Bared18's Weblog

perawat bersatulah

tentang aqiqah


AQIQAH
A. Pengertian Aqiqah
Aqiqah menurut syara’ berarti menyembelih kambing untuk anak pada hari ketujuh dari kelahirannya.
B. Pendapat Para Fuqaha Tentang Disyari’atkannya Aqiqah
Ada tiga pendapat para ahli fiqih dan imam mujtahid tentang disyari’atkannya aqiqah:
Pertama: Mereka yang berpendapat disunatkan dan dianjurkan, yaitu Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan sebagian besar ahli fiqih, ilmu dan ijtihad. Mereka berargumantasi dengan hadits-hadits yang telah disebutkan. Mereka juga menolak pendapat orang-orang yang berpendapat bahwa aqiqah itu wajib dengan ungkapan sebagai berikut:
a. Jika aqiqah itu wajib, tentu kewajibannya akan diketahui dalam ad-din. Sebab, ini merupakan tuntutan. Dan tentu Rasulullah saw, akan menjelaskan wajibnya kepada umat dengan suatu keterangan yang diperkuat dengan hujjah.
b. Rasulullah saw, telah menggarisbawahi persoalan aqiqah ini dengan kesukaan orang yang melakukannya. Beliau bersabda:
مَن وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَاَ حَبَّ اَيُنسَكَ عَنهُ فَل يَفعَل
Barang siapa yang dikaruniai seorang anak, lalu ia menyukai untuk membaktikannya (mengaqiqahinya), maka hendaklah ia melalukannya.
c. Perbuatan Rasulullah saw, di dalam persoalan aqiqah ini tidak menunjukan hukum wajib. Tetapi menunjukan suatu anjuran.
Kedua: Pendapat yang mengatakan bahwa aqiqah itu diwajibkan. Mereka adalah Imam Al-Hasan Al-Bashri, Al-Lits Ibnu Sa’ad dan lain-lain. Mereka berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan Muraidah dan Ishaq bin Ruhawiah:
أَنَّ النَّاسَ يُعرَضُونَ يَومَ القِيَا مَةِ عَلىَ العَقِيقَةِ كَمَا يُعرَضُو نَ عَلَى الصَّلَوَا تِ الخَمسِ
Sesungguhnya manusia pada hari kiamat nanti akan dimintakan pertanggungjawabannya atas aqiqah, sebagaimana akan dimintai pertanggungjawabannya atas shalat-shalat lima waktu.
Wajah istidlal-nya (pengambilan dalilnya) adalah, bahwa anak itu tidak akan dapat memberikan syafa’at kepada kedua orang tuanya sebelum di aqiqahi. Inilah yang menguatkan kewajibannya.
Ketiga, pendapat yang menolak bahwa aqiqah itu disyariatkan. Mereka adalah para ahli fiqih Hanafiyyah. Argumentasi yang dikemukakan adalah hadits yang diriwayatkan Al-Baihaqi dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw, ditanya tentang aqiqah, beliau menjawab:
كُلُّ غُلاَ مٍ مُر تَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ
Aku tidak menyukai aqiqah-aqiqah.
Mereka juga berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Rafi’ ra, bahwa ketika ibu Al-Hasan bin Ali’, Fatimah ra, ingin mengaqiqahinya dengan dua biri-biri, Rasulullah saw, bersabda:
لاَ تُعَقّى وَلكِن أحلِقِى رَأسَهُ, فَتَصَدَّقِى بِوَزنِهِ مِنَ الوَرَقِ,- اَى مِنَ الفِضَّةِ- ثُمَّ وُلِدَ- ثُمَّ وُلِدَ حُسَينٌ, فَصَنَعتُ مِثلُ ذ لِكَ.
Janganlah engkau mengaqiqahinya, tetapi cukurlah rambut kepalanya dan bersedekahlah dengan perak sebanyak berat timbangan rambutnya itu. Kemudian dilahirkanlah Husain dan ia melakukan seperti itu.
Kebanyakan ahli fiqih, ilmu dan ijtihad, bahwa zhahir hadits-hadits yang telah disebutkan tadi menguatkan segi disunatkan dan dan dianjurkannya aqiqah.

Mereka telah menjawab hadits-hadits yang dijadikan sebagai argumentasi para ahli fiqih Hanafiyyah tentang penolakan mereka terhadap disyariatkannya aqiqah. Mereka mengatakan bahwa hadits-hadits yang dijadikan argumentasi itu tidak berarti apa-apa dan tidak sah untuk dijadikan sebagai dalil terhadap penolakan disyariatkannya aqiqah. Akan halnya Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw, pernah bersabda, “Aku tidak menyukai aqiqah-aqiqah”, maka siyaqu I-hadits (susunan katanya) dan sebab-sebab keluar hadits itu menunjukan bahwa aqiqah adalah sunat dan dianjurkan. Lafazh hadits itu sebenarnya adalah demikian: Rasulullah saw, ditanya tentang aqiqah. Beliau menjawab, “Aku tidak menyukai aqiqah-aqiqah”. Seakan-akan beliau tidak menyukai nama, yakni dinamakannya sesembelihan dengan aqiqah. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami hanya bertanya tentang salah seorang diantara kami yang dikaruniai seorang anak”. Beliau bersabda, “Barang siapa diantara kamu menyukai untuk membaktikan (mengaqiqahi) anaknya, maka hendaklah ia melalukannya. Bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang mencukupi dan bagi anak perempuan satu ekor kambing”.
Adapun istidlal mereka dengan hadits Abu Rafi’, “Janganlah engkau mengaqiqahinya, tetapi cukurlah rambut kepalanya . . .”, tidaklah menunjukan dimakruhkannya aqiqah. Sebab, Rasulullah saw, tidak suka membebani Fatimah ra, dengan aqiqah, sehingga beliau bersabda, “Janganlah engkau mengaqiqahinya . . .” dan beliau telah mengaqiqahi mereka berdua (Al-Hasan dan Al-Husain). Maka sudah cukup bagi Fatimah untuk menyajikan makanan-makanan saja. Di antara hadits-hadits yang menguatkan bahwa Rasulullah saw telah mengaqiqahi mereka berdua adalah sebagai berikut:
Abu Daud meriwayatkan dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ra:
أَ نَّ رَسُو لُ ا للّهِ صَلَّى ا للّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنِ ا لحُسنِ وَا لحُسَينِ كَبشًا كَبشًا.
Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw, telah mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain satu kambing satu kambing.
Jarir bin Hazim telah menceritakan dari Qatadah dari Anas:
أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّ ا للّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنِ ا لحَسَنِ وَا لحُسَينِ كَبشَينِ.
Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw, telah mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dua kambing.
Yahya bin Sa’id telah menceritakan dari Amirah dari Aisyah bahwasanya ia berkata:
عَقَّ رَسُولُ ا للّهِ صَلَّى ا للّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ وَا لحُسَينِ يَومَ ا لسّابِعِ.
Rasulullah saw, telah mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain pada hari ketujuh (dari kelahiran mereka).
Ringkasnya, mengaqiqahi anak itu adalah sunat dan dianjurkan. Ini menurut kebanyakan imam dan ahli fiqih. Oleh karena itu hendaklah orang tua melakukannya, jika memang memungkinkan dan mampu menghidupkan sunnah Rasulullah saw ini. Sehingga ia menerima keutamaan dan pahala dari sisi Allah swt, dapat menambah makna kasih sayang, kecintaan dan mempererat tali ikatan sosial antara kaum kerabat dan keluarga, tetangga dan handai taulan, yaitu ketika mereka menghadiri walimah aqiqah itu, sehingga rasa turut merasakan kebahagiaan atas lahir dan hadirnya sang anak. Di samping itu ia dapat mewujudkan sumbangan jaminan sosial, yaitu ketika sebagian kaum fakir miskin turut mengambil bagian di dalam aqiqah itu.
Alangkah agung dan luhurnya Islam serta dasar-dasar syariat di dalam menanamkan rasa kasih sayang dan kecintaan di dalam masyarakat, termasuk di dalam membina keadilan sosial dalam kelas-kelas masyarakat miskin.
C. Waktu Yang Dianjurkan Melaksanakan Aqiqah
Di dalam hadis Samurah disebutkan:
اَلْغُلاَمُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَ يُسَمَّى.
“Anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari kelahirannya) dan diberi nama.”

Hadis ini menunjukan, bahwa waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah adalah hari ketujuh dari kelahirannya. Tetapi ada pula pendapat yang menyatakan, bahwa penetapan hari ketujuh itu bukan merupakan suatu anjuran. Jika diaqiqahi pada hari keempat, kedelapan, kesepuluh atau setelah itu, maka aqiqah itu pun telah cukup.
Imam Malik berkata:
Pada lahirnya, penetapan hari ketujuh itu hanya bersifat anjuran. Sekiranya menyembelihnya pada hari keempat, kedelapan atau kesepuluh atau setelahnya, aqiqah itu telah cukup. Artinya, jika seorang bapak merasa mampu menyembelih aqiqah pada hari ketujuh, maka hal itu lebih utama, sesuai dengan perbuatan Nabi Saw. Namun jika hal itu terasa menyulitkan, maka diperbolehkan untuk melaksanakannya pada hari berapa saja sebagaimana pendapat Imam Malik.Dengan demikian , maka dalam perintah menyembelih aqiqah ini terdapat kelonggaran waktu dan kemudahan.
يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْر
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”(Al Baqarah:185)
D. Hukum Umum Yang Berkenaan dengan Aqiqah
Ada beberapa hukum umum yang berkaitan dengan masalah aqiqah yang harus diperhatikan:
a. Para ulama sepakat, bahwa semua hal yang dibolehkan di dalam aqiqah adalah juga hal yang diperbolehkan di dalam kurban. Adapun hal-hal yang diperbolehkan di dalam aqiqah adalah sebagai berikut:
1) Hendaknya binatang itu berumur satu tahun lebih atau memasuki dua tahun, jika binatang itu biri-biri atau kambing.
2) Hendaknya binatang sembelihan itu tidak cacat.
3) Sapi atau kerbau, tidak sah kecuali sudah mencapai umur dua tahun dan memasuki tahun ketiga.
b. Tidak boleh kooperatif, misalnya tujuh orang bergabung untuk melaksanakan aqiqah.
c. Sebagai ganti kambing, boleh menyembelih unta atau sapi. Argumentasi orang yang membolehkan aqiqah dengan unta atau sapi adalah hadis riwayat Ibnul-Mundzir dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda:
مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ، فَاهْرِيْقُوْا عَنْهُ دَمًا
“Anak itu harus diaqiqahi.Maka alirkanlah darah untuknhya.”
d. Diperbolehkan mengadakan pesta aqiqah dengan mengundang orang-orang lain yang dikehendaki untuk makan bersama.
e. Dianjurkan, agar aqiqah itu disembelih atas nama anak yang dilahirkan. Diriwayatkan oleh Ibnul-Mundzir dari Aisyah ra. Bahwa Nabi Saw. Bersabda,”Sembelihan atas namanya (anak yang dilahirkan) dan ucapkanlah,’Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, bagi-Mulah dan kepada-Mulah kupersembahkan aqiqah si Fulan ini.”
E. Hikmah Disyariatkannya Aqiqah
a. Aqiqah itu merupakan suatu pengorbanan yang akan mendekatkan anak kepada Allah pada awal menghirup udara kehidupan.
b. Suatu penebusan bagi anak dari berbagai musibah dan kehancuran.
c. Bayaran utang anak untuk memberikan syafa’at kepada orang tuanya.
d. Sebagai media menampakkan rasa gembira dengan melaksanakan syariat islam dan bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah Saw, pada hari kiamat.
e. Dapat memberikan sumber jaminan sosial dan menghapus gejala kemiskinan di dalam masyarakat.
A. Pengertian Qurban
Qurban adalah penyembelihan binatang qurban yang dilakukan pada Hari Raya Haji (selepas sholat Idul Adha) dan hari-hari Tasyriq yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah kerena beribadah kepada Allah s.w.t.
Daripada Aisyah r.a Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Tiada suatu amalan yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, yang lebih dicintai Allah selain daripada menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu pada hari kiamat kelak akan datang berserta dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima disisi Allah, maka beruntunglah kamu semua dengan (pahala) qurban itu.” (Riwayat al-Tarmuzi, Ibnu Majah dan al-Hakim)
Zaid bin Arqam berkata: “Mereka telah bertanya, Wahai Rasullullah, apakah Udhhiyah (Qurban) itu? Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Ia sunnah bagi bapa kamu Nabi Ibrahim.” Mereka bertanya lagi: Apakah ia untuk kita? Rasulullah s.a.w. menjawab: “Dengan tiap-tiap helai bulu satu kebaikan.” Mereka bertanya: “maka bulu yang halus pula? Rasullullah s.a.w bersabda yang bermaksud “Dengan tiap-tiap helai bulu yang halus itu satu kebaikan.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

B. Hukum Qurban
Sebagian ulama berpendapat nahwa kurban itu wajib, sedangkan sebagian lain berpenadpat sunat. Alasan yang menyatakan wajib yaitu firman Allah dalam surat Al-Kautsar ayat 2.
   
Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (QS. Al-Kautsar: 2)
Sedangkan alasan yang menyatakan bahwa kurban itu sunah adalah sabda rasulullah yang berbunyi:
”Saya disuruh menyembelih kurban dan kurban itu sunah bagi kamu.” (Riwayat Tirmidzi)
Hukumnya Sunnat Muakkad (sunnat yang dikuatkan) atas orang yang memenuhi syarat-syarat seperti berikut:
a. Islam
b. Merdeka (Bukan hamba)
c. Baligh lagi berakal
d. Mampu untuk berqurban
Binatang yang sah dijadikan kurban ialah yang tidak bercacat, misalnya pincang, sangat kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya, dan telah berumur sebagai berikut:
1. Domba (Da’ni) yang telah nerumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya.
2. Kambing yang sudah nerumur dua tahun lebih.
3. Unta yang telah berumur lima tahun lebih.
4. Sapi, kerbau yang telah berumur dua tahun lebih.
Seekor kambing hanya untuk satu orang , diqiyaskan dengan denda menninggalkan wajib haji. Tetapi seekor unta, kerbau, dan sapi boleh buat kurban tujuh orang. Sebagaimana hadits riwayat muslim yaitu :
Dari jabir,”Kami telah menyembelih kurban bersama-sama Rasulullah Saw, pada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang.” (Riwayat muslim).
Walaupun hukum berqurban itu sunnat tetapi menjadi wajib jika dinazarkan. Sabda Rasullullah s.a.w: “Barang siapa yang bernazar untuk melakukan taat kepada Allah, maka hendaklah dia melakukannya.” (Fiqh al-Sunnah).
C. Pelaksanaan Qurban
a. Binatang yang diqurbankan adalah jenis unta, lembu atau kerbau, kambing biasa yang berumur dua tahun, jika biri-biri telah berumur satu tahun atau telah gugur giginya sesudah enam bulan meskipun belum cukup satu tahun.
b. Binatang itu disyaratkan tidak cacat, tidak buta sebelah atau kedua-duanya, kakinya tidak pincang, tidak terlalu kurus, tidak terpotong lidahnya, tidak mengandung atau baru melahirkan anak, tidak berpenyakit atau berkudis. Binatang yang hendak disembelih itu haruslah sehat sehingga kita sayang kepadanya.
c. Waktu menyembelihnya sesudah terbit matahari pada Hari Raya Haji dan sesudah selesai sholat Idul Adha dan dua khutbah pendek, tetapi afdhalnya ialah ketika matahari naik seluruhnya pada Hari Raya Haji sehingga tiga hari sesuadah Hari Raya Haji (hari-hari Tastriq iaitu 11,12 dan 13 Zulhijjah).
d. Daging qurban sunnat, orang yang berkorban disunnatkan memakan sedikit daging qurbannya. Pembahagian daging qurban sunnat terdapat tiga cara yang utamanya adalah mengikut urutan sepererti berikut:
1. Lebih utama orang yang berqurban mengambil hati binatang qurbannya dan baki seluruh dagingnya disedekahkan
2. Orang yang berqurban itu mengambil satu pertiga daripada jumlah daging qurban, dua pertiga lagi disedekahkannya.
3. Orang yang berqurban mengambil satu pertiga daripada jumlah daging, satu pertiga lagi disedekahkan kepada fakir miskin dan satu pertiga lagi dihadiahkan kepada orang yang mampu. Sabda Rasullullah s.a.w: “Makanlah oleh kamu sedekahkanlah dan simpanlah.”
D. Hikmah Qurban
1. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim a.s.
2. Menididik jiwa ke arah taqwa dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.
3. Mengikis sifat tamak dan mewujudkan sifat murah hati, mau membelanjakan harta di jalan Allah s.w.t.
4. Menghapus dosa dan mengharapkan keridhoan Allah s.w.t.
5. Menjalin hubungan kasih sayang antar sesama manusia, terutama antara golongan berada dengan golongan yang kurang bernasib baik.
6. Akan memperoleh kendaraan atau tunggangan ketika akan melewati Sirat Al-Mustaqim di akhirat kelak. Sabda Nabi Muhammad saw, “ muliakanlah qurban kamu karena ia menjadi tunggangan kamu di titian pada hari kiamat.

Februari 18, 2010 - Posted by | tuhan dan manusia

2 Komentar »

  1. thanks info nya dan salam kenal

    Komentar oleh Tri Sigit Sulistyo | Februari 18, 2010 | Balas

    • moga 2 bermanfaaat saudaraku……………………. salam kenaaal jugaaa

      Komentar oleh bared18 | Februari 20, 2010 | Balas


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: