya pergeseran lokasi pembuluh darah. Pemeriksaan ini bermanfaat bila alat OTOT-OTOT Scan tidak ada. Burr holes Tindakan ini digunakan untuk mendiagnosa sekaligus merupakan tindakan operasi pada kasus subdural dan epidural hematoma 2002 digitized by USU digital library 4 Air encephalography Tindakan ini mempunyai resiko yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tindakan angiografi oleh karena dapat menekan otak Computed Tomography Dengan computed tomography dapat diketahui adanya kerusakan otak. Dengan alat ini dpat ditentukan adanya kerusakan di dalam maupun di luar otak Ultrasonography Pada umumnya ultrasonography digunakan pada bayi dengan trauma intrakranial serta untuk mengikuti perjalanan dari suatu khronik subdural hematoma PENGOBATAN Tujuan pengobatan adalah untuk menciptakan keadaan yang optimal serta mencegah komplikasi> 1. Pernapasan Pada pasen cedera kepala dengan kesadaran menurun tidak dapat dipertahankan jalan napas adekuat. Mulut dan farings dapat tersumbat oleh sekresi sisa muntah dan bekuan darah. Lesi di batang otak dapat pula mengganggu pusat pernapasan sehingga pernapasan menjadi tidak adekuat. Oleh karena itu menjaga jalan napas serta ventilasi yang efektif sangat penting pada pasen dengan cedera kepala. 2. Mempertahankan perfusi otak Tekanan perfusi otak dipengaruhi oleh tekanan darah arterial dan tekanan intrakranial (tekanan perfusi serebral tekanan darah arterial-tekanan intrakranial). Oleh karena itu pada cedera kepala tekanandarah dicegah jangan sampai menurun. Jika terdapat syok dan perdarahan harus segera diatasi. Dan bila didapat tekanan intrakranial yang meningkat harus dicegah. 3. Edema otak Bila terdapat tanda-tanda edema otak, maka harus diberikan obat untuk mengurangi edema otak tersebut. 4. Cairan dan elektrolit Pasen dengan kesadaran menurun atau pasen dengan muntah, pemberian cairan dan elektrolit melalui infus merupakan hal yang penting. Harus diukur input dan output cairan, sebab hidrasi yang berlebihan dapat memperburuk edema. Keadaan dehidrasi harus dikoreksi 5. Nutrisi Pada pasen dengan cedera kepala kebutuhan kalori dapat meningkat karena terdapat keadan katabolik. Bila perlu diberi makanan melalui sonde lambung 6. Pasen yang gelisah Pada pasen yang gelisah dapat diberi obat penenang misalnya haloperidol. Untuk nyeri kepala dapat diberi analgetik. Pemberian sedatif dapat mengganggu penilaian tingkat kesadaran 7. Hiperpireksia Suhu tubuh pasen harus dijaga jangan sampai terjadi hiperpireksia. Biasanya hiperpireksia terjadi segera setelah trauma kemungkinan disebabkan oleh gangguan hipotalamus. 8. Bangkitan kejang Bila terjadi bangkitan kejang dapat diatasi dengan pemberian diazepam intravena dengan dosis 0.3 mg/koagulan BB dengan maksimal 5 mg untuk anak kurang 5 tahun dan 10 mg untuk anak yang lebih besar 2002 digitized by USU digital library 5 9. Operasi Pada sebagian kecil pasen dibutuhkan tindakan operasi, misalnya pada hematoma subdural dan hematoma epidural. PROGNOSA Tengkorak anak masih elastis dan mempunyai kesanggupan untuk mengalami deformasi, maka tengkorak anak dapat mengabsorpsi sebagian energi kekuatan fisik tersebut sehingga dapat memberikan perlindungan pada otak. Prognosis cj pada anak lebih baik dibandingkan orang dewasa. Kelainan yang sering dijumpai adalah: epilepsi post cedera kepala. Angka kejadian epilepsi post cedera kepala kurang dari 5%. Subdural efusi kronik merupakan komplikasi yang sering terjadi disebabkan pengobatan yang tidak adekuat. Apabila ditemukan adanya pembesaran lingkaran kepala secara cepat dan pemeriksaan transiluminasi menunjukkan adanya cairan, maka kemungkinan terdapat subdural efusi. Menurut Evans pada cedera kepala yang berat, 80% akan mengalami perbaikan, 20% menunjukkan gangguan neurologik yang berat dan 10% mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki/meninggal. 2002 digitized by USU digital library 6 DAFTAR PUSTAKA Blaskey J. Head trauma in pediatrics neurologic physical theraphy. 3th ed. London : WB Saunders. 1990, p. 2149-2192 Eisenberg HM. Late complication of head injury, in pediatrics neurosurgery. Grune & Stratton a subsidiary of harcourt Brace Jovanovich, London. 1982, p. 321-331 Evans OB. Manual of child neurology. New York : Churchill Livingstone. 1987, p. 319-327 Gilroy J.; Holliday PL. Trauma in basic neurology. New York : MacMillan. 1982, p. 288-295 Huttenlocher PR. Head injury in Nelson textbook of pediatrics. 13th ed. London : WB Saunders. 1987, p. 1325-1326 Marks CV; Lavy CBD. A practical guide to head injury management. London: WB Sounders, 1992: p. 120-121 McLaurin RL. Head injury in pediatrics neurology. 3th ed. Philadelpia: Harper & Row. 1983, p. 507-548 Menkes JH; Batzdorf U. Postnatal trauma and injuries by physical agents in Menkes JH. Textbook of child neurology. 2nd ed. Philadelpia : Lea & Febiger, 1980, p. 411-435 North B; Reilly P. Raised intracranial pressure, Heinemann medical books. 1990, p. 32-34Raimondi AJ. Hirschauer J. Clinical criteria children’s coma score and outcome scale for decision making in managing head injury infants and toddlers in Raimondi JA. Head injuries in the newborn and infants. New York : Springer Verlag. 1986, p. 141-162 Russel H; Patterson JR. Injury of the head and spine in cecil. Loebs textbook of medicine. 13th ed. London : WB Saunders. 1979, p. 879-885 Selhorst JB. Neurological examination of head injury patients in Becker DP; Gudeman SK, textbook of head injury. London : WB Saunders. 1989, p. 82-100 Ward JD. Pediatrics head injuries: Special consideration in Becker DP, textbook of head injury. London : WB Sounders. 1989, p. 319-349 BOY ANTONI PUTRA BUKITTINGGI 16 juni 2008 STIKes FORT De Kock
kumpulan askep yang paten

Lampiran 4 KUISIONER PENELITIAN Hubungan Karakterisistik Orang Tua Dengan Perilaku Kekerasan pada Anak Usia 10 – 12 tahun di SDN 02 Panampung Kabupaten Agam Tahun 2008 Petunjuk Pengisian Kuisioner 1. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti. 2. Kuisioner terdiri dari tiga bagian. 3. Pada bagian pertama berikan tanda ceklis pada kotak yang disediakan contoh umur 20 – 25 tahun 4. Pada bagian dua beri tanda silang pada salah satu jawaban yang dianggap paling benar. Contoh Berapa rata-rata penghasilan orang tua sebulan ? a. Lebih dari 1 juta (>Rp.1.000.000,-) (2) b. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) c. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) e. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) f. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) b. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) c. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) b. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) c. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) e. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) f. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) b. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) c. Kurang dari 500 ribu (

Photo Albums

boy

sstt

Recent Comments
poetri on rokok
poetri on penalitian imunisasi
anjiang_ on diagnosa keperawatan bahan kuliah
anjiang_ on diagnosa keperawatan bahan kuliah
Archives
July 2008
June 2008
Email Me
Friends

Q-nikhe_

Mulan

Dewa19

aBenk

Aya Michelle

achmad

Ferry_

fitrah

syaiful

nanda

Favorite Music
poprock
Powered by Friendster Blogs
Member since 12/2006
Fan Of

DOWN UNDER Band

MTV MusicTelevision

Emo

Twin Method

Ahmad Dhani Prasetyo

REPVBLIK REPVBLIK

I AM SOUND

RevAlinA S Temat

Julia Perez Damien

Jane

Favorite Books
kartun
Categories
askep jiwa
askep kgd
askep yang lain tapi pakai WOC
boy antoni putra askep yang ada web of cautions
KARSINOMA HEPARTKARSINOMA HEPART
Religion
Science
Weblogs
July 2008Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Recently Updated Blogs
Got It Groovin’
Cerita Ku
Home Sweet Home
annie_estrella
june
D77
tHe diaRy of MrZ.bRigHtsiDe
ALYA….NUR KEINDAHAN…
ZoN hAtiKU…
Miss Bratty Kitty
Add as Friend
Favorite Movies
zorro

Juli 23, 2008 - Posted by | Uncategorized

1 Komentar »

  1. terima kasih sebelumnya, saya sangat menginginkan sekali untuk bagaimana mengetahui jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan di rawat gabung ini.

    Komentar oleh neng | Agustus 24, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: