Bared18's Weblog

perawat bersatulah

tentang asi ekslusif

boy antoni putra stikes fort de cock bukittinggi pns dinas kesehatan kabupaten agam

PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DAN FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHINYA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini di Indonesia adalah kurang kalori, protein hal ini banyak ditemukan bayi dan anak yang masih kecil dan sudah mendapat adik lagi yang sering disebut “kesundulan” artinya terdorong lagi oleh kepala adiknya yang telah muncul dilahirkan. Keadaan ini karena anak dan bayi merupakan golongan rentan. (3)

Terjadinya kerawanan gizi pada bayi disebabkan karena selain makanan yang kurnag juga karena Air Susu Ibu (ASI) banyak diganti dengan susu botol dengan cara dan jumlah yang tidak memenuhi kebutuhan. Hal ini pertanda adanya perubahan sosial dan budaya yang negatif dipandang dari segi gizi (1).

Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar empat bulan (5).

Setelah itu ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein vitamin dan mineral utama untuk bayi yang mendapat makanan tambahan yang tertumpu pada beras.
Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak dini yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan tentang peningkatan penggunaan ASI. Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan ASI termasik ASI EKSLUSIF telah memadai, hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden pada hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 yang betemakan “Dengan Asi, kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonsia”. Dalam pidatonya presiden menyatakan juga bahwa ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berusia empat bulan. Pemberian ASI tanpa pemberiaan makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif. Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian ASI di teruskan sampai anak berusia dua tahun (5)

ASI merupakan makanan yang bergizi sehingga tidak memerlukan tambahan komposisi. Disamping itu ASI mudah dicerna oleh bayi dan langsung terserap. Diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalam jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan. Selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang

gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama tiga bulan pertama (12)
ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhir-akhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu meyusui melupakan keuntungan menyusui. Selama ini dengan membiarkan bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal hanya sedikit bayi yang sebenarnya menggunakan susu botol atau susu formula. Kalau hal yang demikian terus berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman yang serius terhadap upaya pelestarian dari peningkatan penggunaan ASI.

Hasil penelitian yang dilakukan di Biro Konsultasi Anak di Rumah Sakit UGM Yogyakarta tahun 1976 menunjukkan bahwa anak yang disusui sampai dengan satu tahun 50,6%. Sedangkan data dari survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 1991 bahwa ibu, yang memberikan ASI pada bayi 0-3 bulan yaitu 47% diperkotaan dan 55% dipedesaan (Depkes 1992) dari laporan SKDI tahun 1994 menunjukkan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI EKSLUSIF kepada bayinya mencapai 47%, sedangkan pada repelita VI ditargetkan 80%.(6)

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr.Moh. Efendi di R.S. Umum Dr. Kariadi Semarang tahun 1977 didapatkan pemberian ASI setelah umur 2 bulan 31,6%, ASI + Susu botol 15,8% dan susu botol 52,6%. Sedangkan sebelumnya yaitu pada umur 1 bulan masih lebih baik yaitu 66,7% ASI dan 33,3% susu botol, dalam hal ini tampaknya ada pengaruh susu botol lebih besar.(11)

Juga hasil penelitian Dr. Parma dkk di Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil Padang tahun 1978 -1979 di dapatkan bahwa lama pemberian ASI saja sampai 4-6 bulan pada ibu yang karyawan adalah 12,63% dan pada ibu rumah tangga sebanyak 21,27%. Apabila dilihat dari pendidikannya ternyata 75% dari ibu-ibu yang berpendidikan tamat SD telah memberikan makanan pendamping ASI yang terlalu dini pada bayi.

Berbagai alasan dikemukakan oleh ibu-ibu mengapa keliru dalam pemanfaatan ASI secara Eksklusif kepada bayinya, antara lain adalah produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam menghisap, keadaan puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja, keinginan untuk disebut modern dan pengaruh iklan/promosi pengganti ASI dan tdak kalah pentingnya adalah anggapan bahwa semua orang sudah memiliki pengetahuan tentang manfaat ASI (2).

1.2. PERUMUSAN MASALAH.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana pemberian ASI secara ekslusif saai umur bayi 4 bulan dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi pemberian ASI Ekslusif.

1.3. TUJUAN PENULISAN

1.1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk mengetahui pemberian ASI EKSLUSIF dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

1.3.2. Tujuan Khusus
.

– Mengetahui cara pemberian ASI EKSLUSIF pada bayi.
– Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI pada bayi usia 4 bulan.

BAB II


TINJAUAN PUSTAKA

2.1. PENGERTIAN AIR SUSU IBU

Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya (10).

Sedangkan ASI Ekslusif adalah perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 4 (empat) bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain kecuali sirup obat. (6).

ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 4 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.

2.2. KEBAIKAN ASI DAN MENYUSUI.

ASI sebagai makanan bayi mempunyai kebaikan/sifat sebagai berikut:(9)
– ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi.

– ASI mengadung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan. Didalam usus laktosa akan dipermentasi menjadi asam laktat. yang bermanfaat untuk:
* Menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen.
* Merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin.
* Memudahkan terjadinya pengendapan calsium-cassienat.
* Memudahkan penyerahan herbagai jenis mineral, seperti calsium, magnesium.
– ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus, Lactoferrin.

– ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi.
– Proses pemberian ASI dapat menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayi.
Selain memberikan kebaikan bagi bayi, menyusui dengan bayi juga dapat memberikan keuntungan bagi ibu, yaitu: (10)
– Suatu rasa kebanggaan dari ibu, bahwa ia dapat memberikan “kehidupan” kepada bayinya.
– Hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan anak.
– Dengan menyusui bagi rahim ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil
– Mempercepat berhentinya pendarahan post partum.
– Dengan menyusui maka kesuburan ibu menjadi berkurang untuk beberpa bulan (menjarangkan kehamilan)
– Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang.

2.3 PRODUKSI ASI

Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh isapan mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang kelenjar Pictuitary Anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin, hormon utama yang mengandalkan pengeluaran Air Susu. Proses pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Replex, dimana hisapan putting dapat merangsang kelenjar Pictuitary Posterior untuk menghasilkan hormon oksitolesin, yang dapat

merangsang serabutotot halus di dalam dinding saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar.(12)
Kegagalan dalam perkembangan payudara secara fisiologis untuk menampunga air susu sangat jarang terjadi. Payudara secara fisiologis merupakan tenunan aktif yang tersusun seperti pohon tumbuh di dalam putting dengan cabang yang menjadi ranting semakin mengecil.
Susu diproduksi pada akhir ranting dan mengalir kedalam cabang-cabang besar menuju saluran ke dalam putting. Secara visual payudara dapat di gambarkan sebagai setangkai buah anggur, mewakili tenunan kelenjar yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu memproduksi susu, bila sel-sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi, anggur tersebut terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke cabang-cabang lebih besar, yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam aerola dan membentuk sinus lactiterous. Pusat dari areda (bagan yang berpigmen) adalah putingnya, yang tidak kaku letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam) mulut bayi.
Berdasarkan waktu diproduksi,
ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

A. Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
– Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi.
– Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah.
– Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
– Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
– Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
– Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
– Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature.
– Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum.
– Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
– Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak.
– PH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature.
– Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature.
– Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi krang sempurna, yangakan menambah kadar antobodi pada bayi.
– Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
B. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
– Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature.
– Disekresi dari hari ke 4 – hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 – ke 5.
– Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi.
– Volume semakin meningkat.

C. Air Susu Mature
– ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
– Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yangs ehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertamabagi bayi.
– ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untu bayi.
– Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat, riboflaum dan karotin.
– Tidak menggumpal bila dipanaskan.
– Volume: 300 – 850 ml/24 jam
– Terdapat anti microbaterial factor, yaitu:
• Antibodi terhadap bakteri dan virus.
• Cell (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T)
• Enzim (lysozime, lactoperoxidese)
• Protein (lactoferrin, B12 Ginding Protein)
• Faktor resisten terhadap staphylococcus.
• Complecement ( C3 dan C4)

2.4 Volume Produksi ASI

Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan dapat menghasilkan 50-100 ml sehari dari jumlah ini akan terus bertambah sehingga mencapai sekitar 400-450 ml pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua.(9) Jumlah tersebut dapat dicapai dengan menysusui bayinya selama 4 – 6 bulan pertama. Karena itu selama kurun waktu tersebut ASI mampu memenuhi lkebutuhan gizinya. Setelah 6 bulan volume pengeluaran air susu menjadi menurun dan sejak saat itu kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi oleh ASI saja dan harus mendapat makanan tambahan.(12)
Dalam keadaan produksi ASI telah normal, volume susu terbanyak yang dapat diperoleh adalah 5 menit pertama. Penyedotan/penghisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 15-25 menit(12)
Selama beberapa bulan berikutnya bayi yang sehat akan mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap hari. (Cool Akan tetapi penelitian yang dilakukan pada beberpa kelompok ibu dan bayi menunjukkan terdapatnya variasi dimana seseorang bayi dapat mengkonsumsi sampai 1 liter selama 24 jam, meskipun kedua anak tersebut tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Konsumsi ASI selama satu kali menysui atau jumlahnya selama sehari penuh sangat bervariasi. Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan volume air susu yang diproduksi, meskipun umumnya payudara yang berukuran sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak berubah selama masa kehamilan hanya memproduksi sejumlah kecil ASI (Cool
Pada ibu-ibu yang mengalami kekurangan gizi, jumlah air susunya dalam sehari sekitar 500-700 ml selama 6 bulan pertama, 400-600 ml dalam 6 bulan kedua, dan 300-500 ml dalamtahun kedua kehidupan bayi. Penyebabnya mungkin dapat ditelusuri pada masa kehamilan dimana jumlah pangan yang dikonsumsi ibu tidak memungkinkan untuk menyimpan cadangan lemak dalam tubuhnya, yang kelak akan digunakan sebagai salah satu komponen ASI dan sebagai sumber energi selama menyusui. Akan tetapi kadang-kadang terjadi bahwa peningkatan jumlah produksi konsumsi pangan ibu tidak selalu dapat meningkatkan produksi air susunya. Produksi ASI dari ibu yang kekurangan gizi seringkali menurun jumlahnya dan akhirnya berhenti, dengan akibat yang fatal bagi bayi yang masih sangat muda. Di daerah-daerah dimana ibu-ibu sangat

©
kekurangan gizi seringkali ditemukan “merasmus” pada bayi-bayi berumur sampai enam bulan yang hanya diberi ASI.(Cool
2.5 Komposisi ASI
Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (Iga), laktoterin dan sel-sel darah putih, terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn).
Berdasrkan sumber dari food and Nutrition Boart, National research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi Kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml seperti tertera pada tabel berikut: (4)
Tabel 1
Komposisi Kolostrum, ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml
Zat-zat Gizi Kolostrum ASI Susu Sapi
Energi (K Cal)
Protein (g)
– Kasein/whey
– Kasein (mg)
– Laktamil bumil (mg)
– Laktoferin (mg)
– Ig A (mg)

Laktosa (g)
Lemak (g)
Vitamin
– Vit A (mg)
– Vit B1 (mg)
– Vit B2 (mg)
– Asam Nikotinmik (mg)
– Vit B6 (mg)
– Asam pantotenik
– Biotin
– Asam folat
– Vit B12
– Vit C
– Vit D (mg)
– Vit Z
– Vit K (mg)

Mineral
– Kalsium (mg)
– Klorin (mg)
– Tembaga (mg)
– Zat besi (ferrum) (mg)
– Magnesium (mg)
– Fosfor (mg)
– Potassium (mg)
– Sodium (mg)
– Sulfur (mg) 58
2,3
140
218
330
364
5,3
2,9
151
1,9
30
75

183
0,06
0,05
0,05
5,9

1,5

39
85
40
70
4
14
74
48
22 70
0,9
1 : 1,5
187
161
167
142
7,3
4,2
75
14
40
160
12-15
246
0,6
0,1
0,1
5
0,04
0,25
1,5
35
40
40
100
4
15
57
15
14 65
3,4
1 : 1,2




4,8
3,9
41
43
145
82
64
340
2,8
,13
0,6
1,1
0,02
0,07
6
130
108
14
70
12
120
145
58
30


©
Perbandingan komposisi kolostrum, ASI dan susu sapi dapat dilihat pada tabel 1. Dimana susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. Sebagian besar dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein whey yang larut. Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi. Bila bayi diberi susu sapi, sedangkan ASI walaupun mengandung lebih sedikit total protein, namun bagian protein “whey”nya lebih banyak, sehingga akan membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh usus bayi.
Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase lakatasi air susu yang pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1 – 2% lemak dan terlihat encer. Air susu yang encer ini akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut “Hand milk”, mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini (Cool
Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. Jumlahnya dalam ASI tak terlalu bervariasi dan erdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu sapi.
Disamping fungsinya sebagai sumber energi, juga didalam usus sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat. Didalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain.
ASI mengandung lebih sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap, jumlah ini akan mencukupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya ASI juga mengandung lebih sedikit natrium, kalium, fosfor dan chlor dibandingkan dengan susu sapi, tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi.
Apabila makanan yang dikonsumsi ibu memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit terdapat vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio jarang terjadi pada aanak yang diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak. (Cool

2.6 Manajemen Laktasi

manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.(4)
Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut(4)
a. Pada masa Kehamilan (antenatal)
– Memberikan penernagan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya, disamping bahaya pemberian susu botol.
– Pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara/keadaan putting susu, apakah ada kelainan atau tidak. Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil.
– Perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup.
– Memperhatikan gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trisemester kedua sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil.

– Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini perlu diperhatikan keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya.
b. Pada masa segera setelah persalinan (prenatal)
– Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menysui yang baik dan benar, yakni: tentang posisi dan cara melakatkan bayi pada payudara ibu.
– Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
– Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000S1) dalam waktu dua minggu setelah melahirkan.
c. Pada masa menyusui selanjutnya (post-natal)
– Menyusui dilanjutkan secara ekslusif selama 4 bulan pertama usia bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya.
– Perhatikan gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 ½ kali lebih banyak dari biasa dan minum minimal 8 gelas sehari.
– Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
– Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang keberhasilan menyusui.
– Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan menysusui seperti payudara banyak disertai demam.
– menghubungi kelompk pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari ibu-ibu lain yang sukses menyusui bagi mereka.
– Memperhatikan gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 4 bulan, berikan MP ASDI yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.
2.7 Makanan Bayi Berusia 0-4 bulan
Ibu-ibu seharusnya bersyukur bila payudaranya, ternyata dapat memproduksi air susu yang berlimpah, karena anugrah tuhan ini tidak dimiliki oleh semua ibu. Meskipun demikian, diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalm jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya, secara penuh tanpa makanan tamabahan selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama 3 bulan pertama (Warno FG, 1990 hal.175).
Dalam usia 0-4 bulan bayisepenuhnya mendapat makanan berupa ASI dan tidak perlu di beri makanan lain, kecuali jka ada tanda-tanda produksi ASI tidak mencukupi.
Keadaan gizi anak pada waktu lahir sangat dipengaruhi oleh keadaan gizi semasa hamil. Ibu yang semasa hamilnya menderita gangguan gizi selain akan melahirkan anak yang gizinya tidak baik, juga kemungkinan dapat melahirkan anak dengan berbagai kelainan dalam pertumbuhannya, atau mungkin anak akan lahir mati. Sejak terjadinya pembuahan terhadap sel telur dalam rahim ibu. Hanya makanan yang memenuhi syarat gizi bagi anak dan bagi ibunya yang dapat membantu syarat gizi bagi wanita hamil dan pengaturan makanan anak yang sesuai merupakan masalah pokok yang perlu dihayati oleh para ibu.(9)
Menyusui adalah cara makan aanak-anak yang tradisional dan ideal, yang biasanya sanggup memenuhi kebutuhan gizi seseorang bayi untuk masa hidup empat sampai enam bulan pertama. Bahkan setelah diperkenankan bahan makanan tambahan yang utama, ASI masih tetap merupakan sumber utama yang bisa mencukupi gizi.
Dalam tahap usia sejak lahir sampai 4 bulan, ASI merupakan makanan yang paling utama. Pemberian ASI masa ini memberikan beberpa keuntungan.

Betapapu tingginya dan baiknya mutu ASI sebagai makanan bayi, manfaatnya bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sangat ditentukan oleh jumlah ASI yang dapat diberikan oleh ibu. Kebaikan dan mutu ASI yang dapat dihasilkan oleh ibu tidak sesuai dengan kebutuhan bayi, dan akibatnya bayi akan menderita gangguan gizi.
ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berumur 4 bulan. Hal ini sesuai dengan kebijaksanaan PP-ASI yaitu ASI diberikan selama 2 tahun dan baru pada usia 4 bulan bayi mulai di beri makanan pendamping ASI, paling lambat usia 6 bulan karena ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi pada 4 bulan pertama.

Adapun makanan bayi umur 0-4 bulan adalah sebagai berikut(2)
– Susui bayi segera 30 menit setelah lahir.
Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Menyusui sangat baik untuk bayi dan ibu. Dengan menysusui akan terjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan anak.
– Berikan Kolostrum
– Berikan ASI dari kedua payudara, kiri dan kanan secara bergantian, tiap kali sampai payudara terasa kosong. Payudara yang dihisap sampai kosong merangsang produksi ASI yang cukup.
– Berikan ASI setiap kali meminta/menangis tanpa jadwal.
– Berikan ASI 0-10 kali setiap hari, termasuk pada malam hari.
Pola pemberian ASI/makanan pendamping (MP-ASI) yang dianjurkan DEPKES seperti terlihat pada tabel berikut:

Tabel 2
Pola Pemebeian ASI/MP-ASO menurut golongan umur
Golongan Umur
(Bulan) Pola Pemberian ASI/ MP-ASI
ASI MP – ASI
Makanan
Lumat Makanan Lembik Makanan Keluarga
6 – 4
4 – 6
6 – 12
12 – 24

2.8. Faktor-faktor yang memperoleh Produksi ASI
Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah:
a. Makanan Ibu
Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi jika makanan ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI.
Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar Ibu menghasilkan 1 liter ASI diperlukan makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri, yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur.
Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tamabahan makanan, maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih jika

©2004 Digitized by USU digital library 9
pada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur dan kacang-kacangan, bahan makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI.
b. Ketentraman Jiwa dan Pikiran
Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya, reflek tersebut adalah:
– Reflek Prolaktin
Reflek ini secara hormonal untuk memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi rangsangan neorohormonal pada putting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus, terus kelobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar –kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI.
– Let-down Refleks (Refleks Milk Ejection)

Refleks ini membuat memancarkan ASI keluar. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu, maka bayi akan memutar kepalanya kearah payudara ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke payudara ibu disebut :”rooting reflex (reflex menoleh). Bayi secara otomatis menghisap putting susu ibu dengan bantuan lidahnya. Let-down reflex mudah sekali terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi, tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Bayi tidak cukup mendapat ASI dan akan menangis. Tangisan bayi ini justru membuat ibu lebih gelisah dan semakin mengganggu let down reflex.

c. Pengaruh persalinan dan klinik bersalin
Banyak ahli mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitik beratkan upaya agar persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu dan anak berada dalam keadaan selamat dan sehat. Masalah pemebrian ASI kurang mendapat perhatian. Sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu sapi. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin buruk apabila disekeliling kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang memuji penggunaan susu buatan.
d. Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron.
Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oxitoksin, yaitu hormon yang dapat merangsang produksi ASI.

©2004 Digitized by USU digital library 10
e. Perawatan Payudara
Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan mengurut payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut diharapkan apablia terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar.
BAB III
PEMBAHASAN
ASI merupakan malanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi baru lahir. ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi akan energi dan gizi selama 4-6 bulan pertama kehidupannya, sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Selain sebagai sumber energi dan zat gizi, pemberian ASI juga merupakan media untuk menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayinya. Hubungan ini akan menghantarkan kasih sayang dan perlindungan ibu kepada bayinya serta memikat kemesraan bayi terhadap ibunya, sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan erat. Namun sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui bayinya atau menghentikan menyusui lebih dini. Untuk itu dalam Bab pembahasan ini akan dibahas “Mengapa ASI Ekslusif tidak diberikan, dan kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi tidak diberikannya ASI Ekslusif.”
Penelitian dan pengamatan yang dilakukan diberbagai daerah menunjukkan dengan jelas adanya kecenderungan meningkatkannya jumlah ibu yang tidak menyusui bayi ini dimulai di kota terutama pada kelomopk ibu dan keluarga yang berpenghasilan cukup, yang kemudian menjalar ke daerah pinggiran kota dan menyebar sampai ke desa-desa. Banyak hal yang menyebabkan ASI Ekslusif tidak diberikan khususnya bagi ibu-ibu di Indonesia, hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh.
a. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga.
Hubungan kerabat yang luas di daera pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Pengaruh orang tua seperti nenek, kakek, mertua dan orang terpandang dilingkungan keluarga secara berangsur menjadi berkurang, karena mereka itu umumnya tetap tinggal di desa sehingga pengalaman mereka dalam merawat makanan bayi tidak dapat diwariskan.
b. Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologipembuatan makanan bayi seperti pembuatan tepung makanan bayi, susu buatan bayi, mendorong ibu untuk mengganti ASI dengan makanan olahan lain.
c. Iklan yang menyesatkan dari produksi makanan bayi menyebabkan ibu beranggapan bahwa makanan-makanan itu lebih baik dari ASI
d. Para ibu sering keluar rumah baik karena bekerja maupun karena tugas-tugas sosial, maka susu sapi adalah satu-satunya jalan keluar dalam pemberian makanan bagi bayi yang ditinggalkan dirumah.
e. Adanya anggapan bahwa memberikan susu botol kepada anak sebagai salah satu simbol bagi kehidupan tingkat sosial yan lebih tinggi, terdidik dan mengikuti perkembangan zaman.
f. Ibu takut bentuk payudara rusak apabila menyusui dan kecantikannya akan hilang.
g. Pengaruh melahirkan dirumah sakit atau klinik bersalin. Belum semua petugas paramedis diberi pesan dan diberi cukup informasi agar menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayi mereka, serta praktek yang keliru dengan memberikan susu botol kepada bayi yang baru lahir.
Sering juga ibu tidak menyusui bayinya karena terpaksa, baik karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu

©
merasa sakit sewaktu bayinya menyusu, luka-luka pada putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri, kelainan pada putting susu dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria yang merupakan alasan untuk tidak menganjurkan ibu menyusui bayinya, demikian juga ibu yang gizinya tidak baik akan menghasilkan ASI dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan ibu yang sehat dan gizinya baik. Disamping itu juga karena faktor dari pihak bayi seperti bayi lahir sebelum waktunya (prematur) atau bayi lahir dengan berat badan yang sangat rendah yang mungkin masih telalu lemah abaila mengisap ASI dari payudara ibunya, serta bayi yang dalam keaaddaan sakit.
Memburuknya gizi anak dapat juga terjadi akibat ketidaktahuan ibu mengenai cara – cara pemberian ASI kepada anaknya. Berbagai aspek kehidupan kota telah membawa pengaruh terhadap banyak para ibu untuk tidak menyusui bayinya, padahal makanan penganti yang bergizi tinggi jauh dari jangkauan mereka. Kurangnya pengertian dan pengertahuuan ibu tentang manfaat ASI dan menyusui menyebabkan ibu – ibu mudah terpengaruh dan beralih kepada susu botol (susu formula).Kesehatan/status gizi bayi/anak serta kelangsungan hidupnya akan lebih baik pada ibu- ibu yang berpendidikan rendah. Hal ini karena seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas serta kemampuan untuk menerima informasi lebih tinggi. Pada penelitian di Pakisttan dimana tingkat kematian anak pada ibu –ibu yang lama pendidikannya 5 tahun adalah 50 % lebih rendah daripada ibu – ibu yang buta huruf. Demikian juga di Indonesiabahwa pemberian makanan padat yang terlalu dini.Sebahagian besar dilakukan oleh ibu- ibu yang berpendidikan rendah , agaknya faktor ketidaktauanlah yang menyebabkannya.
Faktor lain yang berpengaruh terhadap pemberian ASI adalah sikap ibu terhadap lingkungan sosialnya dan kebudayaan dimana dia dididik. Apabila pemikiran tentang menyusui dianggap tidak sopan dan memerlukan , maka “let down reflex” (reflex keluar) akan terhambat. Sama halnya suatu kebudayaan tidak mencela penyusunan, maka pengisapan akan tidak terbatas dan “du demand” (permintaan) akan menolong pengeluaran ASI.
Selain itu kemampuan ibu yang seusianya lebih tua juga amat rendah produksi ASInya, sehingga bayi cendrung mengalami malnutrisi. Alasan lain ibu – ibu tidak menyusui bayinya adalah karena ibu tersebut secara tidak sadar berpendapat bahwa menyusui hanya ibu merupakan beban bagi kebebasan pribadinya atau hanya memperburuk potongan dan ukuran tubuhnya.
Kendala lain yang dihadapi dalam upaya peningkatan penggunaan ASI adalah sikap sementara petugas kesehatan dari berbagai tingkat yang tidak bergairah mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan. Konsep baru tentang pemberian ASI dan mengenai hal – hal yang berhubungan dengan ibu hamil, ibu bersaliin, ibu menyusui dan bayi baaru lahir. Disamping itu juga sikap sementara penaggung jawab ruang bersaliiin dan perawatan dirumah sakit, rumah bersalinn yang berlangsung memberikan susu botol pada bayi baru lahir ataupun tidak mau mengusahakan agar iibu mampu memberikan ASI kepada bayinya, serta belum diterapkannya pelayanan rawaat disebahagian besar rumah sakit /klinik bersalin.
Semua faktor– faktor terebut diatas yang dianggap sebagai penyebab semakin melorotnya kegiatan meminumkan air susu ibu ke kalangan para ibu – ibu saat ini.
Oleh sebab itu upaya yang dapat dilakukan antara lain :
– Motivasi untuk menyusui.
Di daerah pedesaan menyusui anak terlihat sebagai suatu proses yang normal, dan tidak dilakukan sembunyi-sembunyi. Ibu-ibu tidak malu menyusui bayinya. Kebiasaan itu adpat diciptakan suatu kondisi dan gairah bagi para gadis yang melihatnya, sehingga ada kemauan naluriah melakukan hal yang sama. Bila tumbuh menjadi besar dan punya anak meeka ingin melakukan hal yang serupa. Sebaliknya, kebiasaan ibu-ibu di kota yang malu-nalu serta sembunyi-sembunyi menyusui bayinya, tentu akan banyak mempengaruhi tabiat gadis-gadis

©2004
disekitarnya untuk berbuat sama, dan menyusui anak merupakan sesuatu hal yang harus dihindarkan.
Ibu-ibu harus dibangkitkan kemauan dan kesediannya untuk menyusui anaknya, terutama sebelum melahirkan. Dan bila menyusui, hendaknya ditingkatkan pada masyarakat, pengertian tersebut harus ditanamkan pada anak-anak gadis sejak masih usia muda, bahwa menyusui anak merupakan bagian dari tugas biologis seorang ibu.
Didaerah perkotaan, sasaran yang harus diberi pendidikan adalah para gadis remaja. Didaerah pedesaan, pendidikan harus diarahkan untuk tujuan mencegah marasmus. Perkembangan teknologi yang telah dapat menciptakan “humanized milk” menyebabkan nilai ASI dan kebiasaan menyusui yang pada hakekatnya memberikan fasilitas kemudahan pengadaan susu, murah serta praktis semakin kurang diminati dan dihindari. Kemajuan dibidang kesehatan lingkungan dan industri makanan sapihan membuat segalanya menjadi sangat praktis sehingga para ibu lebih cenderung menggunakan susu botol. Untuk mengatasi masalah tersebut, ibu-ibu yang mampu harus dihimbau dan diberi motivasi agar kembali pada praktek menyusui anak sendiri. Karena hal itu mendatangkan keuntungan bagi hubungan ibu dan anak dan terutama karena hal itu memenuhi ciri dan kodrat manusia.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. KESIMPULAN

– Air Susu Ibu merupakan makanan yang terbaik bagi bayi yang harus diberikan pada bayi sampai bayi berusia 4 bulan tanpa makanan pendamping.
– Adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar persentase ASI secara Eksklusif.
– Masih rendahnya tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang pemberian ASI.

4.2. SARAN

– Perlu peningkatan penyuluhan kesehatan secara umum khususnya tentang ASI dan menyusui kepada masyarakat, khususnya kepada ibu hamil tentang gizi dan perawatan payudara selama masa kehamilan, sehingga produksi ASI cukup.
– Perlu ditingkatkan peranan tenaga kesehatan baik di rumah sakit, klinik bersalin, Posyandu di dalam memberikan penyuluhan atau petunjuk kepada ibuhami, ibu baru melahirkan dan ibu menyusui tentang ASI dan menyusui.

DAFTAR PUSTAKA

1. Djaeni Ahmad Soediaotama, (terjemahan); Faktor Gizi., Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1985
2. Depkes RI. Pedoman Pemberian MP-ASI, Jakarta. 1992
3. Djaeni Ahmad Sedjaoetama, Ilmu Gizi II, Dian Rakyat, Jakarta 1995
4. Depkes RI, manajemen Laktasi. Jakarta. 1994
5. Depkes RI, Panduan 13 Pesan dasar Gizi Bayi, dan Balita, Bhratara, Jakarta 1992
6. Depkes RI, Petunjujk Pelaksanaan Peningkatan ASI Ekslusif. Jakarta. 1997
7. Moehji Sjahmien. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita. Bharatara. 1992
8. Mochtadi Deday, Gizi untuk Bayi. Sinar Harapan. Jakarta. 1994
9. Moehji Sjahmien, Ilmu Gizi, Bhratara, Jakarta. 1992
10. Puspita Theresia, Bahan Kuliah Gizi Dalam Daur Kehidupan. Akzi. Banda Aceh. 1995

BOY ANTONI PUTRA
( STIKES FORT DE KOCK BUKITTINGGI)


Juli 30, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar


boy antoni putra stikes fort de cock bukittinggi pns dinas kesehatan kabupaten agam
PENGENDALIAN
BIAYA KESEHATAN PEGAWAI
* Oleh : boy antoni putra
1. PENDAHULUAN :
Dari data 11 negara anggota WHO kawasan Asia Selatan dan Tenggara (SEARO) dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 milyar jiwa, diperoleh angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja setara dengan 22,5 juta DALY dan 699,000 kematian yang disebabkan oleh berbagai faktor resiko di tempat kerja dengan perincian: 5 juta kecelakaan/ tahun, 36 kecelakaan /menit, 90,000 kecelakaan fatal/ tahun, 300 kematian/ hari. Di Indonesia, dari data Jamsostek tahun 2002 diperoleh informasi sebanyak 66.367 kasus kecelakaan akibat kerja, dengan kematian sebesar 4.142 orang (CFR= 6,24%) dengan kerugian langsung setara dengan hilangnya 498.125.460 jam kerja efektif. Dari Data Jamsostek tahun 2003 diperoleh data setiap hari kerja terjadi 440 kasus kecelakaan akibat kerja dan 10.393 kasus (9,83%) mengalami cacat atau tidak mampu kerja 1). Data BPS tahun 2000 menyebutkan jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 95.650.961 orang dengan perincian laki-laki 58.779.722 orang (61,39%) dan perempuan 36.871.239 orang (38,61%) 1) diantaranya termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) sekitar 3.648.005 orang pada tahun 2003 2) maka masalah kesehatan dan keselamatan di tempat kerja serta masalah kesejahteraan pegawai/ tenaga kerja menjadi masalah nasional yang penting. Keharusan memenuhi kesejahteraan pegawai/ tenaga kerja, termasuk didalamnya jaminan pemeliharaan kesehatan tercantum dalam UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan 3) dan UU No. 8 tahun 1974 jo. UU No.43 tahun 1999 tentang Kepegawaian 4) serta UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja 5). Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 35 menjelaskan bahwa pemberi kerja wajib memberi perlindungan kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, sedangkan pasal 86 ayat (1) menjelaskan bahwa setiap pekerja / buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan * Makalah disajikan pada Konggres Nasional Praktik Pelayanan Kesehatan di Indonesia, diselengarakan oleh Perhimpunan Ahli Manajemen Jaminan dan Asuransi Kesehatan Indonesia (PAMJAKI), 29 – 31 Agustus 2006 di Hotel Borobudur Jakarta
* * Pengajar pada Fakultas Kesehatan Masyarakat & Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang.
kesehatan kerja, moral dan kesusilaan serta perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama dan ayat (2) menyebutkan bahwa untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujutkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. UU No. 43 tahun 1999 tentang Kepegawaian pasal 32 ayat (1) menyebutkan bahwa untuk meningkatkan kegairahan bekerja diselenggarakan usaha kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil (PNS), ayat (2). Usaha kesejahteraan yang dimaksud yaitu program pensiun, tabungan hari tua, asuransi kesehatan, tabungan perumahan dan asuransi pendidikan bagi putera-puteri PNS, dan ayat (3) mengamanatkan PNS wajib membayar iuran setiap bulan dari penghasilannya, sedangkan ayat (4) menjelaskan bahwa untuk penyelenggaraan pensiun dan asuransi kesehatan, pemerintah menanggung subsidi dan iuran. Biaya kesehatan nasional, termasuk didalamnya biaya kesehatan pegawai/ tenaga kerja menunjukkan peningkatan yang berarti dari tahun ke tahun. Secara makro, peningkatan biaya kesehatan nasional dipicu oleh beberapa hal yaitu: peningkatan jumlah penduduk yang akan meningkatkan demand terhadap pelayanan kesehatan yang pada gilirannya akan berpengaruh pada peningkatan biaya kesehatan, inflasi biaya kesehatan yang cenderung lebih tinggi dibanding inflasi umum,transisi epidemiologi dan reemerging diseases, pelayanan kesehatan yang cenderung padat modal, padat teknologi, padat karya ditandai dengan spesialisasi tenaga kesehatan dan penggunaan iptek yang terus berkembang, perubahan pola pelayanan kesehatan yang semakin spesialis, masih lemahnya mekanisme pengendalian biaya dengan audit medis dan standar profesi masih kurang, begitu pula upaya penghematan biaya (cost containment) pada institusi kesehatan belum menjadi kesadaran segenap pengelolanya, dominasi cara pembayaran out of pocket dalam membiayai kesehatan, penyalahgunaan asuransi kesehatan dengan kecenderungan penggunaan berlebihan atau sistem reimbursement pada askes (swasta). 6) 7) 8) Pada dekade delapanpuluhan komposisi pembiayaan kesehatan nasional sebagai berikut : masyarakat/ swasta 70% dan pemerintah 30%. Untuk sumber dari masyarakat/ swasta dapat diperinci : rumah tangga/ out of pocket 75%, perusahaan 19% dan asuransi 6%. Jumlah biaya kesehatan nasional rata-rata sekitar Rp.2.260 milyar / tahun. Biaya kesehatan per kapita/ tahun hanya US$.14 atau 2,5% dari GDP (Gross Domestic Product) padahal standar WHO untuk persentase pembiayaan kesehatan terhadap GDP adalah 5%. Biaya kesehatan per kapita/ tahun diperinci : dari masyarakat/ swasta US$.9.8 dan dari pemerintah US$.4.2. Sebagai perbandingan : Malaysia US$.67, Thailand US$73, Filipina US$.14 dan India US$.21 per kapita/ tahun 9). Pada dekade sembilanpuluhan komposisi biaya kesehatan nasional belum berubah banyak, masyarakat/ swasta sebesar 75% dan pemerintah 25%. Biaya dari masyarakat/ swasta diperinci : rumah tangga / out of pocket 75%, perusahaan 18,7% dan asuransi 6,3%. Biaya kesehatan nasional sekitar 2,5% dari GDP atau perkapita/ tahun sebesar US$.12, pemerintah US$. 4 dan masyarakat/ swasta US$. 8, saat itu Malaysia US$.93, Thailand US$.64, Filipina US$.124 dan India US$.133. Dari US$.8 tersebut diperinci : US$.6 merupakan belanja rumah tangga perkapita, US$.1,5 belanja kesehatan perusahaan dan hanya US$.0,5 bersumber pada asuransi kesehatan 10) Pada dekade pertama abad 21, komposisi tersebut berubah dengan meningkatnya pembiayaan dari masyarakat/ swasta menjadi 38% dan pemerintah 62% pada tahun 2002. Sumber biaya dari masyarakat dapat diperinci : 42%, perusahaan 16% dan asuransi 4%. Jumlah total biaya kesehatan mencapai Rp.51.992 milyar dibandingkan Rp.45.247 milyar pada tahun 2001. Kenaikan ini antara lain disebabkan oleh adanya program Jaring Perlindungan Sosial Bidang Kesehatan untuk mengatasi dampak krisis moneter tahun 1997 – 2000 dengan subsidi biaya kesehatan bagi keluarga miskin, yang kemudian dilanjutkan dengan PKPS BBM pada tahun 2002. Total biaya kesehatan nasional pada tahun 2001 sebesar 3% dari GDP dan di tahun 2002 sebesar 3,2% dan biaya kesehatan perkapita naik dari US$.21 menjadi US$.26. 11) Tabel 1 Komposisi Pembiayaan Kesehatan Indonesia (jumlah rupiah dan persentase) Pembiayaan kesehatan nasional Dekade 80 an 9) Dekade 90an 10) Awal 2000an 11) 2001 2002 Total biaya kesehatan nasional Perkapita/ tahun a.Masyarakat / swasta b.Pemerintah 2.260 M rata2 US$.14 US$.9.8 (70,0) US$.4.2 (30,0) US$.12 US$.8 (75,0) US$.4 (25,0) 45.247 M US$.21 US$.13,4 (64,2) US$. 7,56 (35,8) 51.992 M US$.26 US$.16,6 (62,0) US$.10,4 (38,0) Masyarakat/ swasta a. Rumah tangga/ out of pocket b. Perusahaan / naker c.Asuransi (75,0) (19,0) (6,0) (75,0) (18,7) ( 6,3) (42,0) (16,0) (4,0) Tabel 2 menunjukkan biaya kesehatan pegawai yang ada di perusahaan sebesar 19,94% pada tahun 2001 dan turun menjadi 18,72% di tahun 2002 dan yang tercakup dalam askes juga turun dari 4,11% menjadi 3,16%. Biaya kesehatan dari masyarakat/ swasta termasuk pegawai/tenaga kerja terbanyak dipergunakan untuk rawat inap. Tabel 2 Belanja Kesehatan Masyarakat / Swasta Tahun 2001 dan 2002 11) Sumber biaya dan pemanfaatannya 2001 2002 Masyarakat/ swasta: a. Out of pocket (rumah tangga) b. Perusahaan c. Askes d. Obat 29.036 M (45,90) (19,94) ( 4,11) (30,05) 33.257 M (48,63) (18,72) ( 3,16) (27,49) Masyarakat/ swasta (milyar Rp) a. Berobat sendiri b. Rawat inap c. Rawat jalan d. Check up 13.116 M 16,10 61,63 14,44 7,82 16.119 M 18,12 61,16 13,74 6,98 Rawat jalan : a. Out of pocket b. Swasta/ perusahaan Rawat inap: a. Out of pocket b. Swasta/ perusahaan (60,09) (39,91) (61,41) (38,59) (78,6) (21,4) (93,5) ( 6,5) Masih banyak pemilik/ manajer perusahaan yang belum menyadari pentingnya pegawai sebagai aset perusahaan yang harus dipelihara dan dikembangkan kapasitasnya juga menyebabkan masih banyak perusahaan yang tidak mengalokasikan anggaran perusahaan untuk pemeliharaan kesehatan pegawainya 1) Kesadaran pengusaha untuk menjamin pemeliharaan kesehatan pegawainya masih rendah. Data dari PT. Jamsostek pada tahun 2004 menunjukkan total jumlah perusahaan yang terdaftar di Jamsostek sebanyak 118.666 buah dengan jumlah tenaga kerja yang didaftarkan sebagai peserta Jamsostek sebanyak 19.936.166 orang. Dari jumlah itu jumlah perusahaan yang aktif hanya sekitar 59,30% atau sebanyak 70.378 buah dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 7.812.409 orang 12) Bila jumlah angkatan kerja pada tahun 2004 siperkirakan sekitar 110 juta orang maka diluar Jamsostek masih terdapat sekitar 90 juta tenaga kerja yang bekerja di sektor informal yang belum tercakup jaminan kesehatan dan selama ini belum banyak digarap oleh Jamsostek. Kesertaan penduduk Indonesia dalam asuransi kesehatan diperkirakan sekitar 78.900.000 orang ( 36 % dari 220 juta penduduk Indonesia ) pada tahun 2004. Jumlah tersebut diperinci menjadi : PNS (3,6 juta orang) dan anggota keluarganya yang tercakup dalam Askes diperkirakan sebanyak 14 juta orang, askes sukarela PT. Askes sekitar 1 juta orang, askes miskin (program PJKMM) lewat PT. Askes sekitar 54 juta orang, askes untuk anggota TNI sekitar 2 juta orang, Jamsostek 2,9 juta orang, askes swasta komersial sekitar 5 juta orang. 12) Dari sejumlah 78,9 juta orang yang tercakup asuransi kesehatan berarti diperkirakan hanya sekitar 14,5 juta pegawai/ tenaga kerja di Indonesia yang mempunyai jaminan asuransi kesehatan (13% dari total pegawai/ tenaga kerja) dan mereka adalah pegawai sector formal. Masih rendahnya persentase jumlah pegawai yang tercakup askes akan meningkatkan jumlah pembiayaan kesehatan secara out of pocket baik secara perorangan (terutama tenaga kerja sektor informal) karena tidak mendapat jaminan biaya maupun yang dibelanjakan oleh perusahaan dengan cara reimbursement (mengganti biaya pelayanan kesehatan yang telah dibayarkan terlebih dahulu oleh pegawai). Akses masyarakat yang terjamin asuransi kesehatan ke pelayanan kesehatan lebih besar daripada yang tidak terjamin. Dari data Susenas 1998 diperoleh hasil pada pelayanan rawat jalan dokter praktek swasta, angka kunjungan 10% penduduk terkaya dan terjamin asuransi kesehatan sebesar 123 per 1000 orang dibandingkan 108 per 1000 orang yang tidak terjamin askes. Pada pelayanan rawat inap di rumah sakit. Pada tahun 1995, diantara 1000 orang yang terjamin terdapat 179 hari rawat dan jumlah ini meningkat menjadi 303 hari pada tahun 1998, sedangkan yang tidak terjamin jumlah hari rawat 152 hari pada tahun 1995 dan sebanyak 199 hari pada tahun 1998 13) Diperkirakan perbedaan akses tersebut juga tidak berbeda jauh pada kelompok pegawai/ tenaga kerja. Tingginya persentase pembiayaan kesehatan pegawai (swasta/ perusahaan) untuk pelayanan rawat jalan dan rawat inap di satu sisi dan adanya kecenderungan akses pelayanan kesehatan lebih baik pada kelompok masyarakat yang terjamin asuransi kesehatan yang juga dapat diartikan adanya kecenderungan pemanfaatan asuransi kesehatan lebih besar di sisi lain maka biaya kesehatan pegawai merupakan salah satu masalah pembiayaan kesehatan yang harus diantisipasi dan dikendalikan.
2. PEMBAHASAN:
2.1. Biaya kesehatan pegawai: Biaya kesehatan pegawai dapat diartikan sebagai semua belanja/ pengeluaran untuk membiayai pemeliharaan kesehatan pegawai/ tenaga kerja baik dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan kesehatan serta produktivitas pegawai/ tenaga kerja Selain gaji, insentif, bonus dan penghargaan lainnya baik material maupun non material, biaya kesehatan pegawai merupakan salah satu bentuk kompensasi yang diberikan oleh perusahaan/ institusi kepada pegawainya karena kewajiban pekerjaan telah ditunaikan. Jadi biaya kesehatan pegawai merupakan hak pegawai yang harus diberikan oleh perusahaan. Pemberian jaminan pemeliharaan kesehatan pegawai bertujuan agar pegawai tetap dapat bekerja secara produktif. 14) 15) 2.2. Biaya kesehatan perusahaan dibelanjakan untuk apa saja? Sebagian besar biaya kesehatan perusahaan dibelanjakan untuk pengobatan (kuratif) baik rawat jalan maupun rawat inap pada sarana pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta (Tabel 2). Masih sedikit pembiayaan kesehatan yang dialokasikan untuk upaya preventif dan promotif. Sebagai bagian dari pembiayaan kesehatan nasional, besar atau kecilnya biaya kesehatan pegawai juga ditentukan oleh cara / metode pembiayaan kesehatan yang dipakai : 16) 17) a. Out of pocket : tidak adanya jaminan pembiayaan dari perusahaan membuat pegawai harus membayar langsung dari dompet sendiri setelah selesai mendapatkan pelayanan kesehatan. Jenis ini sangat memberatkan pegawai bila mereka harus menjalani rawat inap yang lama karena penyakit katastropik. Pada model ini juga hampir tidak ada kendali biaya, provider pelayanan (khususnya dokter) lebih suka dengan model ini. Posisi supplier induced demand dan dipihak lain terjadi consumers ignorance memicu sulitnya kendali biaya. b. Reimbursement : perusahaan / institusi kerja menjamin pembiayaan kesehatan pegawai dengan cara mengganti sebagian/ seluruh biaya kesehatan yang telah dikeluarkan oleh pegawai dengan cara klaim. Rendahnya kendali merupakan kelemahan model ini. c. Perusahaan mempunyai sarana pelayanan kesehatan sendiri baik sebagian atau jaringan baik pelayanan rawat jalan maupun rawat inap. Butuh biaya investasi yang sangat besar untuk menyediakan sarana pelayanan sendirir apalagi rumah sakit sendiri, hanya perusahaan besar dengan jumlah tenaga kerja yang besar yang mampu membangun sarana pelayanan kesehatan sendiri dan mempekerjakan tenaga medis sendiri karena membutuhkan modal yang besar dan biaya operasional yang besar, disamping administrasi/ manajemen yang rumit.. Alasan menyebarnya pegawai karena tempat produksi sangat menyebar dan seringkali sulit/ tidak bisa akses ke sarana kesehatan di daerahnya menjadi pertimbangan utama perusahaan memmbangun sarana pelayanan sendiri. Administrasi d. Perusahaan bergabung dengan perusahaan asuransi kesehatan dan membayarkan premi / iuran pegawainya kepada perusahaan suransi kesehatan. Jamsostek dan Askes merupakan salah satu model ini. Paket jaminan menjadi berkembang tidak hanya jaminan pemeliharaan kesehatan tetapi juga jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua dan jaminan kematian. Perkembangan model ini sangat dipengaruhi oleh adanya undang-undang yang mewajibkan perusahaan menjamin hal tersebut. Ada tiga pihak yaitu: tertanggung (pegawai), penanggung (badan asuransi) dan provider pelayanan kesehatan. Dengan pendekatan managed care model ini dianggap sebagai model yang paling tepat untuk mengendalikan biaya sekaligus mutu pelayanan. Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh provider sesuai dengan cara pembayaran dari badan asuransi, bisa secara fee for services, case payment pembayaran per hari, pembayaran dengan bonus, kapitasi, gaji , pembayaran perdiem, anggaran dan peringkat kasus. Perbedaan masing-masing jenis sebagai berikut: 17) 18) 19) 20) 1. Fee for services (FFS) : pembayaran berdasarkan pelayanan yang telah diberikan, biasanya per item pemeriksaan, tindakan, terapi dan lain-lain yang diidentifikasi satu persatu kemudian dijumlahkan dan ditagihkan kepada badan askes. Resiko mengarah kepada perusahaan/ pegawai. Ada dua jenis yaitu : FFS terbatas dan tidak terbatas. Keuntungan : penyedia pelayanan kesehatan (PPK) mendapatkan pembayaran yang sama besarnya dengan pelayanan yang telah diberikan kepada masing-masing pasien yang berakibat kualitas pelayanan lebih terjamin karena provider tidak berusaha mengurangi pelayanan. Pasien mempunyai akses pelayanan yang luas dan bebas memilih sarana pelayanan. Kerugian : PPK cenderung memberikan pelayanan yang berlebihan (yang tidak terkait dengan tindakan/ pemeriksanaan yang seharusnya diberikan menurut standar medis) agar mendapatkan pembayaran yang besar.
Beban biaya yang besar dan sulit dikontrol akan memberatkan badan askes sehingga model ini tidak efisien tetapi pada model FFS terbatas, kontrol biaya menjadi lebih baik.
2. Case payment (pembayaran berdasarkan kasus): pembayaran berdasarkan kasus/ diagnosis / paket pelayanan/ episode pelayanan. Kasus/ diagnosis disusun berdasarkan standar pemeriksaan/ pengobatan yang seharusnya diterapkan untuk masing-masing penyakit oleh suatu komite. Misalkan Singapura dengan ICD IX disusun 666 DRG (Diagnosis Related Group). Keuntungan : Biaya dapat dikontrol, terjadi efisiensi biaya dan biaya dibayarkan berdasarkan standar pelayanan/ medis yang memang seharusnya diberikan. Kualitas pelayanan terbaik menurut standar medis dapat dicapai dengan model ini sementara kendali biaya juga dapat dilakukan. Kerugian : Resiko lebih berkaitan dengan provider. Kesulitan PPK adalah dalam menyusun DRG dan perencanaan jumlah pembayaran kepada PPK, begitu juga koordinasi staf medik dan administrator yang selalu harus dilakukan serta masalah kerumitan administrasi. 3. Pembayaran per hari (daily charge) : pembayaran kepada PPK berdasarkan jumlah hari pelayanan atau jumlah hari rawat inap. Keuntungan : PPK mendapatkan jumpal pembayaran besar terutama bila banyak kasus penyakit yang memerlukan rawat inap lebih lama. PPK memberikan pelayanan seharusnya, tidak mengurangi yang berakibat turunnya kualitas pelayanan. Kerugian : resiko finansial mengarah ke badan asuransi karena PPK cenderung memperlama hari rawat (length of stay) agar mendapatkan pembayaran yang besar. 4. Pembayaran dengan bonus (bonus payment) : pembayaran tambahan kepada PPK karena kinerja tertentu telah dilakukan oleh PPK, misalkan PPK melakukan pelayanan preventif atau promotif. Keuntungan : Merangsang PPK untuk mengembangkan kinerja tambahan yang berdampak positif bagi kesehatan pasien (upaya preventif atau promotif), tambahan pendapatan ini akan menguntungkan PPK.
Kerugian: masalah administrasi menjadi lebih rumit (menentukan perhitungan bonus. 5. Kapitasi : pembayaran kepada PPK berdasarkan jumlah orang (caput) yang menjadi tanggung jawab dokter dan tidak tergantung jumlah pelayanan atau tindakan/ obat yang diberikan oleh PPK. Keuntungan : bagi PPK berarti penghematan biaya dan sekaligus dapat mengurangi pemberian pelayanan/ tindakan yang berlebihan dari PPK. PPK bisa beruntung apabila kebetulan jumlah pasien yang berobat lebih sedikit dibanding jumlah kapita yang dibayarkan oleh PPK. Dalam jangka panjang model ini dapat merangsang PPK untuk mengembangkan upaya preventif dan promotif agar jumlah yang sakit berkurang. PPK dapat merencanakan pelayanan dengan lebih baik karena memperoleh anggaran yang sekaligus dalam jumlah besar. Kerugian : PPK menerima pembayaran yang tidak sesuai dengan jumlah pasien yang dilayani atau tindakan yang telah diberikan. PPK dapat merugi karena jumlah pasien lebih banyak daripada jumlah kapita yang dicakup/ Bila jumlah rupiah kapitasi sangat kecil dapat menyebabkan PPK memberikan pelayanan yang tidak adekuat. 6. Gaji/ salary : pembayaran kepada PPK berdasarkan sejumlah gaji tertentu yang besarnya dibobot dengan kualifikasi , pengalaman, masa kerja, golongan dsb dan tidak berdasarkan beban kerja atau biaya pelayanan yang telah dikeluarkan oleh PPK. Keuntungan : bagi badan asuransi model ini dapat direncanakan dengan mudah, administrasi juga lebih mudah. Model ini dapat dimodifikasi dengan menahan/ menyimpan sebagian gaji dan berfungsi sebagai bonus, sehingga kinerja PPK dapat ditingkatkan. Kerugian : Bagi PPK (dokter) dapat menurunkan kinerjanya bila gaji dirasakan terlalu rendah dan perasaan “ tidak dihargai profesinya”. Bagi badan asuransi dapat memberatkan bila tuntutan gaji sangat tinggi. 7. Anggaran global Æ pembayaran kepada PPK dengan menyusun suatu anggaran yang telah dinegosiasikan dengan PPK dimana satu pembayaran untuk seluruh pelayanan yang diberikan dalam satu episode pelayanan, baik kunjungan klinis, pemeriksaan lab, test diagnostik, obat. Keuntungan : PPK terdorong untuk memberikan pelayanan yang efektif (tidak berlebihan), dalam hal tertentu model ini hampir seperti kapitasi. PPK dapat merencanakan pelayanan dengan lebih baik karena memperoleh anggaran yang sekaligus dalam jumlah besar. Kerugian : bila anggaran tak sesuai dengan kebutuhan PPK maka ada kecenderungan PPK mengurangi pelayanan. Perusahaan/ institusi juga sekaligus harus menyediakan anggaran kesehatan pegawainya dalam jumlah besar. 8. Per diem .. pembayaran kepada PPK yang jumlahnya tetap perhari untuk pelayanan yang diberikan. Biasanya diberlakukan pada pelayanan rawat inap dengan lama maksimum dirawat untuk suatu dignosis khusus. Besarnya perdiem tergantung pada intensitas pelayanan yang diberikan., misalnya biaya perdiem ICU lebih besar daripada rawat inap psikiatri. Keuntungan : bagi badan asuransi memudahkan adminstrasi dan perencanaan biaya, Kerugian : bila ternyata pasien memerlukan pelayanan yang menyebabkan biaya lebih besar dari per diem maka akan merugikan PPK. Cara ini juga dapat merugikan badan asuransi bila PPK cenderung memperlama hari perawatan. 9. Peringkat kasus (case rates) Æ pembayaran kepada PPK berdasarkan peringkat kasus, jumlah biaya relatif tetap besarnya dan dinegosiasikan dengan PPK . Hampir sama dengan anggaran global, metode peringkat kasus dapat disesuaikan dengan kondisi tertentu, misalkan suatu kasus butuh pelayanan yang lebih intensif dan lebih mahal. Keuntungan : pembiayaan menjadi lebih efisien sehingga menguntungkan badan asuransi dan PPK memperoleh pembiayaan pelayanan yang relatif memadai sesuai peringkat kasusnya. Kerugian : memerlukan upaya yang tidak mudah untuk menelaah kasus per kasus dan membuat peringkatnya.
2.3. Antisipasi kecenderungan makin meningkatnya biaya kesehatan pegawai : Pihak perusahaan berupaya untuk mengendalikan biaya kesehatan pegawai karena kenaikan biaya kesehatan dapat memberatkan keuangan perusahaan. Sebagai salah satu komponen cost of production maka perusahaan akan berusaha untuk memangkasnya selain karena alasan efisiensi biaya juga harapan keuntungan (profit) yang lebih tinggi. Dari sisi pegawai, biaya kesehatan juga perlu dikendalikan karena akan memberatkan pegawai terutama bila perusahaan tidak memberikan jaminan biaya kesehatan. Dari sisi perusahaan asuransi juga akan berusaha menekan peningkatan biaya pelayanan kesehatan yang harus dibayarkan kepada PPK. Dari kurun waktu 1993 sampai 1999 perkembangan biaya kesehatan di PT. Askes rata-rata sebesar 19,2% sedangkan penerimaan premi rata-rata tumbuh 17,1% per tahun. Dalam kurun waktu 15 tahun (1984 – 1999) PT. Askes mempunyai rasio klaim terhadap penerimaan premi rata- rata 72,1% (terendah 54,3% dan tertinggi 93,3%). Selama kurun waktu itu PT. Askes hanya menghabiskan 60% dana yang diterima untuk biaya kesehatan 21). Sebagai badan asuransi pelopor penerapan managed care PT. Askes menerapkan berbagai kaidah pengendalian biaya antara lain cost sharing dan co payment, pembayaran kepada PPK berdasarkan kapitasi total, sistem anggaran dan DRG. Masalah transisi epidemiologi yang antara lain berakibat meningkatnya catastropic diseases berakibat meningkatnya biaya kesehatan bagi peusahaan asuransi. Pelayanan haemodialis untuk gagal ginjal kronis menyerap dana sampai 10% dari total biaya kesehatan di PT. Askes dengan jumlah penderita gagal ginjal kronis meningkat dari 481 orang (1989) menjadi 1.740 orang (1994) dan jumlah tindakan juga meningkat dari 23.882 kali (1989) menjadi 80.421 kali (1994) 21). 2.4.Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya kesehatan pegawai? 7) 16) 18) 19) 21) 22) Secara makro, sebagai bagian dari pembiayaan kesehatan nasional, maka ada berbagai faktor yang mempengaruhi kenaikan biaya kesehatan pegawai : a. Jumlah pegawai berikut komposisinya : Semakin besar jumlah pegawai ada kecenderungan meningkatkan biaya kesehatan pegawai, apalagi bila didominasi oleh wanita dan usia paruh baya. b. Jenis / bidang usaha: Perusahaan dengan jenis pekerjaan dengan resiko terhadap kecelakaaan kerja seperti perusahaan manufaktur akan cenderung meningkatkan biaya kesehatan pegawai, begitu juga dengan perusahaan yang mempunyai banyak anak perusahaan atau kantor cabang di berbagai wilayah. c. Model pembiayaan kesehatan pegawai yang dipilih: Perlu kecermatan dan pemikiran yang matang dalam memilih model pembiayaan kesehatan di perusahaan. Bagi perusahaan pertimbangan utama adalah efisiennya biaya dan kemudahan administrasi sekaligus jaminan bahwa pegawainya dapat dilayani dengan baik sesuai standar medis. Bagi PPK, pertimbangan utamanya adalah memberikan pelayanan yang tepat sesuai standar medis tanpa pembatasan biaya yang dianggap bertentangan dengan penghargaan profesionalitas mereka sekaligus administrasi yang lebih mudah. Bagi pegawai, pertimbangan utamanya yaitu mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan segera sembuh (selesai masalah kesehatannya) dengan biaya memadai sesuai kemampuan mereka. d. Komitmen manajemen dan kemampuan keuangan perusahaan: Komitmen manajemen akan pentingnya pegawai sebagai aset dan sumber daya perusahaan sangat berpengaruh pada besar kecilnya perhatian mereka terhadap pemeliharaan kesehatan pegawainya. Kondisi keuangan perusahaan sangat berperan dalam pembiayaan kesehatan pegawai. Untuk membiayai kesehatan pegawainya, suatu perusahaan harus menyisihkan sejumlah anggaran tertentu yang biasanya diambilkan dari komponen ongkos produksi yang biasanya berasal dari komponen gaji/ upah pegawai. e.Upaya-upaya keselamatan dan kesehatan kerja yang dikembangkan oleh perusahaan. Upaya atau program K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) yang dikembangkan oleh perusahaan secara kontinyu selain dapat menguragi angka kecelakan kerja juga dapat mengurangi angka penyakit akibat kerja (PAK) dan penyakit akibat hubungan kerja (PAHK) yang akhirnya dapat menurunkan biaya kesehatan dan meningkatkan produktivitas pegawai. Tabel 3 Angka Kecelakaan Kerja di Perusahaan di Indonesia 23) Tahun Kasus Kecela- kaan Kerja Jumlah perusahaan Jumlah tenaga kerja % kecelakaan kerja / tenaga kerja 1999 91.510 80.802 11.094.575 0,82 2000 98.902 84.439 13.552.141 0,73 2001 104.774 93.329 16.356.250 0,64 2002 103.804 100.929 17.369.960 0,60 2003 105.846 109.807 19.337.886 0,55 Upaya peningkatan kepedulian perusahaan dan tenaga kerja terhadap program K3 di perusahaan masih menjadi agenda besar di masa mendatang karena masih tingginya angka kecelakaan kerja di Indonesia seperti tercantum pada Tabel 3. Implikasi tingginya angka kecelakaan kerja tersebut adalah menurunnya produktivitas pegawai dan meningkatnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dan pegawai. f. Tuntutan serikat pekerja: Tuntutan pegawai yang diwadahi dalam suatu serikat pekerja (organisasi pegawai/ buruh) agar perusahaan menjamin kesejahteraan pegawai termasuk pemeliharaan kesehatan mereka akan menyebabkan perusahaan membuat kebijakan memberikan jaminan kesehatan pegawainya. g. Kebijakan pemerintah: Pemerintah mempunyai kepentingan terhadap kesejahteraan masyarakat termasuk kelompok pekerja/ pegawai. UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja pasal (6) dan pasal (16) , UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan, UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal (86), UU No.8 tahun 1974 jo. UU No. 43 tahun 1999 tentang Kepegawaian yang mengatur pegawai negeri sipil pada pasal (32) serta UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pasal (18) sampai dengan pasal (28) yang mengatur jaminan kesehatan. Semua undang-undang tersebut mengamanatkan keharusan untuk menjamin pemeliharaan kesehatan tenaga kerja/ pegawai. Dalam penerapannya berbagai undang-undang dan perangkat hukum dibawahnya memerlukan legal enforcement yang memadai sehingga dapat mengurangi jumlah pegawai yang tidak terjamin kesehatannya karena majikan / pengusaha yang sengaja melalaikannya. h. Sistem pelayanan kesehatan yang ada: Pada kondisi dimana sistem rujukan belum berjalan dengan baik maka biaya kesehatan akan sulit terkendali, begitu juga pola pelayanan kesehatan yang semakin spesialis, lemahnya mekanisme pengendalian biaya dengan audit medis dan standar profesi yang masih kurang. Dokter mengambil peran penting dalam kendali biaya. Dokter lebih menyukai sistem pembayaran fee for services yang dianggap ”menghargai” profesi mereka dan memberi kesempatan untuk mendapatkan insentif tidak terbatas begitu juga dokter mendapatkan insentif dari industri farmasi. Dalam sistem pelayanan kesehatan yang bercirikan supplier induced demand dan consumer’s ignorance maka dapat terjadi profesi dokter menyediakan pelayanan tidak berdasarkan kebutuhan pasien tetapi lebih pada motivasi ekonomi dokter, sehingga model kapitasi yang dikembangkan dalam sistem asuransi kesehatan dapat menyebabkan supplier reduced demand i.Sistem pembiayaan kesehatan yang ada : Pada sistem pembiayaan kesehatan yang didominasi dengan out of pocket dan sedikitnya jumlah penduduk yang tercakup skema asuransi kesehatan sangat berpengaruh pada tingginya biaya kesehatan. Sebaliknya sistem asuransi kesehatan dengan model managed care (keterpaduan kendali mutu dan kendali biaya) diyakini merupakan kendali biaya yang efektif. Semua itu dapat dicapai antara lain bila penyalahgunaan asuransi kesehatan dengan kecenderungan penggunaan berlebihan dapat dieliminir, sistem reimburesement pada askes (swasta) dilakukan dengan limitasi, pengembangan cara pembayaran ke PPK yang cost effective. Salah satu kajian studi kasus di rumah sakit Surya Husada Denpasar untuk peserta JPKM Surya Husada Hospital Club dengan peserta karyawan hotel dengan pegawai lebih 100 orang di tahun 1998. Pada kasus karyawan Hotel Grand Hyatt Bali (2935 orang peserta) setiap tahun mengalami kerugian sekitar Rp.173.958.516. Faktor penyebabnya adalah: 1). pembayaran pada PPK I dan PPK II secara fee for services, 2). terjadi over utilization karena poliklinik terletak di dalam hotel dengan pelayanan 24 jam, 3). 50,46% rawat inap adalah kasus kebidanan dan kandungan dimana 30,53% diantaranya persalinan dengan bedah caesar (sebagai perbandingan di rumah sakit pendidikan dimana bedah caesar dilakukan atas indikasi medis yang tepat yaitu RSUP. dr. Sardjito Yogyakarta hanya sebesar 10,7%), 4). penggunaan obat rawat jalan yang tinggi terjadi pad PPK I (56,82%) karena belum ada formularium, pola peresepan yang berlebihan baik jenis maupun harganya serta angka kunjungan PPK I yang tinggi, 5). Penetapan premi belum didasarkan pada perhitungan biaya satuan dan utilisasi pelayanan. 6). Jumlah peserta JPKM yang belum memenuhi law of large number 24) j. Tata niaga obat : Harga obat yang cenderung tinggi antara lain karena industri farmasi yang masih tergantung impor (khususnya bahan baku obat) sangat rentan terhadap inflasi apabila nilai dollar juga naik. Selain itu tata niaga obat dengan rantai distribusi obat yang panjang dari produsen sampai konsumen disertai dengan biaya pemasaran yang sangat tinggi menyebabkan sulit menjual obat dengan harga yang terjangkau, kecuali obat generik yang pemakaiannya harus didukung dengan enforcement tertentu. Di Taiwan dimana kesertaan asuransi kesehatan nasional mencapai hampir 100%, peresepan obat generik mencapai 70%. Peresepan obat bermutu tetapi rendah harganya akan meningkat pada sistem pelayanan kesehatan yang didominasi asuransi kesehatan. Tata niaga obat juga diwarnai oleh berbagai pemborosan yaitu : 1). Pembelian obat bebas (tanpa resep) oleh masyarakat sangat sulit dikontrol, 2) . Sistem distribusi obat sektor publik melalui gudang farmasi di kabupaten/ kota dan puskesmas terjadi pemborosan biaya antara 40% sampai 60% dibandingkan dengan negara yang menggunakan sistem distribusi langsung ke pelayanan kesehatan. 3). Cara pemilihan, produksi dan distribusi obat brand name terutama di sektor swasta masih dapat dihemat antara 20% sampai 30%, 4). Penggunaan obat yang tidak rasional terjadi hampir menyeluruh di Indonesia seperti dalam peresepan, pemberian obat tanpa resep, pemakaian obat tanpa pemeriksaan yang benar, penngunaan obat tidak sesuai regimen baik di sektor publik maupun swasta telah menyebabkan pemborosan obat antara 37% sampai 58% 25) k. Inflasi umum dan inflasi biaya kesehatan : Pada kondisi inflasi barang dan jasa umum yang cenderung meningkat maka inflasi biaya kesehatan juga akan meningkat karena untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan dibutuhkan berbagai sumber daya. Pegawai (sumber daya manusia) memerlukan gaji/ upah yang juga seharusnya disesuaikan pada kondisi dimana harga barang dan jasa kebutuhan sehari-hari juga cenderung meningkat. Inflasi biaya kesehatan mencapai 2 – 3 kali lipat inflasi barang dan jasa umum, di akhir tahun delapanpuluhan sudah mencapai 14%, sedangkan inflasi barang dan jasa umum hanya sekitar 5%. Laju inlasi akan semakin besar akibat kebijakan kenaikan harga BBM. Sebagai salah satu komponen biaya faktor produksi, kenaikan BBM memberikan efek multiplier terhadap inflasi. Sumbangan terbesar dalam inflasi biaya kesehatan adalah harga obat. Total biaya obat nasional mengalami peningkatan pesat dari Rp. 369,16 milyar (tahun 1984) menjadi Rp.10.664,74 milyar (tahun 2002), belanja obat per kapita juga naik dari Rp.2.346,- (tahun 1984) menjadi Rp.50.058,- (tahun 2002). Laju inflasi harga obat dapat mencapai 17% per tahun. 25) 2.5. Strategi pengendalian biaya kesehatan pegawai : Sebagai bagian dari pengendalian biaya kesehatan makro, maka beberapa strategi pengendalian biaya kesehatan pegawai yang dapat dilakukan tidak terlepas dari sistem pembiayaan kesehatan nasional. Secara makro, upaya yang dapat dilakukan bersamasama antara lain: a. Mengembangkan asuransi kesehatan serta mewujudkan penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Idealitas sistem asuransi kesehatan dalam SJSN masih memerlukan kajian lebih dalam hal aspek efisiensi, responsiveness, kualitas pelayanan dan PPK, keterjangkauan, keberlanjutan, subsidi silang, keadilan dan pemerataan, portabilitas, keberhasilan pencapaian universal coverage serta aspek desentralisasi seiring UU No. 32/ 2004 tentang Otonomi Daerah dan UU No.32/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah 26) b. Terus mengembangkan sistem asuransi kesehatan yang managed care (keterpaduan kendali biaya dengan kendali mutu) dengan penetapan pedoman pembayaran kepada PPK, menerapkan co payment dan cost sharing, penerapan kapitasi, anggaran, sistem tarif berdasarkan kelompok pelayanan (paket) serta DRG, penetapan besaran premi yang disesuaikan dengan pola penyakit serta kaidahkaidah underwriting lainnya , begitu juga kendali biaya sekaligus kendali mutu melalui kontrak dan seleksi penyelenggaraan pelayanan lewat credentialing, profil dokter, utilization review baik prospektif maupun concurrent 18) c. Meningkatan perhatian kepada pelayanan kesehatan preventif dan promotif, serta meningkatkan sistem rujukan medis. d. Meningkatkan mekanisme pengawasan dan pengendalian penggunaan dana/ anggaran kesehatan baik anggaran kesehatan publik maupun dana dalam perusahaan dengan sistem pengawasan yang tepat. e. Meningkatkan penyusunan kebijakan dan peraturan yang berpengaruh pada upaya pengendalian biaya kesehatan, antara lain lewat : peraturan sertifikat kebutuhan fasilitas di sarana kesehatan, keharusan studi kelayakan/ proyek investasi kesehatan, pengembangan sarana/fasilitas secara terencana dan penetapan standar baku pelayanan (prosedur pemeriksaan, perawatan dan obat-obatan) lewat penerapan program menjaga mutu pada semua institusi pelayanan kesehatan. f. Pengaturan dan penyempurnaan peraturan tentang tarif pelayanan baik pelayanan pemerintah maupun swasta. Selama ini penetapan tarif pelayanan kesehatan pemerintah cenderung ketat sementara untuk swasta seperti tidak ada pembatasan, mereka dapat menetapkan tarif pelayanan dengan bebas. g. Penyempurnaan tata niaga obat antara lain dengan peningkatan penyediaan bahan baku di dalam negeri, meningkatkan produksi obat generik serta meningkatkan pemahaman dan kemauan dokter untuk meresepkan obat generic dan mengurangi pemborosan dalam distribusi dan peresepan obat. h. Mengembangkan upaya K3 di perusahaan untuk menekan angka kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam rangka mengendalikan biaya kesehatan perusahaan dan meningkatkan produktivitas pegawai. i. Peningkatan upaya sosialisasi kebijkan / perundang-undangan dan penegakan hukum (legal enforcement) terhadap beberapa Undang-Undang yang terkait dengan jaminan memelihara kesehatan pegawai / tenaga kerja/ masyarakat luas yaitu UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan, UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No. 43 tahun 1999 tentang Kepegawaian serta UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Beberapa pasal dalam Undang-undang tersebut masih memerlukan penjabaran lebih lanjut dalam peraturan dibawahnya (Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Kepmenkes / Permenkes sampai dengan peraturan di daerah yaitu Perda baik ditingkat propinsi maupun kabupaten/ kota. Seiring dengan desentralisasi pemerintahan termasuk kesehatan maka penjabaran undang-undang tersebut juga memerlukan pemahaman akan semangat desentralisasi pemerintahan. 3. KESIMPULAN : Pengendalian biaya kesehatan pegawai/ tenaga kerja merupakan upaya yang harus dilakukan secara kontinyu, terencana dan simultan oleh pemerintah, pelaku dunia usaha/ pengusaha, pegawai/ tenaga kerja, badan asuransi , PPK , perusahaan farmasi dan jaringannya serta organisasi profesi. Dengan biaya kesehatan yang terkendali diharapkan dapat diperoleh pelayanan kesehatan yang lebih efisien tetapi berkualitas agar tercapai produktivitas kerja yang maksimal. DAFTAR PUSTAKA : 1) Azwar, Asrul. Kebijakan Kesehatan Kerja di Era Desentralisasi, makalah pada Konvensi Nasional Kesehatan Kerja 25- 26 Agustus 2004 di Jakarta. 2) Kompas, Sabtu 26 Maret 2005 . Pengabdian Kepada Raja. 3) UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan 4) UU No.43 tahun 1999 tentang Kepegawaian. 5) UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja 6) Gani, Ascobat. Ekonomi Kesehatan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat, makalah pada Semiloka Penggunaan Ilmu Ekonomi di Bidang Kesehatan Masyarakat, Pertemuan tahunan Perhimpunan Peminat Ekonomi Kesehatan Indonesia, 7-8 November 1990 di Jakarta. 7) Thabrani, Hasbullah dan Budi Hidayat (Ed). Pembayaran Kapitasi, tulisan Ascobat Gani, “Pembiayaan Kesehatan di Indonesia”, Cetakan 1, Fakultas Kesehata Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta, 1998 8) Nadjib, Mardiati. Dasar- Dasar Asuransi Kesehatan Bagian B, Modul ujian profesi AAK PAMJAKI kerjasama Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan PT. Askes Indonesia. Cetakan pertama, 2000. 9) Biro Perencanaan Dartemen Kesehatan RI, Analisis Pembiayaan Kesehatan Indonesia 1982/1983 – 1987/1988, Jakarta, 1990. 10) Gani, Ascobat. Pembiayaan Kesehatan dan Prakondisi untuk Asuransi Kesehatan Nasional, makalah pada Seminar pengembangan Sistem Asuransi Kesehatan Sosial, DepKes RI – Dinkes Prop DIY – GTZ di Yogyakarta 16 Oktober 2002. 11) Amien, C dan T. Andayani, Use of National Health Account as a Basic Thought for Indonesia Health Financing Reform. Makalah pada Seminar International Health Economics Association, Barcelona 9 – 13 Juli 2005. 12) Thabrany, Hasbullah. Social Health Insurance Development in Indonesia, makalah pada Seminar Hasil Penelitian Asuransi Kesehatan Sosial, Dep. Kes RI dengan GTZ , Gedung Depkes RI tanggal 11 – 12 Oktober 2005. 13) Thabrany, Hasbullah (ed). Pendanaan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia, tulisan Hasbullah Thabrany dan Laura Mayanda “Kesenjangan dalam Akses Pelayanan Medis dan Kesenjangan Pendanaan Rumah Sakit Publik”. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005. 14) Simamora, Henry, Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi kedua, Bagian Penerbitan STIE YKPN, Yogyakarta, 1999. 15) Hasibuan, HMSP. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi, Bumi Aksara, Jakarta, 2000. 16) Trisnantoro, Laksono. Pembiayaan Kesehatan Perusahaan : Kontrak ke Asuransi atau Dikerjakan Sendiri ?. Makalah pada Seminar Penjaminan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Karyawan, kerjasama PMPK FK UGM dan Klinik Hoo Semarang , Mungkinkah Dikendalikan?. 29 September 2005 di Semarang. 17) Murti, Bhisma. Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan, Kanisius, Yogyakarta, 2000. 18) Syaifuddin. F dan Yaslis Ilyas. Managed Care Bagian A : Mengintegrasikan Penyelenggaraan dan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan, Kerjasama Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan PT. (persero) Asuransi Kesehatan.Jakarta 2001. 19) Thabrany, Hasbullah. Asuransi Kesehatan Nasional, Edisi Oktober 2005, Persatuan Ahli Manajemen Jaminan Kesehatan Indonesia (Pamjaki), Jakarta, 2005 20) Widjajanto, Beberapa Model Penjaminan Pelayanan Kesehatan, Makalah pada Seminar Penjaminan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Karyawan, kerjasama PMPK FK UGM dan Klinik Hoo Semarang , Mungkinkah Dikendalikan?. 29 September 2005 di Semarang. 21) Feldstein, Paul J. Health Care Economics, second edition, A Wiley Medical Publication John Wiley and Son, New York, 1983. 22) Trisnantoro, Laksono. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi dalam Manajemen Rumah Sakit, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2005. 23) Alowie , Tjepi A. Kebijakan Pengawasan Tenaga Kerja di Era Desentralisasi di Indonesia, makalah pada Konvensi Nasional Kesehatan Kerja 25- 26 Agustus 2004 di Jakarta. 24) Dewi, Ratih Komala dan Laksono Trisnantoro. Evaluasi Pembiayaan JPKM di Rumah Sakit Surya Husada Denpasar : Studi Kasus Surya Husada Hospital Club di Hotel Grand Hyatt Bali, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Fak. Kedokteran UGM Vol. 03/ No.01/ 2000. 25) Thabrany, Hasbullah (ed). Pendanaan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia, tulisan Bagus Satriabudi “Pendanaan Obat yang Semakin Berat”. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005. 26) Mukti, Ali Ghufron, Idealitas Sistem Asuransi Kesehatan dalam SJSN di Indonesia, makalah pada Seminar Beberapa Isu Pokok Penerapan SJSN di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada tanggal 5 Agustus 2005 di Yogyakarta.

Juli 30, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

penelitian gizi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Menurut kartasapoetro (2003:1 ) “Gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi dan mempunyai nilai yang sangat penting untuk memelihara proses tumbuh dalam pertumbuhan dan perkembangan,memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari,menganti sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung tubuh denga cara menjaga keseimbangan cairan tubuh” Janin yang berkembang dan tumbuh didalam kandungan mempunyai begitu banyak kebutuhan gizi yang harus dipenuhi melalui makanan yang harus dimakan oleh ibu hamil .”Makanan yang menyehatkan selama kehamilan akan melahirkan bayi yang sehat serta mengurangi resiko komplikasi dalam beberapa efek samping kehamilan”.(Boedihardjo,1999:131 ) Kebutuhan gizi akan terus meningkat, terutama setelah memasuki kehamilan trismeter dua,sebab pada saat ini pertumbuhan janin berlangsung sangat cepat dan berat ibu pun naik pesat.pada bulan terakhir kehamilan otak bayi berkembangan sangat cepat.pada periode ini gizi diperlukan bayi perkembangan otak dari jaringan saraf bayi. Menurut Dr.Handrawan (1997:1 Dan 2) “Salah satu upaya memelihara kehamilan adalah menjaga kecukupan makanan.Makanan bergizi sangat penting selama kehamilan karena janin sangat bergantung pada ibunya. Mutu anak dalam kandungan banyak ditentukan oleh mutu makanan ibunya.Jika makanan ibu kurang pertumbuhan makanan ibu akan kurang.” Menurut http://www.undp.co.id.2006 “Saat ini angka kematian ibu (AKI ) masih tinggi di ASEAN, yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup .40 % ibu hamil menderita Anemia,2% menderita Maleria dan mengalami kekurangan energi klinis (KEK ), khususnya dikawasan Timur Indonesia”. “Sedangkan AKI (Angka Kematian Ibu )di Sumatera Barat diatas tingkat rata-rata nasional yaitu 294 per 100.000 kelahiran hidup”(Padang Ekspres,edisi 28 november 2005 ). “Ibu hamil yang melakukan KI 5,84 %dan K4 9,55 pada bulan Desember 2007,0,5 % ibu hamil mengalami Resti dari 754 orang ibu hamil yang ada diwilayah kerja Puskesmas Tanah Garam Solok .”(Rekam medik PWS KIA, 2007) dan menurut pengamatan peneliti sejak awal April sampai akhir April 2008 dari 10 ibu hamil 3 di antaranya mengalami kekurangan gizi di wilayah kerja puskesmas Tanah Garam Solok. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa masih banyaknya ibu hamil yang mengabaikan dan tidak memperhatikan pemenuhan gizinya selama hamil. “Jika ibu hamil kekurangan gizi maka dampak yang akan terjadi yaitu perkembangan janin dalam tubuh si ibu tidak sempurna, bayi lahir dengan berat badan rendah, atau adanya kelainan-kelainan fisik, bahkan dapat mengakibatkan prematuritas, dan dampak bagi ibu sendiri yaitu ibu akan kelihatan letih,lesu,tidak ada gairah dan anelis karena asupan gizi yang kurang”. ( Drs. Kartasapoetra, 2003 : 8 ) berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penelitian tertarik untuk meneliti Hubungan Pengetahuan dan Sikap ibu dengan Pertambahan Berat Badan selama Hamil. 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masih tingginya ibu hamil yang kurang gizi, yang nantinya akan berpengaruh pada perkembangan jani dalam tubuh ibu, yang dilihat dari pertambahan berat badan selama hamil oleh sebab apakah ada factor pengetahuan dan sikap ibu mempengaruhi pertambahan berat badan selama hamil. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang gizi ibu hamil dengan pertambahan berat badan ibu selama hamil. 1.3.2 Tujuan Khusus a. Diketahui distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden tentang pemenuhan gizi selama hamil. b. Diketahui distribusi frekuensi sikap responden tentang pemenuhan gizi selama hamil. c. Diketahui distribusi frekuensi penambahan berat badan responden selama hamil. d. Diketahui hubungan tingkat pengetahuan responden dengan pertambahan berat badan selama hamil. e. Diketahui hubungan sikap responden dengan pertambahan berat badan selam hamil. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti Menambah wawasan peneliti tentang pemenuhan gizi selama hamil dengan mengukur bertambah berat badan ibu selama hamil, menerapkan ilmu yang diperoleh selama bangku perkuliahan dan dapat mempraktekannya dilingkungan masyarakat nantinya. 1.4.2 Bagi Institusi Sebagai bahan penelitian bagi peneliti selanjutnya. 1.4.3 Bagi Lahan Praktek Sebagai bahan masukan untuk program kesehatan ibu dalam masa kehamilan. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Dari beberapa factor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Maka penelitian ini hanya mengetahui variabel pengetahuan dan sikap ibu tentang pemenuhan gizi dengan pertambahan berat badan selama hamil, sebagai variable independennya adalah pengetahuan dan sikap ibu dan variable dependennya adalah pertambahan berat badan selama hamil. Tempat penelitian responden yang diteliti adalah ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Status Gizi 2.1.1 Pengertian Menurut Almaitser (2004:3) status gizi adalah “Keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi”. Status gizi baik terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. 2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi a. Faktor Primer Bila susunan makanan seseorang salah dalam kuantitas dan kualitas biasanya disebabkan oleh : · Kurangnya penyediaan pangan · Kurang baiknya distribusi pangan · Kemiskinan · Ketidaktahuan · Kebiasaan makan yang salah b. Faktor sekunder Meliputi semua factor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai disel-sel tubuh setelah makanan dikonsumsi. Misalnya : 1. Faktor-faktor yang menyebabkan terganggunya pencernaan : · Kelainan struktur saluran cerna · Kekurangan enzim 2. Faktor-faktor yang mengganggu absorbsi : · Adanya parasit · Penggunaan laksan/obat cuci perut 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme : · Penyakit hati · Diabetes millitus · Kanker · Penggunaan obat tertentu · Minuman beralkohol 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekresi sehingga menyebabkan banyak kehilangan zat-zat gizi : · Banyak kening (polyuria) · Banyak keringat · Penggunaan obat-obat tertentu 2.2 Gizi 2.2.1 Pengertian Gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi dan mempunyai nilai yang sangat penting untuk : a. memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu mengganti sel-sel yang rusak dan sebagi zat pelindung tubuh dengan cara menjaga keseimbangan cairan tubuh. b. Memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari. Pemberian makananyang tidak terpenuhi baik kurang maupun lebih dari yang dibutuhkan untuk umur, jenis kelamin dan kondisi-kondisi tertantu seperti banyaknya aktifitas, suhu dan lingkungan, maka akan menyebabkan mal nutrisi. 2.2.2 Manfaat gizi a. Pada masa kehamilan · Untuk mempertahankan kesehatan dan kekuatan tubuh · Untuk pertumbuhan dan perkembangan janin · Agar luka-luka pasca bersalin cepat sembuh · Sebagai cadangan pada masa laktasi b. Manfaat gizi secara umum · Sebagai sumber energi dan tenaga · Untuk menyokong pertumbuhan badan · Mengganti sel-sel yang rusak dan memelihara jaringan tubuh · Mengatur sitem metabolisme dan keseimbangan air, keseimbangan asam basa dan keseimbangan mineral dalam cairan tubuh. 2.2.3 Kebutuhan gizi ibu hamil Menurut Boedihardjo (1999:4) “kebutuhan gizi normal seorang wanita akan meningkat selama hamil . untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janin dan perubahan jaringan tubuh ibu sehubungan dengan kehamilannya”. Kebutuhan gizi akan terus meningkat, terutama setelah memasuki kehamilan trismeter kedua. Sebab pada saat ini pertumbuhan janin berlangsung sangat cepat pada dua bulan terakhir. Otak bayi berkembang sangat cepat, pada periode ini gizi diperlukan bagi perkembangan otak dan perkembangan saraf bayi. a. Energi b. Kebutuhan energi pada waktu hamil adalah 300 – 500 k.cal lebih banyak dari maknan ibu sebelum hamil. Pada awal kehamilan trimester I kebutuhan energi hanya sedikit, tapi pada akhit trimester kehamilan terjadi peningkatan. c. Protein Kebutuhan protein ibu hamil 30 gr lebih banyak dari yang tidak hamil. Kebutuhan protein meningkat selama hamil guna memenuhi asam amino,perkembangan janin,penembahan volume darah, pertumbuhan mamae dan jaringan uterus. d. Lemak Lemak selin sumber kalori juga untuk memperoleh vitamin yang larut dalam lemak yaitu vitamin A,D,E, dan K . e. Vitamin Ibu hamil sangat membutuhkan vitamin untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, serta membantu metabolisme karbohidrat dan protein. a) Vitamin A Untuk pertumbuhan dan gigi Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi Memelihara jaringan mata b) Vitamin B kompleks Berguna untuk menjaga system saraf, otot dan jantung agar befungsi secara normal. Vitamin B2, untuk pernafasan antara sel, pemeliharaan jaringan saraf, jaringan pelepas kulit dan kornea mata Vitamin B6, untuk pembakaran hidrat arang dan menguatkan tenaga serta urat saraf Vitamin B12, untuk pematangan erit trosit Asam nikotin (niasin), sebagai proses pembakaran untuk mendapatkan tenaga Folid Acid (kolacin) Falaci berfungsi sebagai koenzim dalam sintesa DNA, memelihara pertumbuhan janin dan mencegah terjadinya anemia. c) Garam mineral Kalsium (gara dapur) diperluka untuk pembentukan tulang dan gigi janin. d) Suplemen multivitamin dan mineral Bagi ibu hamil yang pola makannya tidak mempengaruhi kebutuhan gizi, perlu diberikan suplemen vitamin dan mineral. Suplemen yang diberikan adalah B6,C,D,E dan folid acid. Penambahan berat badan ibu selama hamil Penambahan berat badan ibu hamil selama kehamilan adalah : - dalam triwulan pertama penambahan berat badan ± 1 kg - dalam triwulan kedua penambahan berat badan ± 5 kg - dalam triwulan ketiga penambahan berat badan ± 5,5 kg 2.3 Pengetahuan 2.3.1 Pengertian Pengetahun (Kowledge)adalah kebiasaan, keahlian, keterampilan, pemahaan atau pengertian yang diperoleh dari pengalaman,latihan atau melalui proses belajar. Pengetahuan belum tentu dapat diterapkan, karea pengetahuan sebuah organisasi sangat terkait dengan nilai, budaya dan kondisi dari organisasi tersebut Menurut Notoatmodjo (1997:127) “pengetahuan merupakan hasi objek dari tahu dan terjadi melalui pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba”. 2.3.2 Tingkat Pengetahuan a. Tahu Diartikan sebagai peningkatan suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Tingkat ini adalah mengikat kembali terhadap sesuatu spesifik dari keseluruhan bahan yang dipelajari, oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. b. Memahami (Comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. c. Aplikasi (Aplikasion) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sesungguhnya. Aplikasi disini diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus,metode dan prinsip dalam situasi yang lain. d. Analisis (Analysis) Merupakan suatu kemapuan untuk menjabarkan materi suatu objek keadaan komponen-komponen tapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sistesis (Syntesis) Menunjukan pada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formalasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi (Evaluation) Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi. Penilaian-penilaian itu berdasarkan kriteria yang ditentukan atau menggunakan kriteria yang telah ada. 2.3.3 Proses terjadinya pengetahuan menurut Rogers (1974) a. Awarenes (kesadaran) Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek) b. Interest (merasa tertarik) Dimana orang mulai tertarik terhadap stimulus. c. Evaluasion (menimbang-nimbang) Terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. d. Trial Dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. e. Adopsion Dimana subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran terhadap stimulus. 2.3.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan a. Pendidikan Bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu. Makin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima informasi dan semakin banyak pengetahuan yang dimiliki. b. Usia Semakin cukup umur seseorang, tingkat pengetahuannya akan lebih matang dalam berfikir dan bertindak. c. Pengalaman Pengalaman merupakan factor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan karena dari pengalaman orang lain dapat dijadikan sebagai acuan untuk dapat meningkatkan pengetahuan. d. Support Sistem Lingkungan disekitar kita juga dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan manusia, karena dari lingkungan ini di dapat pengetahuan serta mengetahui sesuatu yang belum diketahui. 2.4 Sikap (atitude) 2.4.1 Pengertian “sikap (atitud) adalah kecendrungan untuk bertindak dimana sikap dapat membatasi atau mempermudah menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang sudah dikuasai, oleh karena itu sikap seseorang terhadap pelajaran sangat berpengaruh pada keberhasilan kegiatan pembelajaran”. ( http://www.e-psikologi.com. 2006 ). 2.4.2 Tingkatan-tingkatan sikap a. menerima (Receiving) Menerima artinya bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimunus yang diberikan (objek). b. Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya,mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan merupakan suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut. c. Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah suatu indikasi sikap. d. Bertanggung jawab (Responsibel) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi. e. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Azwar,Azrul (2000:99) “secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pertanyaan responden suatu objek secaa tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan hipotesis, kemudian dinyatakan pendapat responden”. 2.4.3 Teori Sikap a. Belajar melakukan proses asosiasi perlu sikap pengukuran kembali. b. Teori keseimbangan Model keseimbangan dari ras suka. Kemungkinan dari dua susunan struktur yang tidak seimbang cenderung menjadi struktur yang seimbang melalui perubahan dalam satu unsur atau lebih. c. Teori ketidaksesuaian akan berubah demi mempertahankan konsistensi dengan perilaku nyata. d. Teori atribusi Orang bersikap dengan mempertimbangkan kondisi dan efeksi dari psikomotor di dalam kesadaran mereka. 2.5 Kerangka konsep penelitian in dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan pemenuhan gizi selama hamil di Puskesmas Tanah Garam Solok tahun 2007. adapun variable yang di bahas dalam penelitian ini adalah seperti tertera pada kerangka konsep dibawah ini. Kerangka konsep Variable Independen Variable Dependen Pengetahuan Pertambahan Berat Badan Selama Hamil Sikap 2.6 Hipotesa Ha : Ada hubungan pengetahuan responden tentang gizi dengan pertambahan berat badan selama hamil. Ha : Ada hubngan sikap responden tentang gizi dengan pertambahan berat badan selama hamil. Table 2.6 No Variable Defenisi operasinal Cara ukur Alat ukur Skala ukur Hasil ukur 1 2 3 Pemenuhan gizi Pengetahuan Sikap Pertambahan berat badan Segala sesuatu yang diketahui ibu mengenai pemenuhan gizi selama hamil Respon ibu terhadap pemenuhan gizi selama kehamilan Penimbangan Wawancara Wawancara Timbangan kuesiner Kuesioner Ordinal Ordinal Ordinal 1. Baik jika sesuai dengan usia KH. 2. tidak baik jika tidak sesuai dengan usia KH. Baik : bila skor ≥ mean kurang baik : bila skor 1. baik ≥ mean 2. kurang baik BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah survey analitik dengan desain crossectional study dimana variable independen dan variable dependen dilaksanakan dalam waktu yang sama. 3.2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilaksanakan di Puskesmas Tanah Garam Solok, pada awal April dan akhir April 2008. 3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Menurut Notoatmodjo (1993 : 75) “populasi adalah keseluruhan objek penelitian dan objek yang diteliti”. Populasi dala penelitian adalah ibu hamil yang dating ke Puskesmas Tanah Garam Solok April 2008, ibu hamil yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam Solok adalah sebanyak 10 ibu hamil. 3.3.2 Sampel Menurut Notoadmodjo (1993 : 75) “sample adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi dengan menggunakan teknik Accidental Sampling”. Dimana sample dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang datang ke Puskesmas Tanah Garam Solok, pada waktu dan tempat yang bersamaan dengan jadwal penelitian. Jumlah sample sebanyak 10 dan sample diambil dengan menggunakan rumus : n = N 1 + N ( d² ) Keterangan : N = Besar populasi n = Besar sampel d = 0,1 Dengan criteria sampel : a. Bersedia menjadi responden b. Pandai tulis baca c. Ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Tanah Garam Solok 3.4 Sumber Data 3.4.1 Data Primer Data primer diperoleh dengan cara melakukan wawancara dengan cara kuesioner untuk variable pengetahuan dan sikap, sedangkan unutk variable status gizi ibu hamil dilakukan penimbangan berat badan. 3.4.2 Data Sekunder Data sekunder dari Puskesmas Tanah Garam yang ada kaitannya dengan penelitian ini. 3.5 Teknik Pengumpulan data 3.5.1 Editing ( pemeriksaan data ) Memeriksa kuesioner apakah sudah di isi lengkap atau belum oleh responden yang bertujuan agar data yang masuk dapat di olah. 3.5.2 Coding Memeriksa kode atau tanda tertentu pada data yang tercatat pada kuesioner. 3.5.3 Tabulasi data Setelah kuesioner diisi dengan lengkap kemudian dilakukan pentabulasian data sesuai dengan kelompok data yang ditentukan. 3.5.4 Entry Memasukkan data dalam distribusi frekuensi . 3.6 Analisis data 3.6.1 Analisis Univariat Digunakan untuk mengikuti distribusi frekuensi masing-masing variable yang disajikan dalam bentuk table. 1. untuk menilai pengetahuan digunakan rumus : menurut Sugiono ( 2005 : 111) “ pengetahuan secara keseluruhan dinilai dengan skor maxsimal 15”, penilaian jawaban dilakukan dengan skala yang sudah ditentukan dimana : untuk jawaban yang benar =1 untuk jawaban yang salah = 0 untuk menentukan bagaimana tingkat pengetahuan responden digunakan mean kategori : Baik = ≥ mean Kurang baik = 2. untuk menilai sikap diukur dengan skala Likert. Yang dijabarkan menjadi komponen yang dapat diukur dengan skor : a. untuk pernyataan positif yaitu : Sangat setuju (SS) : Nilai 5 Setuju (S) : Nilai 4 Ragu-ragu (RR) : Nilai 3 Tidak Setuju (TS) : Nilai 2 Sangat tidak setuju : Nilai 1 b. Untuk pertanyaan negative yaitu : Sangat setuju (SS) : Nilai 1 Setuju (S) : Nilai 2 Ragu-ragu (RR) : Nilai 3 Tidak Setuju (TS) : Nilai 4 Sangat tidak setuju : Nilai 5 Dimana dapat di ukur dengan menggukan skala mean (nilai rata-rata) X = f.MP f keterangan : X = Rata-rata (mean) f = Frekuensi MP = Mid Point f = jumlah frekuensi untuk melihat bagaiman sikap responden digunakan mean skor dengan kategori : Baik = ≥ mean Kurang Baik = 3. untuk petambahan berat badan ibu hamil dilakukan pengukuran dengan timbangan menyesuaikan pertambahan berat badan dengan usia kehamilan. - Baik jika sesuai dengan usia kehamilan - Kurang baik jika idak sesuai dengan usia kehamilan 3.6.2 Analisis Bivariat Digunakan untuk melihat hubungan dua variable dengan menggunakan uji Chi square menggunakan system komputerisasi dengan pengolahan SPSS.

Juli 30, 2008 Posted by | Uncategorized | 5 Komentar

apaan tuch

boy antoni putra
stikes fort de cock bukittinggi
pns dinas kesehatan kabupaten agam

isinya kosong ………………

Juli 30, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

KAMAR BERSALIN dan
RAWAT GABUNG

Keberhasilan kehamilan, persalinan, menyusui dan nifas dipengaruhi oleh berbagai faktor
- fisik (gizi, aktifitas, dsb)
- penyakit tertentu (infeksi, penyakit endokrin / metabolik, dsb)
- lingkungan sosial (sikap dan tingkah laku masyarakat, dsb)
- ekonomi (promosi susu formula yang berlebihan, dsb)
- politik (kebijakan pemerintah, dsb)
- emosional (sikap ibu terhadap kehamilan, persalinan dan menyusui).

Rumah sakit merupakan sebuah lembaga di mana orang sakit (termasuk ibu hamil) membutuhkan perawatan baik fisik maupun emosional untuk kembali sehat seperti semula. Pemeriksaan antenatal selama kehamilan tentu dapat dilakukan di klinik / ruang periksa. Namun kamar bersalin dan kamar perawatan ibu dan anak memerlukan perhatian / pemahaman khusus para penyelenggara pelayanan kesehatan, supaya dapat memberikan pelayanan yang baik dan optimal sesuai kebutuhan ibu dan bayinya.

KAMAR BERSALIN
Sesuai program pemerintah, peningkatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya dapat dicapai antara lain dengan peningkatan penggunaan ASI, maka posisi rumah sakit dengan kamar bersalinnya menjadi sangat vital, karena di sinilah pertama kali ibu mengadakan kontak dengan bayinya sesaat setelah dilahirkan. Kalau selama dalam kandungan semua kebutuhan nutrisi janin didapatkan melalui tali pusat, maka di kamar bersalin bayi membutuhkan kontak kembali dengan ibunya, baik untuk kepentingan nutrisi maupun untuk kepentingan lainnya.

Dalam protokol kebidanan, ibu masih harus dirawat di kamar bersalin dua jam setelah melahirkan untuk deteksi dini terjadinya perdarahan post partum yang sangat mengancam jiwa. Pertanyaan yang timbul, ke mana bayi harus diletakkan selama ibu dalam pengawasan intensif untuk menghindari bahaya perdarahan ? Kalau dahulu bayi segera dirawat di kamar bayi, maka sekarang jawabnya adalah bayi diletakkan di samping ibu atau dalam sebuah boks dekat dengan ibu. Dari sinilah sebenarnya rawat gabung mulai dikerjakan.

Struktur dan fungsi kamar bersalin

Kamar bersalin ideal terdiri atas kamar persiapan, kamar bersalin yang sebenarnya dan kamar observasi pasca persalinan (kamar pulih). Di samping itu dapat pula dipisahkan antara kamar untuk kasus septik dan aseptik, kamar tindakan dan non tindakan dan kamar isolasi. Dalam hubungan dengan pengelolaan laktasi, maka adanya tiga ruang yakni kamar persiapan, kamar persalinan dan kamar observasi menduduki peran yang penting.

1. Kamar persiapan
Apabila sebuah rumah sakit telah berfungsi penuh sebagai RS Sayang Bayi, maka hampir semua ibu yang masuk kamar bersalin sudah mendapat penyuluhan manajemen laktasi sejak mereka berada di poliklinik asuhan antenatal. Mereka sudah memperoleh nasihat tentang keunggulan ASI, kerugian susu formula, gizi ibu hamil yang menjamin lancarnya produksi ASI, beberapa cara perawatan payudara dan bagaimana caranya menyusui yang benar. Ibu bersalin yang seperti ini tidak menjadi masalah lagi.

Ada
kalanya, kadang cukup banyak, ibu datang langsung ke kamar bersalin tanpa pernah melakukan asuhan antenatal di rumah sakit tersebut. Kalaupun mereka melakukan asuhan antenatal di tempat lain, mungkin petugas di
sana
juga belum memahami benar pentingnya manajemen laktasi. Ibu yang akan bersalin ini perlu mendapat penyuluhan tentang manajemen laktasi.

Untuk kepentingan ini perlu disiapkan sebuah ruang, di mana ibu hamil yang datang untuk bersalin dapat memperoleh informasi yang jelas tentang penatalaksanaan ASI. Di dalam ruang persiapan ini perlu dipasang beberapa gambar, poster, brosur dan sebagainya, untuk membantu memberi konseling tentang ASI. Di dalam kamar bersalin tidak boleh sama sekali terlihat botol susu, dot atau kempengan, apalagi reklame susu formula yang semuanya akan mengakibatkan gagalnya ibu menyusui. Dalam melakukan rangkaian tugas ini petugas tidak boleh overacting misalnya jangan melakukan konseling pada ibu yang sedang kesakitan. Berilah konseling hanya kepada ibu yang masih kooperatif, yaitu ibu yang belum dalam persalinan atau masih dalam fase laten.

2. Kamar persalinan

Kamar persalinan yang sebenarnya adalah kamar untuk ibu yang sudah dalam kala 1 fase aktif atau kala 2 persalinan. Pada saat ini seorang ibu hamil berada dalam kondisi yang paling tidak menyenangkan, karena berada dalam puncak rasa sakitnya. Tidak banyak yang dapat dilakukan oleh petugas dalam hal konseling manajemen laktasi, karena sulit bagi ibu untuk diajak berkomunikasi, kecuali tentang hal-hal yang menyangkut proses persalinan. Meskipun demikian, gambar atau poster tentang cara menyusui yang baik dan benar, serta menyusui segera sesudah lahir, dapat dipasang di ruangan ini.

Dalam waktu 30 menit setelah lahir, bayi harus segera disusukan. Beberapa pendapat mengatakan bahwa rangsangan putting susu akan mempercepat lahirnya plasenta melalui pelepasan oksitosin, yang dapat mengurangi risiko perdarahan postpartum. Rangsangan putting susu memacu refleks prolaktin dan oksitosin, dua refleks penting yang dibutuhkan dalam proses menyusui. Meskipun ASI belum keluar, kontak fisik bayi dengan ibu tetap harus dikerjakan karena memberikan rasa kepuasan psikologis yang dibutuhkan ibu agar proses menyusui berjalan lancar.

Penyusuan dini dikerjakan pada bayi normal, yaitu bayi lahir dengan nilai Apgar 5 menit di atas 7 dan refleks mengisap baik. Bayi lahir dengan asfiksia dan bayi dengan cacat

bawaan sebaiknya tidak segera disusukan kepada ibunya.

Bila ibu mendapat pembiusan umum, misalnya untuk persalinan dengan sectio cesarea, penyusuan dilakukan segera setelah ibu sadar penuh, misalnya 4-6 jam setelah operasi. Pada keadaan ini efek pembiusan pada ibu dan bayi telah berkurang, sehingga refleks mengisap bayi telah timbul kembali. Penyusuan pasca operasi memerlukan pertolongan petugas untuk membantu ibu memegang bayi, membetulkan posisi ibu, dan sebagainya. Bayi yang lahir dengan tindakan vakum atau forcep, sering disertai dengan trauma kepala, sehingga tidak jarang juga mengalami asfiksia. Meskipun demikian penyusuan dapat segera dimulai dengan bantuan petugas.

3. Kamar pulih

Selama dua jam ibu dalam observasi kala 4, ibu ditempatkan dalam suatu kamar pulih. Bayi diletakkan di samping ibu atau dalam sebuah boks yang dapat dilihat ibu. Sebaiknya diusahakan agar di kamar pulih ibu tidak terganggu oleh kegaduhan yang biasanya terjadi di kamar persalinan. Rasa tenteram ibu merupakan modal keberhasilan menyusui selanjutnya

RAWAT GABUNG

Banyak rumahsakit, puskesmas, klinik dan rumah bersalin yang belum merawat bayi baru lahir berdekatan dengan ibunya. Berbagai alasan diajukan antara lain karena rasa kasihan karena ibu masih capai setelah melahirkan, ibu memerlukan istirahat, atau ibu belum mampu merawat bayinya sendiri.

Ada
pula kekuatiran bahwa pada jam kunjungan, bayi mudah tertular penyakit yang mungkin dibawa oleh para pengunjung. Alasan lain adalah rumahsakit / klinik ingin memberikan pelayanan sebaik-baiknya sehingga ibu bisa beristirahat selama berada di rumah sakit. Namun setelah menyadari akan keuntungannya, sistem rawat gabung sekarang menjadi kebijakan pemerintah.

Pengertian dan tujuan

Rawat gabung adalah satu cara perawatan di mana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya.

Tujuan rawat gabung adalah :

1. Agar ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin, kapan saja dibutuhkan.

2. Agar ibu dapat melihat dan memahami cara perawatan bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh petugas.

3. Agar ibu mempunyai pengalaman dalam merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di rumah sakit dan yang lebih penting lagi, ibu memperoleh bekal ketrampilan merawat bayi serta menjalankannya setelah pulang dari rumah sakit.

4. Dalam perawatan gabung, suami dan keluarga dapat dilibatkan secara aktif untuk mendukung dan membantu ibu dalam menyusui dan merawat bayinya secara baik dan benar.

5. Ibu mendapatkan kehangatan emosional karena ibu dapat selalu kontak dengan buah hati yang sangat dicintainya, demikian pula sebaliknya bayi dengan ibunya.

SASARAN DAN SYARAT

Pada prinsipnya kegiatan Peningkatan Penggunaan ASI (PP-ASI) dimulai sejak ibu hamil pertama kali memeriksakan diri di poliklinik asuhan antenatal. Idealnya di poliklinik ini tersedia sebuah klinik laktasi, yang terdiri atas dua ruangan yaitu klinik laktasi asuhan antenatal dan postnatal.

Kegiatan rawat gabung dimulai sejak ibu bersalin di kamar bersalin dan di bangsal perawatan pasca persalinan. Meskipun demikian penyuluhan tentang manfaat dan pentingnya rawat gabung sudah dimulai sejak ibu pertama kali memeriksakan kehamilannya di poliklinik asuhan antenatal.

Tidak semua bayi atau ibu dapat segera dirawat gabung. Bayi dan ibu yang dapat dirawat gabung harus memenuhi syarat / kriteria sebagai berikut :
Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong.
Bila lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi cukup sehat, refleks mengisap baik, tidak ada tanda infeksi dsb.
Bayi yang lahir dengan sectio cesarea dengan anestesia umum, rawat gabung dilakukan segera setelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk), misalnya 4-6 jam setelah operasi selesai. Bayi tetap disusukan meskipun mungkin ibu masih mendapat infus.
Bayi tidak asfiksia setelah

lima
menit pertama (nilai Apgar minimal 7).
Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.

6. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih.

7. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum.

8. Bayi dan ibu sehat.

Jika tidak memenuhi kriteria di atas, maka rawat gabung ibu dan bayi TIDAK perlu, atau bahkan tidak boleh dikerjakan, misalnya pada :
Bayi yang sangat prematur.

2. Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram.

3. Bayi dengan sepsis.

4. Bayi dengan gangguan napas.

5. Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya : hidrosefalus, meningokel, anensefali, atresia ani, labio/palato/gnatoschizis, omfalokel, dsb.);

6. Ibu dengan infeksi berat, misalnya KP terbuka, sepsis, dsb.

Kriteria-kriteria masih ditentukan juga oleh beberapa aspek pertimbangan klinis, misalnya bayi dengan berat badan 2000-2500 gram meskipun keadaan lain-lainnya dalam batas normal, perawatan gabungnya harus dengan pengawasan yang sangat ketat.
Sebaiknya keputusan apakah bayi akan dirawat gabung atau dirawat pisah ditentukan oleh dokter anak bersama dengan dokter kebidanan.

Manfaat rawat gabung

Manfaat dan keuntungan rawat gabung ditinjau dari berbagai aspek sesuai dengan tujuannya, adalah sebagai berikut :
Aspek fisik.

Bila ibu dekat dengan bayinya, maka ibu dapat dengan mudah menjangkau bayinya untuk melakukan perawatan sendiri dan menyusui setiap saat, kapan saja bayinya menginginkan (nir-jadwal). Dengan perawatan sendiri dan menyusui sedini mungkin, akan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi silang dari pasien lain atau petugas kesehatan. Dengan menyusui dini maka ASI jolong atau kolostrum dapat memberikan kekebalan / antibodi yang sangat berharga bagi bayi. Karena ibu setiap saat dapat melihat bayinya, maka ibu dengan mudah dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada bayinya yang mungkin berhubungan dengan kesehatannya.

2. Aspek fisiologis.

Bila ibu dekat dengan bayinya, maka bayi akan segera disusui dan frekuensinya lebih sering. Proses ini merupakan proses fisiologis yang alami, di mana bayi mendapat nutrisi alami yang paling sesuai dan baik. Untuk ibu, dengan menyusui maka akan timbul refleks oksitosin yang akan membantu proses fisiologis involusi rahim. Di samping itu akan timbul refleks prolaktin yang akan memacu proses produksi ASI. Efek menyusui dalam usaha menjarangkan kelahiran telah banyak dipelajari di banyak negara berkembang. Secara umum seorang ibu akan terlindung dari kesuburan sepanjang ia masih menyusui dan belum haid, khususnya bila frekuensi menyusui lebih sering dan sama sekali tidak menggunakan pengganti ASI (menyusui secara eksklusif). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa daya proteksi menyusui eksklusif terhadap usaha KB tidak kalah dengan alat KB yang lain.

3.Aspek psikologis

Dengan rawat gabung maka antara ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant-mother bonding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Dengan pemberian ASI kapan saja bayi membutuhkan, akan memberikan kepuasan pada ibu bahwa ia dapat berfungsi sebagaimana seorang ibu memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayinya, di samping merasa dirinya sangat dibutuhkan oleh bayinya dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini akan memperlancar produksi ASI karena seperti telah diketahui, refleks let-down bersifat psikosomatis. Sebaliknya bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, merupakan dasar bagi terbentuknya rasa percaya pada diri anak. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila suaminya berkunjung, akan terasa adanya suatu ikatan kesatuan keluarga.

4. Aspek edukatif.

Dengan rawat gabung, ibu (terutama yang baru mempunyai anak pertama) akan mempunyai pengalam yang berguna, sehingga mampu menyusui serta merawat bayinya bila pulang dari rumah sakit. Selama di rumah sakit ibu akan melihat, belajar dan mendapat bimbingan bagaimana cara menyusui secara benar, bagaimana cara merawat payudara, merawat tali pusat, memandikan bayi dsb. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi modal bagi ibu untuk merawat bayi dan dirinya sendiri setelah pulang dari rumah sakit. Di samping pendidikan bagi ibu, dapat juga dipakai sebagai sarana pendidikan bagi keluarga, terutama suami, dengan cara mengajarkan suami dalam membantu istri untuk proses di atas. Suami akan termotivasi untuk memberi dorongan moral bagi istrinya agar mau menyusui bayinya. Jangan sampai terjadi seorang suami melarang istrinya menyusui bayinya karena suami takut payudara istrinya akan menjadi jelek. Bentuk payudara akan berubah karena usia adalah hal alami, meskipun dengan menggunakan kutang penyangga yang baik, ditambah dengan nutrisi yang baik, dan latihan otot-otot dada serta menerapkan posisi yang benar, ketakutan mengendornya payudara dapat dikurangi.

5. Aspek ekonomi

Dengan rawat gabung maka pemberian ASI dapat dilakukan sedini mungkin. Bagi rumah bersalin terutama rumah sakit pemerintah, hal tersebut merupakan suatu penghematan anggaran pengeluaran untuk pembelian susu formula, botol susu, dot serta peralatan lain yang dibutuhkan. Beban perawat menjadi lebih ringan karena ibu berperan besar dalam merawat bayinya sendiri, sehingga waktu terluang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain. Lama perawatan ibu menjadi lebih pendek karena involusi rahim terjadi lebih cepat dan memungkinkan tempat tidur digunakan untuk penderita lain. Demikian pula infeksi nosokomial dapat dicegah atau dikurangi, berarti penghematan biaya bagi rumahsakit maupun keluarga ibu. Bagi ibu juga penghematan oleh karena lama perawatan menjadi singkat.

6. Aspek medis

Dengan pelaksanaan rawat gabung maka akan menurunkan terjadinya infeksi nosokomial pada bayi serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan rawat gabung
Keberhasilan rawat gabung yang mendukung peningkatan penggunaan ASI dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain sosial-budaya, ekonomi, tatalaksana rumahsakit, sikap petugas, pengetahuan ibu, lingkungan keluarga, adanya kelompok pendukung peningkatan penggunaan ASI (KP-ASI) dan peraturan tentang peningkatan ASI atau pemasaran susu formula.
1. Peranan sosial budaya

Kemajuan teknologi, perkembangan industri, urbanisasi dan pengaruh kebudayaan Barat menyebabkan pergeseran nilai sosial budaya masyarakat. Memberi susu formula dianggap modern karena memberi ibu kedudukan yang sama dengan dengan ibu-ibu golongan atas. Ketakutan akan mengendornya payudara menyebabkan ibu enggan menyusui bayinya.

Bagi ibu yang sibuk dengan urusan di luar rumah, sebagai wanita karir atau isteri seorang pejabat yang selalu dituntun mendampingi kegiatan suami, hal ini dapat menghambat usaha peningkatan penggunaan ASI. Sebagian ibu tersebut pada umumnya berasal dari golongan menengah-atas cenderung untuk memilih susu formula daripada menyusui bayinya. Jika tidak mungkin membagi waktu, seyogyanya hanya ibu yang sudah tidak menyusui saja yang boleh dibebani tugas sampingan di luar rumah. Dalam hal ini peranan suami atau instansi di mana suami bekerja sebaiknya memahami betul peranan ASI bagi perkembangan bayi.

Iklan menarik melalui media

massa
serta pemasaran susu formula dapat mempengaruhi ibu untuk enggan memberikan ASI nya. Apalagi iklan yang menyesatkan seolah-olah dengan teknologi yang supercanggih dapat membuat susu formula sebaik dan semutu susu ibu, atau bahkan lebih baik daripada susu ibu. Adanya kandungan suatu nutrien yang lebih tinggi dalam susu formula dibanding dalam ASI bukan jaminan bahwa susu tersebut sebaik susu ibu apalagi lebih baik. Komposisi nutrien yang seimbang dan adanya zat antibodi spesifik dalam ASI menjamin ASI tetap lebih unggul dibanding susu formula.

2. Faktor ekonomi.

Seperti disebutkan di atas, beberapa wanita memilih bekerja di luar rumah. Bagi wanita karir, hal ini dilakukan bukan karena tuntutan ekonomi, melainkan karena status, prestise, atau memang dirinya dibutuhkan. Pada sebagian kasus lain, ibu bekerja di luar rumah semata karena tekanan ekonomi, di mana penghasilan suami dirasa belum dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Gaji pegawai negeri yang relatif rendah dapat dipakai sebagai alasan utama istri ikut membantu mencari nafkah dengan bekerja di luar rumah. Memang tidak ada yang perlu disalahkan dalam masalah ini.

Dengan bekerja di luar rumah, ibu tidak dapat berhubungan penuh dengan bayinya. Akhirnya ibu cenderung memberikan susu formula dengan botol. Bila bayi telah mengenal dot/botol maka ia akan cenderung memilih botol. Dengan demikian frekuensi penyusuan akan berkurang dan menyebabkan produksi menurun. Keadaan ini selanjutnya mendorong ibu untuk menghentikan pemberian ASI, tidak jarang terjadi sewaktu masa cutinya belum habis. Ibu perlu didukung untuk memberi ASI penuh pada bayinya dan tetap berusaha untuk menyusui ketika ibu telah kembali bekerja.
Motivasi untuk tetap memberikan ASI meskipun ibu harus berpisah dengan bayinya adalah faktor utama dalam keberhasilan ibu untuk mempertahankan penyusuannya. Pendirian tempat penitipan bayi dekat / di tempat ibu bekerja merupakan hal yang sangat penting.

3. Peranan tatalaksana rumahsakit / rumah bersalin.

Peranan tatalaksana atau kebijakan rumah sakit / rumah bersalin sangat penting mengingat kini banyak ibu yang lebih menginginkan melahirkan di pelayanan kesehatan yang lebih baik. Tatalaksana rumah sakit yang tidak menunjang keberhasilan menyusui harus dihindari, seperti :

- bayi dipuasakan beberapa hari, padahal refleks isap bayi paling kuat adalah pada jam-jam pertama sesudah lahir. Rangsangan payudara dini akan mempercepat timbulnya refleks prolaktin dan mempercepat produksi ASI.

- memberikan makanan pre-lakteal, yang membuat hilangnya rasa haus sehingga bayi enggan menetek.

- memisahkan bayi dari ibunya. Tidak adanya sarana rawat gabung menyebabkan ibu tidak dapat menyusui bayinya nir-jadwal.

- menimbang bayi sebelum dan sesudah menyusui, dan jika pertambahan berat badan tidak sesuai dengan harapan maka bayi diberi susu formula. Hal ini dapat menimbulkan rasa kuatir pada ibu yang memperngaruhi produksi ASI.

- penggunaan obat-obatan selama proses persalinan, seperti obat penenang, atau preparat ergot, yang dapat menghambat permulaan laktasi. Rasa sakit akibat episiotomi atau robekan jalan lahir dapat mengganggu pemberian ASI.

- Pemberian sampel susu formula harus dihilangkan karena akan membuat ibu salah sangka dan menganggap bahwa susu formula sama baik bahkan lebih baik daripada ASI.

Dalam hal ini perlu kiranya dibentuk klinik laktasi yang berfungsi sebagai tempat ibu berkonsultasi bila mengalami kesulitan dalam menyusui. Tidak kalah pentingnya ialah sikap dan pengetahuan petugas kesehatan, karena walaupun tatalaksana rumah sakit sudah baik bila sikap dan pengetahuan petugas masih belum optimal maka hasilnya tidak akan memuaskan.

4. Faktor-faktor dalam diri ibu sendiri

Beberapa keadaan ibu yang mempengaruhi laktasi adalah :

- keadaan gizi ibu

Kebutuhan tambahan kalori dan nutrien diperlukan sejak hamil. Sebagian kalori ditimbun untuk persiapan produksi ASI. Seorang ibu hamil dan menyusui perlu mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup dan seimbang agar kuantitas dan kualitas ASI terpenuhi. Dengan demikian diharapkan bayi dapat tumbuh kembang secara optimal selama 4 bulan pertama hanya dengan ASI (menyusui secara eksklusif).

- pengalaman / sikap ibu terhadap menyusui

Ibu yang berhasil menyusui anak sebelumnya, dengan pengetahuan dan pengalaman cara pemberian ASI secara baik dan benar akan menunjang laktasi berikutnya. Sebaliknya, kegagalan menyusui di masa lalu akan mempengaruhi pula sikap seorang ibu terhadap penyusuan sekarang. Dalam hal ini perlu ditumbuhkan motivasi dalam dirinya secara sukarela dan penuh rasa percaya diri mampu menyusui bayinya. Pengalaman masa kanak-kanak, pengetahuan tentang ASI, nasihat, penyuluhan, bacaan, pandangan dan nilai yang berlaku di masyarakat akan membentuk sikap ibu yang positif terhadap masalah menyusui.

- keadaan emosi

Gangguan emosional, kecemasan, stress fisik dan psikis akan mempengaruhi produksii ASI. Seorang ibu yang masih harus menyelesaikan kuliah, ujian, dsb., tidak jarang mengalami ASI nya tidak dapat keluar. Sebaliknya, suasana rumah dan keluarga yang tenang, bahagia, penuh dukungan dari anggota keluarga yang lain (terutama suami), akan membantu menunjang keberhasilan menyusui. Demikian pula lingkungan kerja akan berpengaruh ke arah positif, atau sebaliknya.

- keadaan payudara

Besar kecil dan bentuk payudara TIDAK mempengaruhi produksi ASI. Tidak ada jaminan bahwa payudara besar akan menghasilkan lebih banyak ASI atau payudara kecil menghasilkan lebih sedikit. Produksi ASI lebih banyak ditentukan oleh faktor nutrisi, frekuensi pengisapan putting dan faktor emosi. Sehubungan dengan payudara, yang penting mendapat perhatian adalah keadaan putting. Putting harus disiapkan agar lentur dan menjulur, sehingga mudah ditangkap oleh mulut bayi. Dengan putting yang baik, putting tidak mudah lecet, refleks mengisap menjadi lebih baik, dan produksi ASI menjadi lebih baik juga.

- peran masyarakat dan pemerintah

Keberhasilan laktasi merupakan proses belajar-mengajar. Diperlukan kelompok dalam masyarakat di luar petugas kesehatann yang secara sukarela memberikan bimbingan untuk peningkatan penggunaan ASI. Kelompok ini dapat diberi nama Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI), yang dapat memanfaatkan kegiatan posyandu dengan membuat semacam pojok ASI.
Kebijakan-kebijakan pemerintah RI sehubungan penggunaan ASI

1. Inpres no.14 / 1975

Menko Kesra selaku koordinator pelaksana menetapkan bahwa salah satu program dalam usaha perbaikan gizi adalah peningkatan penggunaan ASI.
Permenkes no.240 / 1985

Melarang produsen susu formula untuk mencantumkan kalimat-kalimat promosi produknya yang memberikan kesan bahwa produk tersebut setara atau lebih baik mutunya daripada ASI.
Permenkes no.76 / 1975

Mengharuskan produsen susu kental manis (SKM) untuk mencantumkan pada label produknya bahwa SKM tidak cocok untuk bayi, dengan warna tulisan merah dan cukup mencolok.
Melarang promosi susu formula yang dimaksudkan sebagai ASI di semua sarana pelayanan kesehatan.
Menganjurkan menyusui secara eksklusif sampai bayi berumur 4-6 bulan dan menganjurkan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun.
Melaksanakan rawat gabung di tempat persalinan milik pemerintah maupun swasta.
Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam hal PP-ASI sehingga petugas tersebut terampil dalam melaksanakan penyuluhan pada masyarakat luas.
Pencanangan Peningkatan Penggunaan ASI oleh Bapak Presiden secara nasional pada peringatan Hari Ibu ke-62 (22 Desember 1990).
Upaya penerapan 10 langkah untuk berhasilnya menyusui di semua rumah sakit, rumah bersalin dan puskesmas dengan tempat tidur.

Pelaksanaan rawat gabung dan kegiatan penunjangnya

Dalam rawat gabung bayi ditempatkan bersama ibunya dalam suatu ruangan sedemikian rupa sehingga ibu dapat melihat dan menjangkaunya kapan saja bayi atau ibu membutuhkannya. Bayi dapat diletakkan di tempat tidur bersama ibunya, atau dalam boks di samping tempat tidur ibu. Modifikasi lain dengan membuat sebuah boks yang ditempatkan di atas tempat tidur di sebelah ujung kaki ibu. Yang penting ibu harus bisa melihat dan mengawasi bayinya, apakah ia menangis karena lapar, kencing, digigit nyamuk dsb. Tangis bayi merupakan rangsangan sendiri bagi ibu untuk membantu produksi ASI.

Perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi dan dapat mengenali keadaan-keadaan abnormal, kemudian melaporkannya kepada dokter. Bayi kuning sering merupakan masalah bagi ibu meskipun sebenarnya keadaan ini seringkali masih dalam batas fisiologis.

Dokter (terutama dokter anak dan kebidanan) mengadakan kunjungan sekurang-kurangnya sekali dalam sehari. Dokter harus memperhatikan keadaan ibu maupun bayi, terutama yang berhubungan dengan masalah menyusui. Perlu diperhatikan apakah ASI sudah keluar, adakah pembengkakan payudara, bagaimana putingnya, adakah rasa sakit yang mengganggu saat menyusui, dsb. Demikian pula dengan bayinya, apakah sudah dapat mengisap, kuat atau tidak, rewel atau tidak, apakah muntah, mencret dsb.

Ibu menyusui sewaktu-waktu sesuai dengan keinginan bayi. Tidak dikenal lagi penjadwalan dalam memberikan ASI kepada bayi.

Perawat harus membantu ibu untuk merawat payudara, menyusui, menyendawakan dan merawat bayi secara benar. Bila bayi sakit / perlu diobservasi lebih lanjut, bayi dipindah ke ruang rawat bayi baru lahir (neonatologi). Bayi akan memperoleh perawatan lebih intensif, meskipun bukan berarti ASI tidak diberikan. ASI tetap diberikan dengan cara ibu berkunjung, atau ASI diperas dan diberikan dengan sendok.

Bila ibu dan bayi sudah diperbolehkan pulang, diberikan penyuluhan lagi tentang cara merawat bayi, payudara dan cara meneteki yang benar sehingga ibu di rumah terampil melakukan rawat gabung serta cara mempertahankan meneteki sekalipun ibu harus berpisah dengan bayinya. Harus ditekankan bahwa bayi tidak boleh diberi dot / kempengan. Selanjutnya perawat mengumpulkan data ibu dan bayi dalam sebuah lembar catatan medik yang sudah disiapkan.

Praktek rawat gabung

A. Cara memandikan bayi

- siapkan alat-alat

- cuci tangan sebelum dan sesudah memandikan bayi.

- bayi diletakkan telentang di atas tempat tidur / meja dengan alas perlak dan handuk.

- muka dan telinga dibersihkan dengan kain (waslap) basah kemudian dikeringkan dengan handuk.

- seluruh tubuh bayi disabun dengan menggunakan waslap yang telah diolesi sabun (leher, dada, perut, lipatan ketiak, kedua tangan / lengan, kedua kaki / tungkai, bagian belakang bayi).

- bayi dibersihkan dengan menggunakan kain lap (waslap) basah dalam ember mandi bayi.
- bayi diangkat dan dikeringkan dengan handuk.

- tali pusat ditutup dengan kain kasa yang telah direndam dalam alkohol 70%.

- dada, perut dan punggung diolesi minyak telon, tempat lipatan seperti pangkal paha, ketiak dan leher diberi bedak supaya tidak mudah lecet, dan diberi pakaian.

B. Cara menyusui
- cuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
- ibu duduk atau berbaring santai.
- payudara dipijat / massage supaya lemas.
- tekan areola antara ibu jari dan telunjuk sehingga keluar beberapa tetes ASI. Oleskan ASI tersebut pada putting susu dan areola sekitarnya sebelum menyusui.
- bayi diletakkan di pangkuan bila ibu duduk, dan di sebelah ibu bila ibu tiduran.
- ibu harus memegang payudara dengan posisi ibu jari di atas dan keempat jari lainnya di bagian bawah payudara.
- sebagian besar areola payudara harus berada di dalam mulut bayi.
- setiap payudara harus disusui sampai kosong, kurang lebih 10-15 menit.
- bayi menyusu pada dua payudara bergantian, setelah payudara pertama terasa kosong.
- bila akan melepaskan mulut bayi dari putting susu, masukkan jari kelingking antara mulut bayi dan payudara.
- sesudah selesai menyusui, oleskan ASI pada putting susu dan areola sekitarnya serta biarkan kering oleh udara.
- bayi digendong di bahu ibu atau dipangku tengkurap agar dapat bersendawa.
- periksa keadaan payudara, mungkin ada perlukaan / pecah-pecah atau terbendung.
- bayi menyusu setiap kali membutuhkan, sebagian dengan posisi berubah-ubah.
- pakailah bahan penyerap ASI di balik kutang, di luar waktu menyusui.

C. Cara merawat tali pusat
- siapkan alat-alat.
- cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat.
- tali pusat dibersihkan dengan kain kasa yang dibasahi alkohol 70%.
- setelah bersih, tali pusat dikompres alkohol / povidon iodine 10% (betadine) lalu dibungkus dengan kain kasa steril kering.
- setelah tali pusat terlepas / puput, pusar tetap dikompres dengan alkohol / povidon iodine 10% sampai kering.

boy antoni putra 19 juli 2008

July 18, 2008 |

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 TINJAUAN TEORITIS 2.1.1 Karakteristik Orang tua Karakteristik adalah kemampuan untuk memadukan nilai-nilai yang menjadi filosofi atau pandangan yang utuh, memperhatikan komitmen yang teguh dan responden yang konsisten terhadap nilai-nilai itu dengan menggenerasikan pengalaman tertentu menjadi satu sistem nilai (Notoadmodjo, 2003). Karakteristik adalah satu aspek kepribadian yang menggambarkan suatu susanan bathin manusia yang nampak pada kelakuan dan perbuatan (Purwanto, 2000) Badan Pusat Statistik Nasional (2007) membagi karakteristik untuk keluarga (rumah tangga) ditinjau berdasarkan survey khusus konsumsi yaitu: nama, pendidikan KK, lapangan usaha/pekerjaan, pendapatan KK. 2.1.1.1 Umur orang tua Perlakuan salah pada anak juga dipengaruhi oleh usia dari orang tua anak tersebut. Dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa semakin matang usia orang tua dalam berkeluarga semakin sedikit terjadinya resiko prilaku kekerasan pada anak, dan semakin kecil / muda usia orang tua dalam berkeluarga semakin besar terjadi resiko prilaku kekerasan pada anak. Huraerah, (2006) mengatakan, salah satu faktor orang tua penyebab perilaku kekerasan adalah belum mencapai kematangan fisik, emosi maupun sosial, terutama mereka yang mempunyai anak sebelum usia 20 tahun. 2.1.1.2 Tingkat pendidikan Pendidikan adalah bimbingan yangtelah diberikan seseorang kepada perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi, seperti hal-hal yang dapat menunjang kesehatan hidup. Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. Hal ini berdampak semakin banyak ilmu yang diketahuinya semakin kurang pula terjadinya perilaku kekerasan pada anak, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diketahuinya. 2.1.1.3 Ekonomi Beberapa ahli beranggapan bahwa faktor sosio ekonomi merupakan penyebab utama terjadinya penganiayaan pada anak. Anggapan ini didasari oleh data yang menunjukkan bahwa terjadinya prilaku kekerasan pada anak sering terjadi pada keluarga dengan ekonomi rendah. Namun hal ini juga didukung oleh faktor-faktor lain, karena tidak semua prilaku kekerasan terjadi pada keluarga yang ekonomi rendah, prilaku kekerasan juga terjadi pada golongan ekonomi tinggi. 2.1.1.4 Lingkungan Pengaruh lingkungan pada individu meliputi 2 sasaran, yaitu : 2.1.1.4.1 Lingkungan membuat Individu Sebagai Makhluk Sosial Dalam kehidupan bermasyarakat tidak terlepas dari hubungan bermasyarakat. Keluarga hidup selalu membutuhkan orang lain, hal ini disebut sebagai “Makhluk Sosial”, karena itu keluarga yang bertempat tinggal dilingkungan yang rawan terjadinya tindakan kekerasan akan berdampak pada keluarga tersebut secara tidak disadari. Hal ini sulit dipisahkan karena kondisi keluarga dan lingkungan akan mempengaruhi orang tua dalam bersikap. Namun sebaliknya hal ini dapat dicegah dengan adanya antipasi oleh orang tua dari indikasi negatif lingkungan tersebut. 2.1.1.4.2 Lingkungan membuat Wajah dan Budaya Bagi Individu Adanya pengaruh lingkungan terhadap prilaku manusia, yang menjadikan manusia sebagai makhluk sosial yang selalu bergaul / berinteraksi dengan lainnya. Peran lingkungan pada individu adalah sebagai berikut A. Lingkungan sebagai alat individu untuk kepentingan individu, alat untuk melangsungkan kehidupan individu dan alat untuk kepentingan dalam pergaulan sosial. B. Lingkungan sebagai tatanan bagi individu Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan prilaku individu karena lingkungan itu dapatmerupakan kawan atau lawan / tantangn bagi individu tersebut. C. Lingkungan sebagai sesuatu yang harus diikuti Sifat manusia senantiasa ingin mengetahui sesuatu dan mencoba sesuatu dalam batas-batas kemampuannya, lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan daya tarik kepada individu untuk mengikutinya. D. Lingkungan sebagai objek penyesuaian diri bagi individu Lingkungan mempengaruhi individu, sehingga ia berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan tersebut. 2.1.2 Konsep Perilaku Perilaku adalah aksi, sesuatu yang dilakukan orang. Perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon) seseorang, (Notoadmodjo, 1998). Perilaku merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang merupakan hasil akhir jalinan dan dimana terjadi saling mempengaruhi antara berbagai macam kemampuan jiwa yang jarang berdiri sendiri. Perilaku merupakan konsep yang tidak sederhana, sesuatu yang komplek yakni suatu pengorganisasian proses psikologis oleh seseorang yang memberikan predisposisi untukmelakukan responsi menurut cara tertentu terhadap suatu objek (Notoadmodjo, 2005) 2.1.2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua yakni faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern mencakup : pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi yang berfungsi mengolah rangsangan dari luar. Faktor ekstern meliputi : lingkungan sekitarnya baik fisik maupun non fisik seperti iklim, manusia, sosial dan ekonomi. Perilaku manusia berasal dari dorongan yangada didalam diri manusia, sedangkan dorongan itu untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Perilaku mempunyai arti yangkongkrit dapat dikenal jiwa seseorang, perilaku timbul karena dorongan dalam rangka pemenuhan kebutuhan (Purwanto, 1999). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat pentinguntuk terbentuknya tindakan seseorang, karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku didasari oleh pengetahun. Rogert (1974) mengungkapkan bahwa sebelum mengadopsi perilakubaru didalam diri individu tersebut terjadi proses berurutan yaitu : a. Awarnes (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu stimulus (objek). b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. c. Evaluation (menimbang) terhadap baik atau tidaknya stimulus terhadap dirinya. d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki stimulus. e. Adaption, dimana subjek telah berprilaku baru dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap stimulus. Yang termasuk perilaku ; A. Pengetahuan 1. Pengertian Adalah hasil “tahu” dan ini terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu(Notoadmodjo, 1997). 2. Tingkat Pengetahuan Pengetahuan terdiri dari tiga domain kognitif, domain afektif dan domain psikomotor (Susan and Bastabel,2002). B. Sikap 1. Pengertian Sikap atau tanggapan merupakan suatu kesilapan reaksi atau respon yangmasih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak belum merupakan suatu tidnakan atau aktifitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku (Notoadmodjo, 1997). 2. Tingkatan Sikap a. Menerima (receving) Menerima diartikan bahwa orang mau menerima dan memperhatikan stimulus yang diberikan. b. Merespon Memberikan jawaban, mengerjakan yang diberikan adalah indikasi dari sikap c. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain mengerjakan atau mediskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah. d. Bertanggung jawab Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih dengan segala resiko. C. Tindakan 1. Pengertian Tindakan merupaka respon lebih lanjut seseorang terhadap stimulus / objek. 2. Tingkatan Tindakan a. Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil. b. Respon (Respons) Melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar. c. Mekanisme (Mecanisme) Apabila telah melakukan dengan benar, otomatis menjadi kebiasaan. d. Adaptasi (Adaptation) Merupakan suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. 2.1.2.2 Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayan kesehatan, makanan serta lingkungan (Notoadmodjo,2003). Batasan ini mempunyai dua unsur pokok, yakni respons dan stimulus atau peragsang. Respons atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi dan sikap), maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau practice). Sedangkan stimulus atau rangsangan disini terdiri empat unsur pokok yakni: sakit dan penyakit, sistem pelayan kesehatan dan lingkungan. 1. Perilaku terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia berespon, baik secara pasif (mengetahui, berikap dan mempersepsi penyakit dan sakit pada dirinya dan luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukansehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit, yakni : a. Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion behavior). b. Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior). c. Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeking behavior). d. Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior). 2. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan, adalah respons seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. Perilaku ini menyangkut respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat-obatannya yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan penggunaan fasilitas, petugas dan obat-obatan. 3. Perilaku terhadap makanan (nutrion behavior), yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bago kehidupan. Perilaku ini meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya (zat gizi), pengelolaan makanan, dan sebagainya sehubungan dengan kebutuhan tubuh kita. 4. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environment health behavior) adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri. Menurut lawrence W. Green, perilaku kesehatan dipengaruhi tiga faktor, yakni : faktor predisposisi, yang berwujud dalam pengetahuan, pendidikan, tingkat ekonomi keluarga, umur dan pekerjaan. Faktor pendukung yang berwujud dalam lingkungan fisik (tersedia/tidaknya fasilitas kesehatan) dan sikap perilaku dari petugas kesehatan dan petugas lainnya (Notoadmodjo, 1997). 2.1.3 Prilaku kekerasan 2.1.3.1 Defenisi Perlakuan salah pada anak adalah segala perlakuan terhadap anak yang akibat-akibatnya mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial, maupun mental (Patilima, 2003). Perlakuan salah tersebut dilakukan oleh orang dewasa – orang tua, guru, aparat dan lain-lain. Child abuse adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya juga penyalahgunaan seksual. Child abuse adalah perlakuan yang dilakukan terhadap anak-anak sampai usia 14-15 tahun perlakuan yang salah ini dapat menimbulkan tekanan emosi seperti ditelantarkan, dimarahi atau ditakut-takuti (Soedjiningsih, 1995). Anak terlantar adalah anak-anak yang karena suatu sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasarnya dengan wajar, baik rohani, jasmani, maupun sosial. Seorang anak dikatakan terlantar bukan dia tidak memiliki salah satu orang tua atau keduanya (Media Indonesia, 2005). Penderaan anak atau penganiayaan anak atau kekerasan pada anak atau perlakuan salah terhadap anak merupakan terjemahan bebas dari child abuse, yaitu perbuatan semena-mena orang yang seharusnya menjadi pelindung (guard) pada seorang anak (individu berusia kurang dari 18 tahun) secara fisik, seksual dan emosi (Sugiarno, 2007), menurut Gelles, 2004 dalam (Huraerah, 2006) dalam Encyclopedia Article from Encarta, mengartikan child abuse sebagai “intentional acts that result in physical or emotional harm to children. The term child abuse cover a wide range of behavior, from actual physical assault by parents or other adult caretakers to neglect at at a chlid’s basic needs” (kekerasan tehadap anak adalah perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional. Istilah chil abuse meliputi berbagai macam tingkah laku, dari tindakan ancaman fisik secara lansung oleh orang tua atau orang dewasa lainnya sampai kepada penelantaran kebutuhan-kebutuhan dasar anak). 2.1.3.2 Klasifikasi Perilaku Kekerasan Perilaku kekerasan di klasifikasikan menjadi empat yaitu : 1. Penganiayaan Fisik (Phisical abuse) 2. Pengabaian / penelantaran (child neglect) 3. Penganiayaan seksual (sexual abuse) 4. Penganiayaan emosional (emotional abuse) 2.1.3.2.1 Penganiayaan Fisik (Phisical abuse) A. Konsep penganiayaan fisik Kerangka kerja keperawatan tentang anak teraniaya dan terlantar merupakan fenomena multi faktor yang nelibatkan orang tua, keluarga, budaya, anak dan stress dalam rentang mulai dari perilaku normal dan penuh kasih sayang sampai tindak penganiayaan dan penelantaran (Miror, 1981). Penganiayaan anak mencakup spektrum tindakan kasar atau tindakan pengawasan, dan kekurangan tindakan, atau tindakan melalaikan yang berakibat morbiditas atau mortalitas. Penyiksaan fisik dapat didefenisikan secara sempit sebagai luka yang disengaja pada anak oleh pengasuh yang berakibat memar, luka bakar, patah tulang, luka robek, luka tusuk dankerusakan organ. Defenisi yang lebih luas termasuk akibat emosional jangka pendek dan jangka panjang, yang dapat lebih melemahkan daripada pengaruh fisiknya (Nelson, 2000). B. Tanda-tanda yang dapat ditemukan Penyiksaan fisik dicurigai bila luka tidak terjelaskan, tidak dapat dijelaskan atau tidak masuk akal. Jika luka tidak cocok dengan riwayat yang diberikan atau perkembangan anak, penyiksa yang dicurigai harus dilaporkan. Nelson (2000), menjelaskan bahwa manifestasi klinik dengan anak penganiayaan fisik yaitu : 1. Memar Manifestasi klinik yang paling sering ditemui dan mungkin terdapat pada setiap permukaan tubuh. Disamping memar akibat pukulan atau ditampar, anak dapat juga dengan sengaja dibakar, dilukai atau ditusuk. Bentuk jejas dapat memberi kesan objek yang digunakan seperti sabuk, tangan, dan alat-alat yang meninggalkan bekas. Memar dapatberubah warna menurut waktu, warna memar dapat memperkirakan waktu luka terjadi. 2. Fraktur Fraktur paling sering akibat luka renggutan atau tarikan yang mencederai metafisis. Tanda klasik pada penyiksaan anak adalah fraktur retak dimana sudut metafisis tulang panjang terpecah samapi epifisis dan periosteum. 3. Rambut (alopesia) Rambut yang ditarik menyebabkan alopesia, dimana rambut putus tidak sama panjang. Bayi yang tersia-sia, dibiarkan berbaring dengan lama mempunyai kemungkinan kehilangan rambut pada bagian belakang kepala. 4. Keadaan yang memberi kesan penyiksaan Keadaan ini merupakan suatu keadaan yang tidak dilaporkan, merupakan 25% kasus penyiksaan fisik yang dievaluasi di Rumah Sakit Anak. Ptekie muka dan bahu karena berusaha muntah, batuk dan nangis yang kuat, berbagai keadaan lain seperti bercak mongolian, hemangioma kapiler, nevi pigmentosa, dan keadaan kongenital, alergi, infeksi kulit, luka bakar juga memar dikulit. 5. Luka bakar Sekitar 10% kasus penyiksaan fisik mencakup luka bakar. Bentuk dan gambaran luka bakar disesuaikan dengan ukuran luas luka bakar tersebut. Keadaan beratnya luka dapat memperhitungkan objek yang menyebabkan terjadinya luka. 6. Trauma kepala Kematian tersering pada penyiksaan fisik adalah cedera kepala. Kepala, muka atau isi kranium terjejas pada 29% laporan penyiksaan anak dirumah sakit. Lebih dari 95% luka intra kranial yang serius menyebabkan kematian. Trauma kepala dapat terlihat dari hasil pemeriksaan CT-Scan kepala dan adanya tanda fraktur tulang kepala. 7. Jejas intra abdomen. Penyebab kematian akibat penyiksaan fisik yang lazim kedua adalah dipukul berulang-ulang. Terutama pada bagian abdomen menyebabkan anakmuntah berulang kali, kembung perut, tidak ada suaru usus (bising) dan nyeri setempat atau syok. 2.1.3.2.2 Pengabaian / penelantaran (child neglect) A. Konsep Pengabaian / Penelantaran Penelantaran anak atau kelalaian, yaitu kegiatan atau behavior yang langsung dapat menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik anak dan perkembangan psikologisnya (Asnah Sitohang, 2004). B. Tanda-tanda yang dapat ditemukan Penelantaran dan pengabaian anak dapat berupa : 1. Pemeliharaan yang kurang memadai. Menyebabkan gagal tumbuh, anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan. 2. Pengawasan yang kurang memadai. Menyebabkan anak mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan kejiwaan. 3. Kelalaian dalammendapatkan pengobatan. Kegagalan dalam merawat anak dengan baik. 4. Kelalaian dalam pendidikan. Meliputi kegagalan dalam mendidik anak, kurang mampu berinteraksi dengan lingkungannya, gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga terpaksa putus sekolah. 2.1.3.2.3 Penganiayaan seksual (sexual abuse) A. Konsep penganiayaan seksual Paksaan pada seseorang anak untuk mengajak berperilaku / mengadakan kegiatan seksual yang nyata, sehingga menggambarkan kegiatan seperti : aktivias seksual (oral genital, genital, anal dan sodomi) termasuk Incest (Asnah Sitohang, 2004). Seksual abuse adalah setiap aktivitas pada anak, dimana umur belum mencukupi menurut izin hukum, yang digunakan untuk sumber kepuasan seksual orang dewasa atau anak yang sangat lebih tua (Nelson, 2000). Penyalahgunaan seksual dapat berupa pegang-pegang ke hubungan seksual. Permainanan seksual dapat didefenisikan sebagai memandang atau menyentuh genitalia, pantat, dada oleh orang dewasa / tua dengan maksud pelecehan seksual. B. Tanda-tanda yang dapat ditemukan Kemungkinan adanya pelecehan seksual, ketika anak : 1. Sulit berjalan atau duduk. 2. Tiba-tiba menolak berganti pakaian untuk senam atau berpartisipasi pada aktivitas fisik. 3. Menunjukkan pengetahuan atau tingkah laku seksual yang aneh, canggih atau tidak biasa. 4. Hamil atau mengalami penyakit menular seksual, khususnya jika dibawah usia 14 tahun. Nelson, (2000) menerangkan gejala fisik akibat sexual abuse adalah : 1. Nyeri vagina,penis atau rektum, erithema, sekret atau perdarahan. 2. Disuria kronik, enuresis, konstipasi atau gerakan usus yang tidak disengaja. 3. Pubertas prematur pada wanita. Sedangkan gejala perilaku non spesifik akibat sexual abuse yaitu : Rasa takut pada suatu individu atau tempat, mimpi buruk atau gangguan tidur, regresi, agresi, perilaku pendiam atau stres pasca trauma, harga diri rendah, depresi kinerja sekolah jelek, melarikan diri, pengrusakan diri, penyalanggunaan obat, gangguan makan ,dan dismenorhea. 2.1.3.2.4 Penganiayaan emosional (emotional abuse) A. Konsep penganiayaan emosional. Perlakuan kejam kepada anak melalui lisan / verbal yaitu dengan mengungkapkan kata-kata kasar, menyinggung perasaan anak dimana anak akan mengingat semua kekerasan verbal itu jika kekerasan verbal tersebut berlangsung dalam satu periode (Rakhmat, 2003). Penganiayaan secara verbal sering diikuti dengan penganiayaan fisik anak. Secara terus menerus menyalahkan, mengecilkan arti atau menyamaratakan anak, tidak memperhatikan anak dan menolak tawaran untuk dibantu menyelesaikan permasalah anaknya disekolah atau secara nyata menolak anak. B. Tanda-tanda yang dapat ditemukan 1. Menunjukkan tingkah laku yang ekstrim, seperti terlalu banyak protes atau menuntut, sangat pasif atau agrsif. 2. Bertingkah laku seperti orang dewasa (misalnya mengajari / menceramahi anak lain), atau seperti anak kecil (misalnya sering membenturkan kepala) 3. Mengalami kemunduran perkembangan fisik. 4. Mencoba bunuh diri. 5. Mengatakan bahwa hubungannya dengan orang tua kurang dekat. 2.1.3.3 Faktor Penyebab Rakhmat (2003) menerangkan bahwa kekerasan yang terjadi pada anak disebabkan oleh beberapa Faktor Sosial yakni : 2.1.3.3.1 Norma Sosial Tidak adanya kontrolsosial pada tindakan kekerasan pada anak-anak. Orang tua yang mencambuk anaknya tidak dipersoalkan oleh tentangganya, selama anak itu tidak meniggal dunia (lebih tepat lagi, selama tidak diporkan ke polisi). Sebagai orang tua ia melihat anaknya sebagai hak milik dia yang dapat diperlakukan sekehendak hatinya. Tidak ada aturan hukum yang melindungi anak dari perlakuan buruk orang tua atau wali atau orang dewasa. 2.1.3.3.2 Nilai Sosial Hubungan anak dengan orang dewasa berlaku seperti hirarkhi sosial di masyarakat. Atasan tidak boleh dibantah. Aparat harus dipatuhi, guru harus ditiru dan orang tua tentusaja wajib ditaati dengan sendirinya. Dalam hirarkhi sosial anak-anak berada pada daerah paling bawah. Orang dewasa melihat anak-anak sebagai “bakal manusia” dan bukan sebagai manusia yang hak asasinya tidak boleh dolanggar. 2.1.3.3.3 Ketimpangan Sosial Dalam hal ini kita akan menjumpai pelaku dan korban perilaku kekerasan (child abuse) kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Kemiskinan, yang tentu saja masalah sosial lainnya yang diakibatkan karena struktur ekonomi dan politik yang menindas, telah melahirkan subkultur kekerasan. Sugiarno (2007) menjelaskan banyak teori bekaitan dengan kekerasan pada anak, diantaranya teori yang berkaitan dengan stres didalam keluarga (family stress). Stres dalam keluarga tersebut berasal dari : 1. Stres berasal dari anak (child produced stress) Anak dengan gangguan fisik, mental, atau perilaku yang berbeda, anak usia balita, serta anak dengan penyakit menahun. 2. Stres berasal dari orang tua (parental produced stress) Orang tua dengan gangguan jiwa, orang tua korban kekerasan pada masa lalu, orang tua terlampau perfek dengan harapan pada anak terlalu tinggi dan orang tua dengan disiplin yang tinggi. 3. Stres berasal dari situasi tertentu (situational produced stress) Terkena PHK, pengangguran, pindah lingkungan dan keluarga yang sering bertengkar. Menurut Suharto, 1997 dalam (Huraerah, 2006), kekerasan terhadap anak umumnya disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri, maupun faktor eksternal yang berasal dari kondisi keluarga dan masyarakat, seperti : 1. Anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku, autisme, anak terlalu lugu, memiliki tempramen lemah, ketidak tahuan anak akan hak-haknya, anak terlalu bergantung pada orang dewasa. 2. Kemiskinan keluarga, orang tua menganggur, penghasilan tidak cukup dan banyak anak. 3. Keluarga tunggal atau keluarga pecah (broken home), misalnya perceraian, ketiadaan ibu untuk jangka panjang atau keluarga tanpa ayah dan ibu tidak mampu memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi. 4. Keluarga yang belum matang secara psikologis, ketidaktahuan mendidik anak, harapan orangtua yang tidak tealistis, anak yang tidak diinginkan(unwanted child), anak yang lahir diluar nikah. 5. Penyakit parah atau gangguan mental pada salah satu atau kedua orang tua, misalnya tidak mampu merawat dan mengasuh anak karena gangguan emosional dan depresi. 6. Sejarah penelantaran anak. Orangtua yang semasa kecilnya mengalami perlakuan salah cendrung memperlakukan salah anak-anaknya. 7. Kondisi lingkungan sosial yang buruk, pemukiman kumuh, tergusurnya tempat bermain anak, sikap acuh tak acuh terhadap tindakan eksploitasi, pandangan terhadap nilai anak yang terlalu rendah, meningkatnya faham ekonomi upah, lemahnya pernangkat hukum, tidak adanya mekanisme kontrol sosial yang stabil. Sementara itu, Rusmil (2004) dalam Huraerah, (2006) menjelaskan bahwa penyebab atau resiko terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor, yaitu: faktor orangtua/keluarga, faktor lingkungan sosial/komunitas, dan faktor anak sendiri. 1. Faktor orangtua/keluarga. Faktor orangtua memegang peranan penting terjadinya kekerasan dan penelantaran pada anak. Faktor-faktor yang menyebabkan orangtua melakukan kekerasan pada anak antaranya: a. Praktik-praktik budaya yang merugikan anak: – Kepatuhan anak kepada orangtua. – Hubungan asimetris. b. Dibesarkan dengan penganiayaan. c. Gangguan mental. d. Belum mencapai kematangan fisik, emosi maupun sosial, terutama mereka yang mempunyai anak sebelum anak berusia 20 tahun. e. Pecandu minuman keras dan obat. 2. Faktor lingkungan sosial/komunitas. Kondisi lingkungan sosial juga dapat menjadi pencetus terjadinya kekerasan pada anak. Faktor lingkungan sosial yang dapat menyebabkan kekerasan dan penelantaran pada anak diantaranya: a. Kemiskinan dalam masyarakat dan tekanan nilai materialistis. b. Kondisi sosial-ekonomi yang rendah. c. Adanya nilai dalam masyarakat bahwa anak adalah milik orangtua sendiri. d. Status wanita yang dipandang rendah. e. Sistem keluarga patriakhal. f. Nilai masyarakat yang telalu individualistis. 3. Faktor anak itu sendiri. a. Penderita gangguan perkembangan, menderita penyakit kronis disebabkan ketergantungan anak kepada lingkungannya. b. Perilaku menyimpang pada anak. 2.1.3.4 Efek kekerasan terhadap anak Rusmil (2004) dalam (Huraerah, 2006) mengemukakan bahwa anak-anak yang menderita kekerasan, eksploitasi, pelecehan, dan penelantaran menghadapi resiko: A. Usia yang lebih pendek. B. Kesehatan fisik dan mental yang buruk. C. Masalah pendidikan (termasuk dropt-out dari sekolah). D. Kemampuan yang terbatas sebagai orangtua kelak. E. Menjadi gelandangan. Sementara itu, YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) dalam Suharto 1997, dalam (Huraerah, 2006), menyimpulkan bahwa kekerasan dapat menyebabkan anak kehilangan hal-hal yang paling mendasar dalam kehidupannya dan pada gilirannya berdampak sangat serius pada kehidupan anak di kemudian hari, antara lain: A. Cacat tubuh permanen. B. Kegagalan belajar. C. Gangguan emosional bahkan dapat menjurus pada ganggua kepribadian. D. Konsep diri yang buruk dan ketidakmampuan untuk mempercayai atau mencitai orang lain. E. Pasif dan menarik diri dari lingkungan, takut membina hubungan baru dengan orang lain. F. Agresif dan kadang-kadang melakukan tindakan kriminal. G. Menjadi penganiaya ketika dewasa. H. Menggunakan obat-obatan dan alkohol. I. Kamatian. Sedangkan Gelles, 2004 dalam (Huraerah, 2006) menjelaskan konsekuensi dari tindakan kekerasan dam penelatanaran anak dapat menimbulkan kerusakan dan akibat yang lebih luas(far reaching). Luka-luka fisik, seperti: memar (bruises), goresan-goresan (scrapes), dan luka bakar (burns) hingga kerusakan otak (brain damage), cacat permanen (permanent disabilites), dan kematia (death). Efek psikologis pada anak korban kekerasan dan penganiayaan bisa seumur hidup, seperti: rasa harga diri rendah (a lowered sense of self-worth), ketidakmampuan berhubungan dengan teman sebaya (an inability to relate to peers), masa perhatian tereduksi (reduced attention span), dan gangguan belajar (learning disorders). Dalam beberapa kasus, kekerasan dapat mengakibatkan gangguan-gangguan kejiwaan (psychiatric disorders), seperti: depresi(depression), kecemasan berlebihan (excessive anxiety), atau gangguan identitas disosoatif (dissociative identity disorders), dan juga bertambahnya resiko bunuh diri (suicide). Gambaran yang lebih jelas tentang efek tindakan kekerasan pada anak, juga diungkapkan oleh Moor dalam Fertini, 1992 (dalam Huraerah, 2006), bahwa efek tindakan kekerasan secara umum dapat di klasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada yang menjadi negatif dan agresif serta mudah frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada yang tidak mempunyai kepribadian sendiri, apa yang dilakukan sepanjang hidupnya hanyalah membuhi keinginan orangtuanya (parental extensioon), mereka tidak mampu menghargai dirinya sendri (chronically low self-esteem); ada pula yang sulit menjalin relasi dengan individu lain dan yang tampak paling parah adalah timbulnya rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya (self-hate) karena merasa hanya dirinyalah yang selalu bersalah sehingga menyebabkan penyiksaan terhadap dirinya, dan rasa benci terhadap dirinya sendiri ini menimbulkan tindakan untuk menyakiti dirinya sendiri seperti bunuh diri dan sebagainya. Selain akibat psikologis tersebut, Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh yang kurang normal, juga rusaknya sistem syaraf dan sebagainya. 2.1.3.5 Faktor Pendukung Perkembangan Anak 2.1.3.5.1 Peran Orang Tua Peran aktif orang tua sangat diperlukan terutama pada saat anak berada dibawah usia lima tahun (balita) dimana anak mutlak bergantung pada lingkungannya. Peran aktif orang tua yang dimaksud adalah usaha langsung terhadap anak, dan peran lain yang penting adalah menciptakan rumah sebagai lingkungan sosial yang pertama dialami anak. Dalam usah mendidik anak harus diperhatikan pula adanya peran aktif dari segi anak itu sendiri. Anak harus diperlakukan sebagai pribadi anak yang aktif yang perlu dirangsang untuk menghadapi dan mengatasi masalah dengan interaksi dan komunikasi antara orang tua. Peranan orang tua sangat penting untuk menjalankan fungsinya sebagai “top manajer”. Hendaknya memperhatikan situasi dan kondisiyang memungkinkan, artinya sikap dan perbuatan yang dilakukan sebagai tauladan atau contoh yang harus dipertimbangkan dengan baik (Suherman, 2000). 2.1.3.5.2 Sikap Orang Tua A. Sikap Otoriter a. Orang tua menentukan segala sesuatu. b. Anak tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. c. Keinginan atau cita-cita anak tidakmendapat perhatian. d. Sikap orang tua berdasarkan prinsip hukuman dan ganjaran. Akibat yang terjadi pada anak : a. Kurang berkembang rasa sosial. b. Tidak timbul kreatifitasdan keberaniannya untuk mengambil keputusan. c. Timbul sifat menyendiri. B. Sikap Liberal Orang tua mempunyai anggapan bahwa anak dianggap sebagai orang dewasa kecil dapat mengambil tindakan dan jeputusan sendiri menurut kehendaknya tanpa bimbingan. Akibat yang terjadi pada anak : a. Tidak mengenal tata tertib atau sopan santun. b. Sering mengalami rasa kecewa. c. Lebih mementingkan diri sendiri (egois) d. Hubungan dengan orang tua kurang harmonis. e. Sering menentang norma yangberlaku dimasyarakat tempat tinggal. C. Sikap Demokratis Memperlakukan anak sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak dan mempertimbangkan keinginan anak. Akibat yang terjadi pada anak: a. Berprilaku dan bertanggung jawab yang besar. b. Dapat menerima perintah dan dapat diperintah secarawajar c. Dapat menerima kritikan secara terbuka d. Dapat menghargai pekerjaan dan jerih payah orang lain. 2.1.3.6 Tumbuh Kembang Anak Usia 6 – 12 Tahun 2.1.3.6.1 Defenisi Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamik sepanjang kehidupan manusia, perubahan yang terjadi pada satu fase menjadi dasar perkembangan pada fase berikutnya, perkembangan dan dan pertumbuhan yang mencolok terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja (Achiryani, 1999). Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda namun saling berkaitan yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Tumbuh diuraikan sebagai peningkatan dalam ukuran tinggi dan berat badan atau tiap bagian tubuh, pertumbuhan dapat diukur secara kuantitatif dengan mengguanakan satuan kilogram atau senti meter. Sedangkan perkembangan adalah peningkatan fungsi dan keterampilan yang bersifat kompleks. Perubahan terjadi secara kulitatif yaitu perubahan psikososial, kognitif dan moral (Achiryani, 1999) 2.1.3.6.2 Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak A. Genetik Merupakan modal dasar dalam mencapai hasil proses tumbuh kembang melalui interuksi genetik. B. Lingkungan Merupakan hal yang sangat menentukan. Lingkungan ini merupakan lingkungan bio-psiko-sosial yang mempengaruhi individu setiap hari mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya. Lingkungan anak pada waktu masih dalam kandungan dipengaruhi oleh gizi ibu,mekanis, toksis, imunitas dan lain-lain. Sedangkan lingkungan setelah anak lahir, ada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya faktor psikologis: stimulasi, motivasi belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar, cinta kasih serta kualitas interaksi anak dengan orang tua. 2.1.3.6.3 Tahap tumbuh kembang anak pada anak usia 6-12 tahun Tahap ini merupakan periode usia yang kadang-kadang disebut sebagai masa anak-anak pertengahan atau masa laten, mempunya tantangan baru. Kekuatan kognitif untuk memikirkan banyak faktor secara stimultan memberikan kemampuan pada anak usia ini untuk mengevaluasi diri sendiri dan merasakan evaluasi dari teman-temannya. Sebagai akibatnya, penghargaan diri menjadi masalah sentral (Nelson, 2000). A. Perkembangan fisik Pertumbuhan selama periode ini rata-rata 3-3.5 kg dan 6 cm pertahun. Kekuatan otot, koordinasi dan daya tahan tubuh meningkat secara terus menerus. Organ-organ seksual secara fisik belum matang, namun minat pada jenis kelamin yang berbeda dan tingkah laku seksual tetap aktif dan meningkat secara progresig sampai pubertas. B. Perkembangan kognitif dan bahasa Pemikiran anak usia sekolah secara kualitas berbeda dari anak yang usianya lebih muda 1-2 tahun. Pada tempat kognisi yang berdaya tarik, egosentris, dan terikat persepsi, anak usia sekolah semakin mempraktekkan aturan-aturan yang berdasarkan pada fenomena yang dapat diamati. Kegiatan intelektual meluas di luar kelas,mulai pada tingkat ketiga atau keempat, anak semakin suka pada permainan strategi dan permainan kata yang melatih pegembangan penguasaan kognitif dan bahasa. C. Perkembangan emosi dan sosial Perkembangan emosi dan sosial berlanjut pada tiga konteks: rumah, sekolah dan lingkungan sekitarnya. Dari ketiga ini, rumah tetap yang paling mempengaruhi. Hubungan dengan orang tua berlanjut untuk memberikan keamanan dasar yang dengannya dapat memberikan keberanian anak untuk dapat keluar. Pada usia ini sangat berpengaruh bila anak merasa berbeda dan kurang populer dalam kelompoknya. Ejekan dan cemoohan dari teman dapat tergabung kedalam citra diri anak. Bahaya dari lingkungan sekitar dapat berupa lingkungan jalan yang ramai, pengertak dan orang asing yang membebani kecerdikan dan pengetahuan umum mereka. Seperti media masa yang menayangkan penganiayaan, kekerasan dan perilaku materalisme dapat meningkatkan ketidak berdayaan anka-anak pada dunia yang lebih luas 2.2 PENELITIAN TERKAIT Gambaran temuan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI, 2004 ), yang cukup menonjol adalah Pertama, bentuk perlakuan salah pada anak korban perempuan, untuk perlakuan salah secara seksual total 2.099 kasus, yang diperkosa 48,6%, dicabuli 16,4%, digauli 5,2% dan dijual 2,2%. Pada anak laki-laki, perlakuan salah secara fisik 575 kasus diantaranya mengalami penganiayaan 16,1%, penculikan 12,1%, pembunuhan 7% dan penghukuman 3,8% serta bentuk lain dibacok, disandra dan ditodong. Kedua, Usia Korban. Usia korban anak perempuan yang banyak mengalami perlakuan salah secara seksual dialami oleh anak uisa 6-12 tahun 24,5%, secara fisik, usia 0-5 tahun 6,2% dan penelantaran, usia 0-5 tahun 4,7%. Pada anak laki-laki yang mengalami perlakuan salah secara seksual, usia 6-12 tahun 17,9% dan penelantaran usia 0-5 tahun 12,2%. Ketiga, Hubungan Pelaku Dengan Korban. Pelaku perlakuan salah secara seksual adalah, orang lain 70%, ayah 10,3%, guru 5,1%. Perlakuan salah secara fisik adalah, orang lain 76%, ibu 9,8% dan guru 5,2%. Pada kasus perlakuan salah secara seksual, pelakunya adalah ibu korban, karena terlibat langsung dalam proses perdagangan anak kepada para mucikari dan hidung belang. Keempat, Tempat Kejadian Perkara. Tempat kejadian perkara untuk kasus perlakuan salah dan penelantaran 40,4% terjadi dirumah, dan selebihnya ditempat lain, diantaranya hotel, hutan dan lain-lain. Sekolah menjadi pusat pendidikan dan sumber ilmu pengetahun juga merupakan tempat subur terjadinya perlakuan salah pada anak yakni 6,3%, dan tempat umu atau tempat bermain 12,9%. Temuan ini menunjukkan sangkaan selama ini bahwa perlakuan salah pada anak hanya terjadi irumah, perlu di defenisikan kembali, karena fakta memperlihatkan perlakuan salah juga terjadi di sekolah, tempat umum, tempat kerja dan tempat lainnya (Patilima, 2003) 2.3 KERANGKA KONSEP Menurut Suharto, 1997 dalam (Huraerah, 2006), kekerasan terhadap anak umumnya disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri, maupun faktor eksternal yang berasal dari kondisi keluarga dan masyarakat. Sementara itu, Rusmil (2004) dalam Huraerah, (2006) menjelaskan bahwa penyebab atau resiko terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor, yaitu: faktor orangtua/keluarga, faktor lingkungan sosial/komunitas, dan faktor anak sendiri. Karena keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, maka penelitian ini terbatas pada faktor orang tua berdasarkan karakteristiknya yaitu umur, pendidikan, pekerjaan dan lingkungan. Sesuai dengan tujuan penelitian, maka yang menjadi perhatian dalam penelitian dapat digambarkan dalam kerangka konsep dibawah ini : Variabel Independen Variabel Dependen 2.4 HIPOTESIS Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut Hipotesa mayor : Ho : Tidak ada hubungan antara karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, lingkungan) orang tua dengan perilaku kekerasan pada anak. Ha : Ada hubungan antara karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, lingkungan) orang tua dengan perilaku kekerasan pada anak. Hipotesa Minor : Ho: Tidak adanya hubungan karakteristik umur orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ho: Tidak adanya hubungan karakteristik pendidikan orangtua dengan perilaku kekerasan fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ho: Tidak adanya hubungan karakteristik pekerjaan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ho: Tidak adanya hubungan karakteristik lingkungan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ha: Adanya hubungan karakteristik umur orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ha: Adanya hubungan karakteristik pendidikan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ha: Adanya hubungan karakteristik pekerjaan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. Ha: Adanya hubungan karakteristik lingkungan orangtua dengan perilaku kekerasan (fisik, penelantaran, emosional, seksual) pada anak. 2.5 DEFENISI OPERASIONAL No Variabel Defenisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur 1 Independen Karakteristik orang tua Umur Hal – hal yang ada dalam diri orang tua yang berpengaruh dalam bersikap dan berperilaku Lamanya hidup yang dihitungsejak mulai lahir sampai usia saat penelitian Angket Kuisioner yang berisi daftar pertanyaan Ordinal – Muda : 20-35 tahun – Tua > 35 tahun 2 Pendidikan Latar belakang pendidikan formal saat diteliti Angket Kuisioner yang berisi daftar pertanyaan Ordinal – Tinggi : perguruan tinggi dan SMA – Rendah : SD dan SMP 3 Pekerjaan Suatu bentuk kegiatan yang menyangkut dalam hal keuangan Angket Kuisioner yang berisi daftar pertanyaan Ordinal – Tinggi >Rp 500.000 – 1.000.000 – Rendah 50% 6 Perilaku secara penelantaran Perilaku yang dilakukan orang tua terhadap anak dengan cara pengabaian / penelantaran karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Panduan observasi dan angket Wawancara secara langsung Ordinal – Perilaku normal : ≤50% – Perilaku tidak normal : >50% 7 Perilaku secara seksual Perilaku yang dilakukan orang tua terhadap anak secara seksual karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Panduan observasi dan angket Wawancara secara langsung Ordinal – Perilaku normal : ≤50% – Perilaku tidak normal : >50% 8 Perilaku Emosional Perilaku yang dilakukan orang tua terhadap anak secara emosional disertai verbal karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Panduan observasi dan angket Wawancara secara langsung Ordinal – Perilaku normal : ≤50% – Perilaku tidak normal : >50%
boy antoni putra askep rupa-rupa
ok punya nihCEDERA KEPALA PADA ANAK BOY ANTONI PUTRA Bukittinggi 16 juni08 PENDAHULUAN Cedera kepala pada anak merupakan penyebab kematian dan cacat yang tinggi. Kurang lebih 25% cedera yang dapat meneybabkan kematian pada anak disebabkan oleh cedera kepala (Huttlenlocher, 1987; Evans, 1987). Di Inggris jumlah anak yang masuk ke rumah sakit karena cedera kepala meningkat 6 kali dalam 20 tahun yang terakhir (Menkes, 1985). Menurut Blaskey setiap tahun terdapat 200.000 anak yang dirawat karena cedera kepala dan diperkirakan 15.000 anak memerlukan perawatan jangka panjang. Pada anak dengan cedera kepala yang berat ± 50% mempunyai gejala sesa neurologik dan ± 2%-5% meninggalkan cacat yang berat. Oleh karena angka kejadian cedera kepala pada anak cukup tinggi, maka perlu diagnosis dini, perawatan, pengobatan serta mengamati perjalanan penyakit merupakan kunci dalam menanggulangi cedera kepala. PENYEBAB CEDERA KEPALA Jenis cedera yang dapat meneybabkan kerusakan kepala dan jaringan otak sangat bervariasi dari tekanan yang paling ringan sampai kecelakaan lalu lintas. Pada anak kurang dari 4 tahun cedera kepala sering disebabkam oleh jatuh dari meja, kursi, tangga, tempat tidur dan lain-lain. Sedangkan pada anak yang lebih besar sering disebabkan oleh mengendarai sepeda atau karena kecelakaan lalu lintas (McLaurin RL and Towbin R, 1990). PATOFISOLOGI Kulit kepala, rambut, tulang tengkorak dan tulang muka melindungi otak dari cedera. Bila cedera dengan tekanan sedang dapat terjadi fraktur linear, tetapi bila dengan kekuatan yang tinggi dapat menyebabkan suatu fraktur depresi. Otak dan tengkorak memberi respon yang berbeda terhadap kekuatan akselerasi dan deselerasi yang disebabkan oleh pukulan. Pergerakan otak pada permukaan tengkorak bagian dalam yang ireguler dan tajam (seperti permukaan orbita, pada fossa frontalis, sphenoid ridge, falx dantentorium) dapat menyebabkan terjadinya leserasi dan kontusio pada otak, vena serebral yang berhubungan dengan sinus venosus dapat robek sehingga darah akan masuk ke ruang subdural. Fraktur juga dapat menyebabkan putusnya arteri meningeal dan sinus venosus yang besar menyebabkan perdarahan pada ruang epidural. Setelah cedera otak, cerebral blood flow dapat menurun oleh karena vaso spasme, sedangkan pada daerah yang lain dapat terjadi dilatasi arteriol akibat hilangnya mekanisme pengaturan yang otomatis. Akibat daripada vasodilatasi pembuluh darah disertai dengan edem serebri dan adanya hematoma dapat meninggikan tekanan intrakranial (Russel & Patterson, 1975). 2002 digitized by USU digital library 2 KLASIFIKASI Akibat cedera kepala dapat terjadi beberapa bentuk kelainan seperti: 1. Kulit kepala a. Luka tertutup b. Luka terbuka 2. Fraktur tulang tengkorak, yang terdiri atas: a. Fracture linear b. Fracture diastetik c. Fracture basis d. Fracture depresi e. Fracture gabungan f. Growing fracture 3. Cedera otak a. Concussion b. Contusio c. Laserasi 4. Intrakranial hematoma a. Ekstradural hematoma b. Subdural hematoma c. Subdural hygroma d. Intraserebral hematoma (Gilroy JB, 1982; Menkes JH, 1980) DIAGNOSA CEDERA KEPALA 1. Anamnesa Anamnesa yang terperinci mengenai cedera perlu dilakukan sehingga dapat diketahui lokalisasi dan cara terjadinya cedera kepala 2. Pemeriksaan umum Beberapa hal yang perlu di observasi, adalah: Fungsi vital Tekanan darah yang meninggi disertai dengan bradikardi dan pernapasan yang tidak teratur (trias Cushing) menandakan adanya tekanan tinggi intrakranial. Nadi yang cepat disertai hipotensi dan pernapasan yang ireguler mungkin disebabkan gangguan fungsi batang otak misalnya pada fracture oksipital. Mata Perlu diperiksa besar danreaksi dari pupil. Perdarahan retina sering terlihat pada perdarahan subarakhnoid atau perdarahan subdural Kepala Diperiksa apakah terdapat luka, hematoma, fracture. Bila terdapat nyeri atau kekakuan pada leher atau perdarahan subarakhnoid Tekinga dan hidung Diperiksa apakah terdapat perdarahan atau keluar cairan serebrospinal dari hidung/telinga. Perdarahan telinga disertai akimosis di daerah mastoid (Battle’s sign) mungkin akibat fracture basis kranil Abdomen Abdomen juga harus diperiksa terhadap kemungkinan adanya perdarahan intra abdominal. 2002 digitized by USU digital library 3 3. Pemeriksaan neurologik Derajat kesadaran merupakan indikator beratnya kerusakan otak. Derajat kesadaran harus dinyatakan dalam bentuk respons mata, verbal dan motorik. Pada anak dipergunakan dalam Children Coma Scale. (Raimondi AJ, 1986) Respons mata: score maksimal 4 Gerakan mata pursuit Score 4 Otot ekstra intak, pupil reaktif Score 3 Fixed pupil atau gangguan otot ekstra okuler Score 2 Fixed pupil dan paralise otot ekstra okuler Score 1 Respons verbal: score maksimal 3 Menagis Score 3 Napas spontan Score 2 Apnoe Score 1 Respon motorik: score maksimal 4 Fleksi dan ekstensi Score 4 Dengan rangsangan nyeri terjadi gerakan withdrawn Score 3 Hipertonik Score 2 Flaksid Score 1 Menurut North B and Reilly P., jumlah score yang normal : Bayi baru lahir sampai umur 6 bulan , jumlah score 9 Umur 6 bulan sampai 12 bulan, jumlah score 11 Umur 12 bulan sampai umur 2 tahun, jumlah score 12 Umur 2 tahun sampai umur 5 tahun, jumlah score 13 Umur 5 tahun atau lebih, jumlah score 14 Selanjutnya diperiksa saraf otak lainnya (bentuk pupil, refleks cahaya, refleks kornea, refleks okulosefalik), refleks fisiologis serta refleks patologis. 4. Pemeriksaan penunjang Foto kepala Foto kepala dibuat apabila didapat riwayat kehilangan kesadaran, pernah kraniotomi, pemeriksaan klinik didapat cekungan tengkorak, keluar darah atau cairan palpebra/kedua mata, terdapat korpus alienum dalam luka, dalam keadaan stupor atau koma, terdapat gejala neurologik fokal Fungsi lumbal Pada pasen dengan sk,cairan serebrospinal menunjukkan warnasantokrom. Pada komsio serebri dan hematoma epidural cairan serebrospinal berwarna jernih sedangkan pada kontusio serebri cairan serebrospinal bercampur darah EKG EKG abnormal sering ditemukan segera setelah terjadi trauma dan cendrung membaik setelah terjadi penyembuhan. Angiografi Pemeriksaan ini cukup berbahaya dan hanya dilakukan pada pasen yang mengalami perburukan secara progresif atau adanya tanda fokal seperti hemiparese dengan kecurigaan adanya hematoma. Bila ada kelainan didalam otak akan tampak adanya pergeseran lokasi pembuluh darah. Pemeriksaan ini bermanfaat bila alat OTOT-OTOT Scan tidak ada. Burr holes Tindakan ini digunakan untuk mendiagnosa sekaligus merupakan tindakan operasi pada kasus subdural dan epidural hematoma 2002 digitized by USU digital library 4 Air encephalography Tindakan ini mempunyai resiko yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tindakan angiografi oleh karena dapat menekan otak Computed Tomography Dengan computed tomography dapat diketahui adanya kerusakan otak. Dengan alat ini dpat ditentukan adanya kerusakan di dalam maupun di luar otak Ultrasonography Pada umumnya ultrasonography digunakan pada bayi dengan trauma intrakranial serta untuk mengikuti perjalanan dari suatu khronik subdural hematoma PENGOBATAN Tujuan pengobatan adalah untuk menciptakan keadaan yang optimal serta mencegah komplikasi> 1. Pernapasan Pada pasen cedera kepala dengan kesadaran menurun tidak dapat dipertahankan jalan napas adekuat. Mulut dan farings dapat tersumbat oleh sekresi sisa muntah dan bekuan darah. Lesi di batang otak dapat pula mengganggu pusat pernapasan sehingga pernapasan menjadi tidak adekuat. Oleh karena itu menjaga jalan napas serta ventilasi yang efektif sangat penting pada pasen dengan cedera kepala. 2. Mempertahankan perfusi otak Tekanan perfusi otak dipengaruhi oleh tekanan darah arterial dan tekanan intrakranial (tekanan perfusi serebral tekanan darah arterial-tekanan intrakranial). Oleh karena itu pada cedera kepala tekanandarah dicegah jangan sampai menurun. Jika terdapat syok dan perdarahan harus segera diatasi. Dan bila didapat tekanan intrakranial yang meningkat harus dicegah. 3. Edema otak Bila terdapat tanda-tanda edema otak, maka harus diberikan obat untuk mengurangi edema otak tersebut. 4. Cairan dan elektrolit Pasen dengan kesadaran menurun atau pasen dengan muntah, pemberian cairan dan elektrolit melalui infus merupakan hal yang penting. Harus diukur input dan output cairan, sebab hidrasi yang berlebihan dapat memperburuk edema. Keadaan dehidrasi harus dikoreksi 5. Nutrisi Pada pasen dengan cedera kepala kebutuhan kalori dapat meningkat karena terdapat keadan katabolik. Bila perlu diberi makanan melalui sonde lambung 6. Pasen yang gelisah Pada pasen yang gelisah dapat diberi obat penenang misalnya haloperidol. Untuk nyeri kepala dapat diberi analgetik. Pemberian sedatif dapat mengganggu penilaian tingkat kesadaran 7. Hiperpireksia Suhu tubuh pasen harus dijaga jangan sampai terjadi hiperpireksia. Biasanya hiperpireksia terjadi segera setelah trauma kemungkinan disebabkan oleh gangguan hipotalamus. 8. Bangkitan kejang Bila terjadi bangkitan kejang dapat diatasi dengan pemberian diazepam intravena dengan dosis 0.3 mg/koagulan BB dengan maksimal 5 mg untuk anak kurang 5 tahun dan 10 mg untuk anak yang lebih besar 2002 digitized by USU digital library 5 9. Operasi Pada sebagian kecil pasen dibutuhkan tindakan operasi, misalnya pada hematoma subdural dan hematoma epidural. PROGNOSA Tengkorak anak masih elastis dan mempunyai kesanggupan untuk mengalami deformasi, maka tengkorak anak dapat mengabsorpsi sebagian energi kekuatan fisik tersebut sehingga dapat memberikan perlindungan pada otak. Prognosis cj pada anak lebih baik dibandingkan orang dewasa. Kelainan yang sering dijumpai adalah: epilepsi post cedera kepala. Angka kejadian epilepsi post cedera kepala kurang dari 5%. Subdural efusi kronik merupakan komplikasi yang sering terjadi disebabkan pengobatan yang tidak adekuat. Apabila ditemukan adanya pembesaran lingkaran kepala secara cepat dan pemeriksaan transiluminasi menunjukkan adanya cairan, maka kemungkinan terdapat subdural efusi. Menurut Evans pada cedera kepala yang berat, 80% akan mengalami perbaikan, 20% menunjukkan gangguan neurologik yang berat dan 10% mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki/meninggal. 2002 digitized by USU digital library 6 DAFTAR PUSTAKA Blaskey J. Head trauma in pediatrics neurologic physical theraphy. 3th ed. London : WB Saunders. 1990, p. 2149-2192 Eisenberg HM. Late complication of head injury, in pediatrics neurosurgery. Grune & Stratton a subsidiary of harcourt Brace Jovanovich, London. 1982, p. 321-331 Evans OB. Manual of child neurology. New York : Churchill Livingstone. 1987, p. 319-327 Gilroy J.; Holliday PL. Trauma in basic neurology. New York : MacMillan. 1982, p. 288-295 Huttenlocher PR. Head injury in Nelson textbook of pediatrics. 13th ed. London : WB Saunders. 1987, p. 1325-1326 Marks CV; Lavy CBD. A practical guide to head injury management. London: WB Sounders, 1992: p. 120-121 McLaurin RL. Head injury in pediatrics neurology. 3th ed. Philadelpia: Harper & Row. 1983, p. 507-548 Menkes JH; Batzdorf U. Postnatal trauma and injuries by physical agents in Menkes JH. Textbook of child neurology. 2nd ed. Philadelpia : Lea & Febiger, 1980, p. 411-435 North B; Reilly P. Raised intracranial pressure, Heinemann medical books. 1990, p. 32-34Raimondi AJ. Hirschauer J. Clinical criteria children’s coma score and outcome scale for decision making in managing head injury infants and toddlers in Raimondi JA. Head injuries in the newborn and infants. New York : Springer Verlag. 1986, p. 141-162 Russel H; Patterson JR. Injury of the head and spine in cecil. Loebs textbook of medicine. 13th ed. London : WB Saunders. 1979, p. 879-885 Selhorst JB. Neurological examination of head injury patients in Becker DP; Gudeman SK, textbook of head injury. London : WB Saunders. 1989, p. 82-100 Ward JD. Pediatrics head injuries: Special consideration in Becker DP, textbook of head injury. London : WB Sounders. 1989, p. 319-349 BOY ANTONI PUTRA BUKITTINGGI 16 juni 2008 STIKes FORT De Kock
kumpulan askep yang paten

Lampiran 4 KUISIONER PENELITIAN Hubungan Karakterisistik Orang Tua Dengan Perilaku Kekerasan pada Anak Usia 10 – 12 tahun di SDN 02 Panampung Kabupaten Agam Tahun 2008 Petunjuk Pengisian Kuisioner 1. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti. 2. Kuisioner terdiri dari tiga bagian. 3. Pada bagian pertama berikan tanda ceklis pada kotak yang disediakan contoh umur 20 – 25 tahun 4. Pada bagian dua beri tanda silang pada salah satu jawaban yang dianggap paling benar. Contoh Berapa rata-rata penghasilan orang tua sebulan ? a. Lebih dari 1 juta (>Rp.1.000.000,-) (2) b. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) c. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) e. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) f. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) b. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) c. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) b. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) c. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) e. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) f. Kurang dari 500 ribu (Rp.1.000.000,-) (2) b. Antara 500 ribu sampai 1juta (Rp.500.000 – 1.000.000,-) (1) c. Kurang dari 500 ribu (

Photo Albums

boy

sstt

Recent Comments
poetri on rokok
poetri on penalitian imunisasi
anjiang_ on diagnosa keperawatan bahan kuliah
anjiang_ on diagnosa keperawatan bahan kuliah
Archives
July 2008
June 2008
Email Me
Friends

Q-nikhe_

Mulan

Dewa19

aBenk

Aya Michelle

achmad

Ferry_

fitrah

syaiful

nanda

Favorite Music
poprock
Powered by Friendster Blogs
Member since 12/2006
Fan Of

DOWN UNDER Band

MTV MusicTelevision

Emo

Twin Method

Ahmad Dhani Prasetyo

REPVBLIK REPVBLIK

I AM SOUND

RevAlinA S Temat

Julia Perez Damien

Jane

Favorite Books
kartun
Categories
askep jiwa
askep kgd
askep yang lain tapi pakai WOC
boy antoni putra askep yang ada web of cautions
KARSINOMA HEPARTKARSINOMA HEPART
Religion
Science
Weblogs
July 2008Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Recently Updated Blogs
Got It Groovin’
Cerita Ku
Home Sweet Home
annie_estrella
june
D77
tHe diaRy of MrZ.bRigHtsiDe
ALYA….NUR KEINDAHAN…
ZoN hAtiKU…
Miss Bratty Kitty
Add as Friend
Favorite Movies
zorro

Juli 23, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.