Bared18's Weblog

perawat bersatulah

penelitian tentang kekerasan anak


minum???

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada hakikatnya manusia adalah mahkluk mono puralis, yaitu mahkluk yang mempunyai sifat ketidakberdayaan dan ketidakmampuan. Anak sejak dilahirkan mempunyai sifat-sifat tertentu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Seperti diketahui bahwa anak adalah potensi dan penerus cita-cita bangsa, yang dasarnya telah diletakkan oleh generasi sebelumnya. Jika anak dijaga dan dipelihara dengan baik, maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula sesuai dengan keinginan dan harapan (Suherman, 2000). Belakangan ini banyak masyarakat yang memperlakukan anak dengan perlakuan yang salah dan tidak wajar.

Anak sebagai generasi penerus bangsa, selayaknya mendapatkan hak-hak dan kebutuhannya secara memadai. Sebaliknya mereka bukanlah objek (sasaran) tindakan kesewenang-wenangan dan perlakuan yang tidak manusiawi dari siapapun atau pihak manapun (Huraerah, 2006). Fenomena perlakuan salah merupakan suatu permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak, yang terjadi dilingkungan keluarga, komuniti, sekolah, dan tempat bermain. Khusus untuk kejadian dilingkungan keluarga, kasus ini tidak banyak terungkap kepermukaan, karena masih ada anggapan bahwa perlakuan salah pada anak masih menjadi urusan domestik. Akan tetapi kejadian ini telah menyangkut penegakkan hak azazi manusia dan hak anak, permasalahan perlakuan salah pada anak menjadi urusan publik, terutama terkait Undang Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Undang undang tersebut pasal 59 berbunyi “pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak korban perlakuan salah…”.

Diberlakukannya UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak seolah menjadi antiklimaks dari banyak aktivis perlindungan anak. Padahal UU ini saja tidak cukup untuk menurunkan tingkat kejadian kekerasan pada anak, karena belum banyak dikenal oleh aparat maupun masyarakat. Kekerasan terhadap anak akan tetap berlanjut dan jumlah kejadiannya tidak akan menurun karena situasi kondisi saat ini sangat sulit dan kesulitan ekonomi akan memicu berbagai ketegangan dalam rumah tangga yang akan mempengaruhi dan merugikan pihak yang paling lemah dalam keluarga tersebut, anak adalah pihak yang paling lemah dibandingkan anggota keluarga yang lain. Anak yang dinilai rentan terhadap tindakan kekerasan dan penganiayaan, seharusnya dirawat, diasuh, dididik dengan sebaik-baiknya, agar mereka tumbuh dan berkembang secara sehat dan wajar. Hal ini tentu saja perlu dilakukan, agar kelak dikemudian hari tidak terjadi generasi yang hilang (the lost generation),(Huraerah, 2006).

Anak-anak yang menjadi korban perlakuan salah, rata-rata mengalami gangguan psikologis. Mereka terlihat murung, tertutup, jarang beradaptasi dan bersosialisasi, kurang konsentrasi, dan prestasi akademik menurun (Hefler, 1976 dalam Patilimo, 2003). Studi lain menemukan bahwa anak-anak usia dibawah 25 bulan yang menjadi korban perlakuan salah, terjadi perbedaan prilaku dan perkembangan anak, yakni perbuatan kognitif, penyesuaian fungsi-fungsi disekolah, perilaku diruang kelas, dan perilaku dirumah (Mackner, 1997 dalam Patilimo, 2003).

Semua tindakan kekerasan kepada anak-anak akan direkam dalam alam tidak sadar mereka dan akan dibawa sampai kepada masa dewasa, dan terus sepanjang hidupnya (Rahmat, 2003) sehingga akan bedampak pada perilaku anak itu sendiri. Penyimpangan perilaku anak-anak dalam masyarakat sebagai akibat dari pendidikan yang salah. Sebagian muncul karena ketidak peduilian, sikap meremehkan, dan kelalaian dalam mendidik; sebagian lagi muncul dari niat baik, namun tetap salah karena ketidaktahuan cara mendidik dan sebagian lagi timbul sebagai dampak dari sikap orang tua yang diktator, otoriter dan lain-lain (Dimas, 2005).

Anak yang mendapat perlakuan salah dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif dan setelah menjadi orang tua, akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi dewasa agresif. Lawson menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental (mental disorders) ada hubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil (Rahmat, 2003).

Menurut Gelles, 2004 dalam (Huraerah, 2006) menjelaskan wujud atau konsekuensi dari tindakan kekerasan dam penelatanaran anak dapat menimbulkan kerusakan dan akibat yang lebih luas(far reaching). Luka-luka fisik, seperti: memar (bruises), goresan-goresan (scrapes), dan luka bakar (burns) hingga kerusakan otak (brain damage), cacat permanen (permanent disabilites), dan kematia (death). Efek psikologis pada anak korban kekerasan dan penganiayaan bisa seumur hidup, seperti: rasa harga diri rendah (a lowered sense of self-worth), ketidakmampuan berhubungan dengan teman sebaya (an inability to relate to peers), masa perhatian tereduksi (reduced attention span), dan gangguan belajar (learning disorders). Dalam beberapa kasus, kekerasan dapat mengakibatkan gangguan-gangguan kejiwaan (psychiatric disorders), seperti: depresi(depression), kecemasan berlebihan (excessive anxiety), atau gangguan identitas disosoatif (dissociative identity disorders), dan juga bertambahnya resiko bunuh diri (suicide).

Penderaan, penganiayaan anak, kekerasan pada anak atau perlakuan salah terhadap anak merupakan terjemahan bebas dari child abuse, yaitu perbuatan semena-mena orang yang seharusnya menjadi pelindung (guard) pada seorang anak (individu berusia kurang dari 18 tahun) secara fisik, seksual dan emosi. Dari batasan diatas umunya diakui bahwa pelakunya adalah orang dekat dengan sikorban (Sugiarno, 2007), sedangkan menurut Gelles, 2004 dalam (Huraerah, 2006) dalam Encyclopedia Article from Encarta, mengartikan child abuse sebagai “intentional acts that result in physical or emotional harm to children. The term child abuse cover a wide range of behavior, from actual physical assault by parents or other adult caretakers to neglect at at a chlid’s basic needs” (kekerasan tehadap anak adalah perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional. Istilah chil abuse meliputi berbagai macam tingkah laku, dari tindakan ancaman fisik secara lansung oleh orang tua atau orang dewasa lainnya sampai kepada penelantaran kebutuhan-kebutuhan dasar anak).

Huraerah (2006) membagi perilaku kekerasan terhadap anak meliputi; kekerasan secara fisik, kekerasan secara psikis / emosional, kekerasan secara seksual dan kekerasan secara sosial / penelantaran.

Bagi anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orangtua dan orang-orang terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah perjuangan, nilai-nilai, kebiasaan yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif (tidak tersadari). Sebagian ahli menyebutnya bahwa pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Purwanto, (2005) menyebutkan keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluarga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai baru yang rusak.

Rusmil (2004) dalam Huraerah (2006), mengatakan salah satu faktor penyebab perilaku kekerasan pada anak adalah faktor orang tua, sering orang tua tidak menyadari bahwa apa yang terjadi diantara mereka begitu mempengaruhi anak. Sering dikatakan, anak merupakan cermin dari apa yang terjadi dalam rumahtangga. Dari karakteristik keluarga yang berbeda dapat dilihat seperti suasana / lingkungan keluarga yang bahagia, maka wajah anak terlihat begitu ceria dan berseri. Sebaliknya jika mereka murung dan sedih, biasanya telah terjadi sesuatu yang berkaitan dengan orang tuanya. Tipe-tipe keluarga tertentu memiliki resiko untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengabaian pada anak, misalnya orang tua tunggal lebih memungkinkan melakukan tindakan kekerasan terhadap anak dibandingkan orang tua utuh. Tindakan kekerasan pada anak lebih banyak pada keluarga miskin dengan beberapa alasan namun pada keluarga yang kaya juga sering terjadi perilaku kekerasan. Karakteristik pendidikan dan umur orang tua juga mencerminkan dalam hal mendidik anak, sering ditemukan kekerasan yang terjadi pada anak akibat tingkat pendidikan orang tua yang rendah, orang tua yang belum matang secara psikologis, ketidaktahuan dalam mendidik anak, harapan orang tua yang tidak realistis terutama mereka yang memiliki anak sebelum berusia 20 tahun (Huraerah, 2006).

Data Komnas Perlindungan Anak (PA) tahun 2006 menunjukkan, kekerasan pada anak tidak mengenal strata sosial. Dikalangan menengah kebawah, kekerasan pada anak karena ada faktor kemiskinan. Dikalangan menengah keatas, karena ambisi orangtua untuk menjadikan anaknya yang terbaik, disekolah dan dimasyarakat pada umumnya. Oleh karena itu banyak sikap orang tua yang cenderung menjadikan anak sebagai dewasa kecil yang seolah-olah telah mampu melakukan apapun jua.

Studi yang dilakukan oleh Center For Tourism Research & Develompent Universitas Gadjah Mada ditujuh kota besar, Medan, Palembang, Semarang, Surabaya, Ujungpandang dan Kupang, korban child abuse berdasarkan jenisnya, physical abuse 3.215 (60.33%) kasus, emotional abuse 1.902 (35.69%) kasus dan sexual abuse 212 (3.98%) kasus, (UGM, 1999). Dalam sebuah media cetak (Kelana Kota, 2007) mengungkapkan hasil penelitian LSM Plan pada bulan Mei-Juni 2007 terhadap responden berumur 10-18 tahun. Hasilnya , 55,6% responden mengaku mendapat kekerasan fisik dari ibu mereka. Dari hasil wawancara peneliti (tanggal 20 Desember 2007) dengan 4 orang siswa klas 5 dan 6 SDN 08 Malalak, 75% mengatakan pernah dipukul oleh orangtua dan 100% pernah di ancam dan dimarahi oleh orangtua. Data yang diperoleh dari pihak sekolah yaitu kenakalan anak yang tercatat 6 bulan terakhir 13 orang yaitu berkelahi, tidak membuat tugas dan lain-lain, sedangkan rata-rata kehadiran hanya 75%, karena sakit 10%, alfa 5% dan lain-lain 10%.

Bertolak dari uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan karakteristik orangtua dengan perilaku kekerasan pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan dan lingkungan rumah) orangtua dengan perilaku kekerasan pada anak usia 10-12 tahun Di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan dan lingkungan rumah) orangtua dengan perilaku kekerasan pada anak usia 10-12 Tahun Di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Diketahuinya Distribusi frekuensi umur orangtua pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

b. Diketahuinya Distribusi frekuensi Pendidikan Orangtua pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

c. Diketahuinya Distribusi frekuensi penghasilan orangtua pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

d. Diketahuinya Distribusi frekuensi Lingkungan Rumah pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

e. Diketahuinya Distribusi frekuensi perilaku kekerasan pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

f. Diketahui hubungan umur Orang tua dengan perilaku kekerasan pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

g. Diketahui hubungan pendidikan Orang tua dengan perilaku kekerasan pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

h. Diketahui hubungan penghasilan Orang tua dengan perilaku kekerasan pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

i. Diketahui hubungan lingkungan rumah dengan perilaku kekerasan pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dibatasi melihat hubungan karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan dan lingkungan) orangtua dengan perilaku kekerasan pada anak usia 10-12 tahun di Sekolah Dasar Negri 08 Malalak Kabupaten Agam Tahun 2008.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2008, dengan tehknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 33 orang anak.

1.5 MANFAAT PENELITIAN

1.5.1 Peneliti

Untuk menerapkan mata ajaran riset keperawatan dan kemampuan berfikir dalam melakukan penelitian khususnya mengetahui hubungan karakteristik orangtua dengan perilaku kekerasan pada anak.

1.5.2 Institusi Pendidikan

Sebagai bahan atau acuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bagi peserta didik khususnya pada pendidikan S1 Keperawatan dan sebagai bahan untuk dilakukan penelitian lanjutan.

1.5.3 Lahan Penelitian

a. Sebagai masukan bagi pihak sekolah dalam melakukan pembinaan kepada orang tua anak/siswa guna mencegah terjadinya perilaku kekerasan pada anak.

b. Sebagai masukan bagi pihak sekolah guna mengamati tanda-tanda terjadinya perilaku kekerasan yang menimpa anak serta langkah-langkah dalam mengatasinya.

Agustus 12, 2008 - Posted by | Uncategorized

4 Komentar »

  1. kang bared…\
    penelitian tentang kekerasan anak ada landasan teorinya gak???
    klalau ada tolong dong di email ke email saya

    nuhun

    Komentar oleh HASBI | Februari 6, 2010 | Balas

  2. boss……penelitian tindak kekerasan diatas…penelitiannya judul dan tahun nya apa boleh tau…..pengen tau daftaar pustaka boss..thankss ber4

    Komentar oleh gusta | Februari 16, 2010 | Balas

  3. ne penelitan tahun brapa ya trus pengen tau daftar pustakanya jg,krm ke email q ya

    Komentar oleh DESI MARLENDA | November 1, 2010 | Balas

    • ini penelitian thn 2008 mbak……………. daftar pustaka ada………

      Komentar oleh bared18 | Desember 16, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: